Petualangan

Hanputro Widyono - Istimewa
01 Oktober 2018 21:23 WIB Hanputro Widyono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (28/9/2018). Esai ini karya Hanputro Widyono, anggota Karang Taruna Bitaris, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah hanputrowidyono@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Petualangan pernah identik dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965. Di majalah dwimingguan Suara Muhammadiyah edisi 7-8 Tahun ke-37, Oktober/November 1965, redaksi memberi kata pengantar yang dicetak dengan tinta biru.

Sekali lagi dalam nomor ini pembatja kami persilahkan mengikuti artikel jang berhubungan dengan G 30 S, jaitu beberapa tjatatannja dan sedikit tindjauan dalam rangka penumpasan petualangan itu.

Suara Muhammadiyah edisi ini bergambar sampul tampak samping wajah Bung Karno, sebuah nomor istimewa sebab terbit lebih tebal untuk memperingati ulang tahun ke-35 Muhammadiyah, Sumpah Pemuda, dan Hari Pahlawan.

Pengantar di majalah tersebut menjelaskan bahwa Suara Muhammadiyah, yang sebelumnya juga telah menyajikan artikel tentang G 30 S, menyebut peristiwa tersebut sebagai ”petualangan”.

Tanpa menggubris keterangan ”nomor istimewa” Majalah Suara Muhammadiyah, kita boleh meragukan pilihan istilah ”petualangan” untuk G 30 S. Hari-hari setelah peristiwa nahas tersebut, Indonesia diliputi kabar-kabar hoaks, tak jelas sumber dan kebenaran faktanya.

Membingungkan

Kekalutan situasi Indonesia, khususnya di Jakarta, membuat orang awam dahaga kabar-kabar terbaru. Empat pengumuman resmi yang disuarakan G 30 S lewat Radio Republik Indonesia pada 1 Oktober 1965 juga membingungkan pendengar.

Pada pengumuman pertama, G 30 S menyatakan setia dan ingin melindungi Bung Karno dari aksi pamer kekuatan Dewan Jenderal yang rencananya akan dilangsungkan pada 5 Oktober 1965.

Pada pengumuman kedua, mereka justru menjatuhkan Bung Karno dan merebut kekuasaan dari Sang Panglima Besar Revolusi. G 30 S jelas tidak konsisten. Gerakan yang dipimpin Letnan Kolonel Untung tersebut juga tidak memiliki cita-cita yang jelas (John Roosa, 2008).

Rakyat kebingungan di tengah situasi yang mencekam dan tak pasti. Lebih sialnya, kabar yang disuguhkan media cetak sering kalah cepat dengan peredaran cerita-cerita tentang G 30 S yang beredar dari mulut ke mulut. Kabar semakin tak keruan benar atau salahnya akibat bumbu-bumbu tambahan dari si juru cerita (Minggu Pagi, 10-17 Oktober 1965).

Yang penting kabar dramatis dan bombastis, jaminan orang merasa senang. Tak mengherankan kabar pembunuhan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya pun bisa disusupi kabar bohong tentang penyiksaan dan mutilasi.

Sebagai sebuah petualangan, G 30 S terasa begitu kejam dan tidak manusiawi. Satu bukti tak cukup untuk menyusun kesimpulan G 30 S adalah sebuah petualangan. Mending kita beralih ke majalah lain.

Media-media tentu memberi perhatian khusus melalui pemberitaan sebab dalam peristiwa 1 Oktober 1965 itu G 30 S telah menewaskan 12 orang yang sebagian besar korban merupakan pejabat penting di Angkatan Darat.

Di Majalah Intisari edisi November 1965, kita bisa menemukan pernyataan syukur dan duka cita setelah G 30 S. Pernyataan berada di halaman terpisah. Seluruh karyawan Intisari bersyukur atas keselamatan Bung Karno dan A.H. Nasution.

Ucapan duka cita disebabkan gugurnya Pahlawan Revolusi Achmad Yani, Soeprapto, M.T. Harjono, S. Parman, D.I. Pandjaitan, Soetojo, Pierre Tendean, Katamso, Soegijono, Karel Sasuit Tubun, dan Ade Irma Suryani.

Satu orang yang tidak tertulis namanya dalam pernyataan duka cita di Majalah Intisari adalah kemenakan D.I. Pandjaitan yang berumur 24 tahun (Roosa, 2008). Kalimat penting yang kita cari ada di halaman editorial yang berjudul Hari Pahlawan.

Redaksi Intisari menulis: Hari Pahlawan jang djatuh pada tgl. 10 Nopember tahun ini mempunjai arti istimewa. Dengan gugurnja para Pahlawan Revolusi akibat petualangan G 30 S, maka makna Pahlawan bagi kita semua mendjadi lebih hidup dan kongkrit.

Ternyata Majalah Intisari juga memakai istilah ”petualangan” untuk mendefinisikan kejadian pada 1 Oktober 1965 dini hari itu. Kesimpulan semakin kuat kala kita membuka Majalah Liberty edisi November 1965.

Dalam artikel yang berjudul Tjorak Baru, majalah yang dipimpin Goh Tjing Hok itu menyatakan: Gerakan petualangan kontra revolusioner ”Gestapu” telah menimbulkan perobahan2 jang hebat dibanjak lapangan. Misalnja dilapangan dunia kepartaian kita, dan djuga dibidang keamanan. Dan, lebih landjut, pun menimbulkan tjorak2 atau gambaran2 baru dari type manusia.

Era Kiwari

Tiga majalah sepakat menggunakan istilah ”petualangan” untuk menyebut, mendefinisikan, dan menggantikan peristiwa G 30 S. Kiranya cukup kita menelaah dengan sumber tiga majalah itu.

Saya berusaha melacak makna ”petualangan” di kamus sezaman. Kamus Umum Bahasa Indonesia cetakan keempat garapan W.J.S. Poerwadarminta saya rasa tepat sebagai acuan sebab terbit pada 1966.

Di halaman 412 jilid kedua, saya menemukan sublema ”pertualangan” di bawah lema ”tualang”. ”Pertualangan” itu sama dengan ”petualangan”. Poerwadarminta menjelaskan ”pertualangan” adalah perbuatan (hal dan sebagainya) tualang; perbuatan menekat (menyeleweng).

Saya agak terkejut, kamus mendefinisikan petualangan sebagai tindakan buruk, padahal di serial televisi hari ini kita mendapati banyak tayangan mengenakan istilah ”petualang” atau ”petualangan” dalam judul acara.

Ada acara Bocah Petualang, Petualangan Si Unyil, Jejak Petualang, Para Petualang Cantik, Petualangan Panji, dan lain sebagainya. Di jagat perfilman pun sebagian dari kita pasti pernah menonton film anak termasyhur garapan Riri Riza, Petualangan Sherina.

Yang terbaru, kita disuguhi film Petualangan Menangkap Petir besutan Agus Nugroho. Meski begitu, kita tak boleh menuduh suguhan serial televisi dan film pengguna istilah ”petualangan” dalam judul bermaksud menjadikan penonton orang-orang yang menyeleweng dari tata perilaku masyarakat, hukum, maupun Pancasila.

Zaman sudah berubah. Serial-serial di televisi dan film-film mutakhir seakan-anak bersepakat memaknai ”petualangan” sebagai peristiwa yang seru, menantang, memacu adrenalin, dan diidam-idamkan banyak orang.

Petualangan dikaitkan erat dengan perjalanan wisata, mendaki gunung, mengarungi lautan, menyusuri sungai atau gua. Para petualang biasanya orang-orang yang bersahabat dengan alam. Saat bertualang, mereka tak bakal merusak tempat-tempat yang didatangi.

Hal terkecil yang bisa terlihat adalah tidak membuang sampah sembarangan. Kita pun hanya bisa manggut-manggut. Pemakaian istilah ”petualangan” pada akhir tahun 1965 memang sangat berbeda dengan pemahaman generasi kiwari yang suka berteriak: mak crit, mak plekenture.