SBY Puji Jokowi Hadapi Gempa Sulteng, Timses: Contoh Oposisi yang Baik

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni (tengah) menjawab pertanyaan wartawan usai mendatangi Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta, Rabu (16/5). Kedatangan Sekjen PSI tersebut untuk menyerahkan data tambahan setelah Bawaslu menduga PSI melakukan kampanye diluar jadwal karena memasang iklan jajak pendapat cawapres dan calon menteri untuk kabinet Presiden Joko Widodo periode kedua pada harian Jawa Pos, pada 23 April 2018. - Antara
02 Oktober 2018 07:30 WIB Samdysara Saragih Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Koalisi Indonesia Kerja mengapresiasi pujian Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyikapi korban gempa dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Raja Juli Antoni, menilai pujian SBY tersebut sudah tepat di kala warga Palu, Donggala, dan sekitarnya mengalami musibah. Menurutnya, bencana semestinya dapat menghentikan sementara kompetisi politik Pemilu 2019.

“Kami apresiasi pujian Pak SBY. Ini contoh oposisi yang baik, tidak asal bunyi menyalahkan pemerintah tanpa data,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/10/2018).

Dalam video yang dibagikan di media sosialnya, SBY mengapresiasi langkah Jokowi mengunjungi Palu pada Sabtu (29/9/2018) atau sehari setelah musibah gempa bumi dan tsunami menerjang. Menurut SBY, kunjungan ke lokasi bencana memungkinkan Jokowi mengambil keputusan dengan tepat.

“Sehingga operasi tanggap darurat akan berjalan dengan cepat dan efektif,” ujarnya.

Presiden RI periode 2004-2014 ini juga mengajak para peserta Pemilu 2019 untuk meninggalkan sejenak kampanye politik, terutama di Sulawesi Tengah. Dia mengenang pengalaman menyikapi bencana bobolnya Situ Gintung kala kampanye Pemilu Legislatif 2009.

Ketika itu, kata SBY, dirinya dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sama-sama mengunjungi lokasi. Padahal, kedua tokoh tersebut digadang-gadang tidak lagi bersama dalam Pilpres 2009 dan mempunyai kepentingan dengan partai masing-masing.