Likuifaksi Timbun Banyak Korban, Tanah di Palu Sulit Dihuni Lagi?

Kondisi jembatan kuning yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9 - 2018). (Antara/Muhammad Adimaja)
01 Oktober 2018 16:01 WIB Adib Muttaqin Asfar/ Suara.com Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Fenomena geologi berupa pencairan tanah atau likuifaksi yang terjadi saat gempa di Palu, Donggala, dan Sigi, menyebabkan pergerakan tanah dan hancurnya bangunan di atasnya. Likuifaksi inilah yang membuat tanah kehilangan kekuatan sehingga ambles dan menelan banyak nyawa.

Pada Senin (1/10/2018) dinihari, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kembali mengunggah sebuah video yang menunjukkan proses likuifaksi yang sangat mengerikan di Palu. Dia memprediksi banyak korban yang terjebak di daerah yang mengalami likuifaksi.

"Detik-detik saat rumah-rumah bergerak dan roboh disebabkan proses likuifaksi dan amblesan akibat gempa 7,4 SR di Kota Palu. Permukaan tanah bergerak dan ambles sehingga semua bangunan hancur. Proses geologi yang sangat mengerikan. Diperkirakan korban terjebak di daerah ini," kata Sutopo menyertai video yang dia unggah di akun Twitter @Sutopo_PN.

Karena ada pengangkatan dan penurunan tanah akibat gempa Palu, banyak rumah yang hancur karena ambles atau sebaliknya terangkat. Dengan demikian evakuasi korban, kata Sutopo, memang sulit dilakukan karena banyak rumah yang ambles tertimbun tanah.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adrin Tohari, tanah yang mengalami likuifaksi ini tidak bisa lagi menjadi tempat hunian. "Saya kira tidak bisa lagi [tanah likuefaksi] kalau untuk dijadikan hunian, karena kondisinya cukup parah dan tanahnya hancur," kata Adrin saat dihubungi Suara.com, Senin (1/10/2018).

Tidak itu saja, ia menyebut, tanah yang sudah terkena likuefaksi juga berbahaya jika dijadikan hunian kembali. Sebab, tanah tersebut sangat rentan terlebih jika terjadi gempa gempa berkekuatan besar di lokasi yang sama ke depannya. "Karena kalau sudah likuefaksi tanahnya kan debur yah, tidak padat lagi," ujarnya.

Adrin menerangkan, proses likuefaksi merupakan sebuah fenomena alamiah akibat adanya kejadian gempa di sebuah kawasan. Hal yang sama juga ditemukan saat gempa di Yogyakarta dan Padang, Sumatra Barat, beberapa tahun lalu.

Dilansir Wikipedia, likuifaksi tanah (soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh yang kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Tegangan ini biasanya berasal dari gempa bumi yang menggetarkan tanah atau perubahan lain yang secara tiba-tiba dalam kondisi menegang. Akibatnya, tanah tersebut menjadi seperti cairan atau air berat.

Istilah tanah "mencair" ini dalam mekanika tanah kali pertama digunakan oleh Allen Hazen mengacu pada kegagalan Bendungan Calaveras di California tahun 1918. Ia menjelaskan mekanisme aliran pencairan tanggul sebagai berikut:

"Jika tekanan air dalam pori-pori cukup besar untuk membawa semua beban, tekanan itu akan berefek membawa partikel-partikel menjauh dan menghasilkan suatu kondisi yang secara praktis seperti pasir hisap... pergerakan awal beberapa bagian material dapat menghasilkan tekanan yang terus bertambah, mulanya pada satu titik, kemudian pada titik lainnya, secara berurutan, menjadi titik-titik konsentrasi awal yang mencair," tulisnya.

Fenomena ini dapat terjadi saat tanah mendapatkan beban dalam waktu singkat dan sangat besar atau berulang seperti gempa bumi atau badai. Air dalam tanah tidak mengalir dan membuat butiran tanah saling bersentuhan satu sama lain. Hal ini yang membuat struktur tanah hilang dan tak punya kekuatan. Hal ini membuat tanah terlihat seperti mengalir atau menyerupai cairan.

Twitter/@Sutopo_BN