Dapat Gelar Laksamana Muda, Neno Warisman Disebut Tak Pantas

Wakil ketua tim pemenang calon presiden pasangan no urut 02 Prabowo Subianto- Sandiaga Salahudin Uno, Neno Warisman menyampaikan orasi politik saat menghadiri silaturahmi dan deklarasi pemenangan pilpres di Banda Aceh, Minggu (30/9 - 2018). (Antara/Ampelsa)
02 Oktober 2018 11:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, ACEH JAYA – Neno Warisman mendapat gelar kehormatan Laksamana Muda oleh pewaris Kerajaan Po Teumeurhom, Aceh Jaya, Tuanku Raja Saifullah Alalidin Riayat Syah.

Gelar kehormatan tersebut diberikan kepada Neno Warisman pada acara silaturahmi dan Deklarasi 2019 Ganti Presiden di Gedung Hj. Yusran Lampeuneurut, Aceh Besar, Provinsi Aceh, Minggu (30/9/2018).

"Sosok Bunda Neno Warisman selama ini terlihat lantang mengkritik ketidakadilan di negeri ini dan gelar Laksamana Muda patut disandang Bunda (Neno Warisman)," kata Tuanku Raja Saifullah Alalidin Riayat Syiah seusai memberikan anugerah tersebut, sebagaiman dilansir Antara.

Saat pemberian anugerah Laksamana Muda itu Neno Warisman dipakaikan selendang warna tembaga dan diberikan rencong khas Aceh.

Dalam orasinya, Neno Warisman mengatakan kebenaran dan keadilan sudah ditanamkan dalam diri oleh orang tuanya sejak dahulu dan sekarang ketidakadilan harus terus disuarakan demi kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Saya bersama rakyat yang selama ini tidak mendapatkan keadilan dan saya di sini ingin menyuarakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Warisman.

Jika kebenaran telah datang, kata Neno Warisman, kebatilan mati lenyap. Hal itu sudah pasti janji Allah SWT.

Terkait pemberian Laksamana Muda yang diberikan Neno Warisman, tokoh muda Aceh Thamren Ananda mengkritiknya. Menurutnya, gelar tersebut tidak pantas diberikan kepada tim kampanye capres dan cawapres.

"Pemberian gelar untuk pejuang Aceh itu tidak pantas diberikan kepada (tim) kampanye peserta pemilu capres dan cawapres, karena mencederai nilai-nilai sejarah perjuangan masyarakat Aceh," kata Thamren Ananda seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima Antara, Selasa (2/10/2018).

Menurut Thamren, pemberian gelar Laksamana Muda Cut Nyak Dien kepada Neno Warisman telah mengoyak sejarah masyarakat Aceh. Thamrin memberikan sejumlah penjelasan untuk memperkuat argumentasinya yang mempersoalkan pemberian gelar untuk Neno Warisman.

Pertama, mekanisme pemberian gelar di Aceh kepada seseorang sudah diatur melalui lembaga Wali Nanggroe dan yang berhak memberikan gelar juga Wali Nanggroe. Kedua, untuk memberikan gelar kepada seseorang harus melalui proses yang panjang, terutama meneliti rekam jejak penerimanya.

"Si penerima gelar harus memiliki attitude, rekam jejak, serta kontribusi yang nyata terhadap pembangunan masyarakat Aceh," katanya.

Karena itu, Thamren mempertanyakan motivasi di balik pemberian gelar untuk Neno Warisman, karena penerimanya dinilai tidak memenuhi kedua syarat tersebut.

Thamren juga menyarankan panitia pemberi gelar tersebut segera mencabut gelar untuk Neno, sekaligus meminta maaf kepada masyarakat di Bumi Serambi Mekah itu.  "Pemberian gelar itu merupakan tindakan ceroboh yang hanya didasari motif memburu kekuasaan," katanya.

Sumber : Antara