Raja Salman Telepon Presiden Jokowi Tawarkan Bantuan

Presiden Joko Widodo mengunjungi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9 - 2018). (Antara/Biropers)
02 Oktober 2018 12:30 WIB Septina Arifiani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan dua hari lalu dirinya telepon Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud terkait bencana gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (28/9/2018).

“Beliau menyampaikan belasungkawa atas bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah sekaligus menawarkan bantuan bilamana Indonesia membutuhkan,” tulis Presiden Jokowi dalam akun Facebooknya sebagaimana dikutip Setkab.go.id, Selasa (2/10/2018).

Menurut Kepala Negara, ucapan duka cita, tawaran bantuan yang langsung atau tak langsung, juga mengalir dari seluruh belahan dunia.

Ia memerinci ucapan duka cita dan tawaran bantuan datang di antaranya dari Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan Presiden Singapura Halimah Yacob, Presiden Uni Emirat Arab Khalifa bin Zayed Al Nahyan, Sekjen PBB Antonio Guterres, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, Perdana Menteri India Narendra Modi, sampai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Dan lain-lain yang tak sempat saya sampaikan satu per satu,” tukasnya.

Ungkapan belasungkawa dan tawaran bantuan dari para sahabat itu, dinilai Presiden Jokowi sungguh membesarkan hati kita.

“Itu juga memberi pesan kuat bahwa kita tidak sendirian menghadapi masa-masa sulit ini,” tulis Presiden Jokowi.

Sebelumnya Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengemukakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk menerima bantuan dari luar negeri terkait penanganan bencana gempabumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Wiranto mencatat sudah ada 18 negara yang menawarkan bantuan untuk membantu penanganan bencana di Palu, antara lain dari Amerika Serikat, Prancis, Ceko, Swiss, Norwegia, Hungaria, Turki, Uni Eropa, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Qatar, New Zealand, Singapura, Thailand, Jepang, India dan China.

“Juga termasuk UNDP dan kelompok organisasi internasional ASEAN sendiri juga sudah menawarkan,” kata Wiranto di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Menurut Menko Polhukam, ada beberapa alasan mengenai keputusan menerima bantuan dari luar negeri tersebut. Salah satunya adalah karena Indonesia sudah menjalin hubungan persahabatan dan kerja sama dengan banyak negara.