Korban Gempa dan Tsunami Donggala-Palu Butuh Makanan

Sejumlah pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan. - Antara
01 Oktober 2018 12:00 WIB Yusran Yunus Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Situasi darurat masih dirasakan oleh warga Palu pascagempa 7,4 Skala Richter yang disusul oleh gelombang tsunami setinggi 0,5 hingga 3 meter pada Jumat petang pekan lalu.

Warga Palu yang terdampak langsung oleh gempa dan tsunami, kini masih berada di tempat-tempat pengungsian se-Kota Palu. Sambil menunggu bantuan dari pemerintah. Terutama pasokan makanan dan minuman, listrik dan bahan bakar minyak (BBM), yang saat ini pasokannya praktis lumpuh total.

"Kami tidak bisa mendapatkan BBM untuk menjalankan kendaraan guna melakukan evakuasi keluarga dan warga lainnya," kata Ramlan, warga Palu yang dihubungi Bisnis.com, Senin (1/10/2018).

Murtalib Rasul, pemimpin redaksi sebuah koran lokal di Palu dalam pesan via Whatsapp yang diterima Bisnis menulis, saat ini yang mendesak diperlukan pengungsi adalah kebutuhan makanan, tenda, listrik, dan jaringan telekomunikasi.

"Memasuki hari keempat setelah bencana, yakni Senin hari ini, belum ada media lokal yang terbit di Palu. Semoga cepat ada perbaikan sarana dan prasarana umum. Saya juga berdoa, semoga tidak ada gempa susulan," katanya.

Sejauh ini berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 September 2018, korban meninggal sudah mencapai 830-an jiwa.

Korban meninggal tersebut belum termasuk dengan data korban yang berlokasi di Kabupaten Donggala. Dengan kenyataan masih banyaknya warga yang hilang, diperkirakan jumlah korban meninggal bisa melebihi 1.000-an orang.

Warga Palu masih terus melakukan upaya pencarian terhadap sanak keluarga mereka yang belum ditemukan pasca gempa besar 7,4 SR dan tsunami pada Jumat petang tersebut.

Jumlah korban meninggal, terbanyak diantaranya ditemukan di wilayah Perumnas Balaroa Kecamatan Palu Barat, Poboya Kecamatan Palu Timur, Pantai Talise Palu Timur.

"Beberapa anggota keluarga kami belum ditemukan, terus berusaha melakukan pencarian," kata Andika Maladjong, warga Kecamatan Palu Barat.

Berdasarkan kesaksian sejumlah warga, paparnya, kejadian saat itu sangat mencekam dan warga panik, berusaha mencari tempat perlindungan yang aman. Tanah bergoyang kencang, rumah-rumah bergeser. Tak lama kemudian rumah hancur berantakan, rata dengan permukaan tanah.

Salah satu keluarga Andika bernama Wahyu, saat itu berada di sekitar Pantai Talise, berhasil memboyong istri dan anaknya ke wilayah ketinggian di Kelurahan Silae Palu Barat. Setelah itu dia berbalik dan tak lama kemudian datang gelombang tsunami.

Sampai kini Wahyu dan beberapa warga Palu lainnya masih belum ditemukan.