Rupiah Tembus 15.000/US$, Ini Keyakinan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan materi dalam acara Indonesia Economic Outlook (IEO) 2019 di Jakarta, Senin (24/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
02 Oktober 2018 22:35 WIB Yodie Hardiyan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan penyesuaian yang dilakukan oleh perbankan di Indonesia terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp15.000/dolar AS terjadi cukup baik.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menkeu dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (2/10/2018) seusai mendapatkan pertanyaan dari wartawan mengenai nilai tukar rupiah yang menembus Rp15.000/US$. Sri mengatakan Bank Indonesia dan Kementerian Koordinator Perekonomian terus melihat perkembangan rupiah.

"Di satu sisi, kita akan melihat terus indikator-indikator yang menopang perekonomian kita. Umpamanya, kalau dari sisi perbankan, apakah sektor perbankan kita cukup kuat dan terus akan bisa menyesuaikan dengan kurs 15.000 ini. Kita lihat dari rasio kecukupan modal mereka, dilihat dari nonperforming loan dan landing rate, semuanya sampai dengan Oktober ini. Tampaknya adjustment terhadap angka 15.000 terjadi secara cukup baik," kata Sri Mulyani.

Menkeu menjelaskan level nilai tukar 15.000 ini perlu dilihat secara seksama. Menurutnya, penyesuaian terhadap level normalisasi dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang berdampak terhadap rupiah bisa berjalan cukup baik. Sri mengatakan pemerintah berharap penyesuaian ini bisa muncul dengan indikator-indikator perekonomian yang bisa dijaga dengan baik.

"Kita juga melihat dari sektor riil, pertumbuhan ekonomi kita hingga kuartal III diperkirakan cukup tinggi. Kemarin inflasi mengalami penurunan, deflasi, dan growth dikontribusikan dari sektor konsumsi, investasi dan pada degree tertentu adalah ekspor dan belanja pemerintah yang saya sampaikan tumbuh 8% bisa memberikan kontribusi yang bagus," tegasnya.

Sri Mulyani menyatakan Kementerian Keuangan akan berusaha menjaga perekonomian dengan menggunakan instrumen yang ada. Instrumen tersebut, menurutnya, adalah APBN untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan stabilitas, dan melindungi kelompok masyarakat yang paling rawan.