Rupiah Anjlok 15.100 per Dolar, IHSG Tambah Lunglai di Awal Dagang

Pengunjung berbincang di depan monitor perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (18/9/2018). - JIBI/Endang Muchtar
04 Oktober 2018 11:40 WIB Renat Sofie Andriani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertambah hingga turun lebih dari 1% pada awal perdagangan hari ini, Kamis (4/10/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melorot 1,17% atau 68,52 poin ke level 5.799,22 pada pukul 09.05 WIB, setelah dibuka turun 0,34% atau 20,14 poin di level 5.847,60.

Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak pada level 5.793,34 – 5.847,60. Adapun pada perdagangan Rabu (3/10), IHSG berakhir turun 0,13% atau 7,88 poin di posisi 5.867,74.

Delapan dari sembilan indeks sektoral IHSG pagi ini bergerak di zona merah dengan tekanan utama sektor aneka industri (-1,74%) dan infrastruktur (-1,71%). Hanya sektor pertanian yang bergerak sendiri di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03%.

Sebanyak 9 saham menguat, 24 saham melemah, dan 571 saham stagnan dari 604 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing turun 1,29% dan 1,54% menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG pada pukul 09.06 WIB.

Vice President Research Department Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan pergerakan IHSG saat ini masih akan diwarnai oleh fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar yang masih belum stabil.

Nilai tukar rupiah terus tertekan hingga melemah 75 poin atau 0,50% ke level Rp15.150 per dolar AS pagi ini, setelah berakhir melemah 32 poin atau 0,21% di posisi 15.075 pada perdagangan Rabu (3/10/2018).

Dilansir dari Bloomberg, rupiah melemah untuk perdagangan hari keempat berturut-turut setelah lonjakan imbal hasil obligasi AS menggerogoti permintaan untuk aset-aset emerging market.

Imbal hasil pada obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun pada level 3,179%, sedangkan imbal hasil obligasi bertenor dua tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Imbal hasil obligasi AS melonjak setelah Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan peningkatan lapangan kerja swasta sebanyak 230.000 pekerjaan pada bulan September, kenaikan terbesar sejak Februari.

Sementara itu, laporan dari Institute for Supply Management menunjukkan aktivitas sektor jasa mencapai level tertinggi dalam 21 tahun terakhir pada bulan September. Kedua data tersebut pun meningkatkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS pada bulan Desember.

“Mata uang emerging-market di Asia akan mengalami sedikit aksi jual menyusul lonjakan pada imbal hasil Treasury, meskipun pelemahannya diperkirakan akan tertahan,” ujar Raymond Lee, seorang pengelola uang di Kapstream Capital, Sydney, seperti dikutip Bloomberg.

Sejalan dengan IHSG, pergerakan indeks Bisnis 27 melorot 1,65% atau 8,46 poin ke level 504,68 pada pukul 09.06 WIB, setelah dibuka turun 0,61% atau 3,13 di posisi 510,01.

Indeks saham lainnya di kawasan Asia Tenggara juga bergerak negatif pagi ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,88%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,33%), dan indeks PSEi Filipina (-0,67%).

Secara keseluruhan, pasar ekuitas dan mata uang di Asia merosot setelah lonjakan pada imbal hasil Treasury AS meresahkan investor tentang valuasi ekuitas seiring dengan prospek pengetatan moneter oleh Federal Reserve AS.

Saham-saham yang melemah pada awal perdagangan:

BBRI

-1,29%

BMRI

-1,54%

ASII

-1,04%

TLKM

-0,83%

Saham-saham yang menguat pada awal perdagangan:

GGRM

+0,55%

INCO

+1,76%

ANTM

+0,62%

EXCL

+0,35%

Sumber: Bloomberg

Sumber : Bisnis.com