Prabowo: Ada Indikasi Ratna Sarumpaet dalam Tekanan Jiwa Berat

Ratna Sarumpaet memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10 - 2018). (Antara / Galih Pradipta)
03 Oktober 2018 22:46 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Prabowo Subianto meminta maaf telah mempercayai cerita yang dikarang oleh Ratna Sarumpaet. Capres nomor urut 2 itu mengaku bersalah karena grusa-grusu dalam merespons pengakuan Ratna yang belakangan diketahui sebagai kebohongan.

Namun, Prabowo menjelaskan apa yang membuatnya terusik dengan isu penganiayaan itu dan cepat percaya. Diakuinya, dia juga tidak menemukan bukti yang meyakinkan cerita penganiayaan terhadap perempuan berusia 70 tahun itu.

"Karena Ibu Ratna adalah pribadi yang saya hormati, saya kenal cukup lama. Beliau terkenal membela orang yang susah, orang tertindas, orang miskin. Karena itu saya sangat hormat pada beliau, bisa dikatakan sayang beliau. Jadi saya memang tidak mengetahui langsung, waktu itu saya mendengar beliau dianiaya saya merasa terusik, saya kahwatir," kata Prabowo dalam jumpa pers di rumahnya di Jakarta yang disiarkan live oleh Kompas TV, Rabu (3/10/2018) malam.

Dengan pengakuan Ratna Sarumpaet bahwa cerita penganiayaan tersebut hanya hoaks, Prabowo mengaku bersyukur tidak terjadi apa-apa. Prabowo mencoba memaklumi situasi itu karena pihak keluarga mengungkapkan ada tekanan psikologis yang dialami oleh Ratna Sarumpaet selama ini.

"Beliau 70 tahun, dan saya dapat berita dari keluarganya, ada beberapa kegiatan yang beliau berada di bawah tekanan, depresi, dan sebagainya. Ada indikasi beliau dalam tekanan jiwa yang berat," kata Prabowo.

Saat ditanya wartawan tentang tekanan kejiwaan apa yang dialami oleh Ratna, Prabowo tidak menjelaskan panjang lebar karena masuk ranah privasi. "Semua orang bisa mengalami, beliau 70 tahun, bisa karena masalah ekonomi macam-macam. Itu privasi beliau," lanjut Prabowo.

"Saya akui saya agak grusa grusu, kita salah kita akui salah."