Dibohongi Ratna Sarumpaet, Prabowo Akui Sentimentil

Capres Prabowo Subianto menyapa pendukungnya seusai mendaftar di depan Kantor KPU Pusat, Jakarta, Jumat (10/8 - 2018). (Antara / Aprillio Akbar)
04 Oktober 2018 16:37 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Prabowo Subianto kembali mengakui kesalahannya dalam merespons isu penganiayaan Ratna Sarumpaet yang akhirnya diketahui hanya cerita bohong. Prabowo mengaku dirinya terlalu mudah tersentuh dan bergegas menanggapi suatu kabar, termasuk cerita yang dibuat oleh Ratna Sarumpaet.

"Saya mungkin termasuk pribadi yang sentimentil. Mudah tersentuh karena sebuah kabar. Cepat tergerak karena riak. Dan kadang-kadang gampang bergegas karena tidak bisa sekedar bersimpati. Dengan sikap seperti itulah saya berbagi empati dengan saudara-saudara yang lain. Setiap kemalangan menimpa salah seorang saudara kita, menimbulkan kegelisahan yang sangat pada diri saya. Tidak ada obat gelisah yang lebih mujarab selain bertemu langsung dan coba memecahkan persoalan yang ada," kata Prabowo dalam akun Facebook Prabowo Subianto yang terverifikasi, Kamis (4/10/2018).

Perasaan seperti itulah, kata Prabowo, yang membuatnya langsung bersikap saat mendengar kabar itu dan mengetahui foto-foto wajah lebam Ratna beredar di media sosial. Saat itu, dia mendapatkan kronologi yang meyakinkan. Apalagi bagi Prabowo, Ratna Sarumpaet adalah sahabatnya.

"Ibu RS adalah seorang sahabat, tokoh inspiratif yang konsisten berdiri memunggungi kekuasaan. Teladan yang sudah dibangunnya jauh sebelum era reformasi. Seorang seniman yang menunjukkan bahwa seni mengabdi pada kemanusiaan bukan pada kekuasaan," tulisnya.

Dari kabar tersebut, Prabowo mengaku terluka dan mendesak penegakan hukum terhadap pelaku "penganiayaan" itu. Hal itulah yang mendorongnya untuk menemui Ratna Sarumpaet di rumahnya. Namun bukannya mendapatkan petunjuk fakta yang benar, cerita Ratna justru memperkuat sinyalemen yang berkembang di medsos.

"Baru belakangan, Ibu RS membuka pengakuan mengejutkan yang sudah kita ketahui semua, bahwa fakta sesungguhnya jauh menyimpang dari cerita sebelumnya," katanya.

Prabowo pun mengaku kesalahannya mempercayai cerita itu. Diakuinya, sikap sentimentilnya bisa membuat seseorang tidak mawas diri.

"Sikap sentimentil yang bersumber dari empati dan peduli sejenak membuat kita lupa untuk mawas diri. Tetapi apa daya, mulut sudah melontarkan kata dan ingatan merangkumnya jadi peristiwa. Riak sehari menjadi gelombang yang menimbulkan kegelisahan di tengah duka yang menimpa bangsa."