Generasi Milenial Cerdas Memilih

Ilustrasi generasi milenial - freepik.com
03 Oktober 2018 19:55 WIB Yoka Pradana Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (24/9/2018). Esai ini karya Yoka Pradana, mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah yokapradana12@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Segmen pemilih muda yang sering disebut sebagai pemilih milenial memiliki posisi strategis dalam kontestasi politik Indonesia saat ini. Hal ini tidak lepas dari jumlah pemilih muda yang sangat banyak sehingga memberikan pengaruh signifikan dalam perolehan suara.

Tidak  mengherankan kalangan ini menjadi incaran politikus dan partai politik untuk mendulang dukungan suara. Belakangan ini terdengar berbagai upaya politikus dan partai politik untuk menggaet segmen pemilih ini.

Munculnya partai politik berbasis kaum muda, klaim sebagai politikus milenial,  serta simbol dan pesan politik spesifik mulai menyasar kalangan milenial adalah bukti bahwa segemen ini mulai diperebutkan.

Meskipun mengalami pertumbuhan jumlah yang tinggi, pemilih muda memiliki dua masalah penting yakni kecenderungan menjadi golongan putih (golput) alias abstain dalam pemungutan suara dan politik ikut-ikutan.

 Abstain ditandai pemilih muda absen dalam proses pemilihan umum, sedangkan politik ikut-ikutan dicirikan dengan pemberian suara yang terkesan hanya ikut-ikutan, bukan representasi pilihan yang sesungguhnya.

Dua kondisi ini merupakan akitivitas kurang sehat dalam demokrasi, bahkan banyak ahli ilmu politik mengkhawatirkan lambat laun akan terjadi difisit demokrasi.

Defisit Demokrasi

Tulisan Henn & Foard, 2012, agaknya bisa menjadi pembelajaran untuk mencegah defisit demokrasi kaum muda. Dalam karya ilmiah yang diterbitkan Parliamentary Affairs tersebut keduanya memberikan ulasan menarik tentang partisipasi politik kalangan muda di Britania Raya.

Artikel itu menjelaskan penelusuran tingkat partisipasi politik pemilih muda di Inggris dari pemilihan umum tahun 2002 hingga tahun 2011. Hasilnya menunjukkan tingkat partisipasi pemilih muda di Inggris terus meningkat. Alasannya karena kalangan muda mulai dilibatkan dalam kebijakan politik.  

Semua pihak di negeri ini bisa belajar dari pengalaman pemilih milenial di Inggris dalam menyikapi maraknya klaim politikus milenial yang belakangan mulai tebar pesona. Keterlibatan kalangan muda dalam setiap kebijakan politik adalah suatu keharusan dan kalangan muda harus sadar akan hal itu.

Jumlah suara yang besar semestinya dapat ”bertukar” dengan kebijakan politik khusus untuk generasi milenial. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemilih milenial harus cerdas dalam menentukan pilihan politik.

Berpijak dari asumsi bahwa proses pemilihan sama dengan pembelian suatu produk, artikel klasik karya Reid, 1988, menjelaskan ide tentang tahapan yang semestinya dilewati oleh pemilih sebelum memutuskan memilih kandidat pemimpin tertentu.

Langkah tersebut terdiri atas problem recognition, search, alternative evaluation, choice, dan outcomes. Tiga tahapan dari proses utuh yang ditawarkan Reid mungkin dapat dipertimbangkan oleh pemilih milenial sebelum memberikan suara dalam pemilihan umum.

Tahapan tersebut meliputi  problem recognition, search, dan alternative evaluation. Tiga proses ini menjadi penting karena ketiganya dilakukan sebelum memilih dan relatif lebih mudah dilakukan.

Proses awal sebelum memilih hendaknya diawali dengan identifikasi masalah  yang terjadi di lingkungan sekitar. Pemilih milenial harus jeli melihat problem sosial yang sedang terjadi secara umum dan mengerucut pada problem kalangan milenial.

Masalah tersebut boleh jadi berawal dari keresahan personal selanjutnya didiskusikan  bersama teman agar keresahan pribadi yang dianggap masalah memang benar adalah masalah bersama yang  krusial sehingga harus diselesaikan melalui proses politik.

Aktif Mencari Informasi

Berangkat dari masalah yang diidentifikasi, tahap selanjutnya adalah pencarian informasi. Kalangan milenial yang identik dengan teknologi komunikasi dan informasi sewajarnya aktif mencari informasi politik, bukan terbius dengan informasi manis bersumber politikus.

Telusurilah program yang ditawarkan dan hubungan dengan track record atau rekam jejak yang selama ini dilakukan politikus atau partai politik. Telusurilah informasi politik sebanyak mungkin dari media yang kredibel, independen, dan berimbang serta jeli mengeliminasi informasi hoaks.

Diskusikan secara interpersonal maupun kelompok, diskusikan dengan orang yang kredibel dan tidak punya kepentingan politik. Perlu pula aktif mengikuti seminar, lokakarya, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan politik.    

Setelah mengumpulkan informasi yang cukup, perlu membandingkan antara kandidat pemimpin yang akan dipilih, layaknya membandingkan satu produk dengan produk lain. Menimbang-nimbang mana yang lebih berkualitas. Mencari mana yang paling baik atau yang keburukannya lebih sedikit sehingga kandidat yang dipilih benar-benar menjadi representasi kalangan milenial.

Pemilihan umum mendatang menjadi momentum penting bagi kalangan milenial untuk lebih cerdas membeli politikus yang dijual di pasar demokrasi. Jumlah kaum milenial yang banyak sepantasnya mendorong politikus dan partai politik menelurkan kebijakan yang selaras dengan kaum milenial.

Tidak penting sosok dan partai politik yang mencitrakan diri milenial kalau programnya tidak solutif bagi kalangan milenial. Kandidat pemimpin atau politikus dan partai politik yang selaras dengan jiwa milenial hanya nilai tambah atau malah jangan-jangan itu hanya klaim. Jika dirasa kebijakan dan tawaran kebijakan selama ini sudah menyentuh kalangan milenial mungkin itulah produk terbaik di pasar demokrasi dalam pemilihan umum mendatang.