Puluhan Orang Terjebak Reruntuhan Gempa Palu, Tim SAR Berpacu dengan Waktu

Foto udara kondisi kota Palu pascagempa dengan magnitudo 7,4 SR, Sabtu (29/9). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah korban yang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang terjadi Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9), telah bertambah menjadi 384 orang, sementara jumlah korban yang terluka hingga 540 orang. - Antara
30 September 2018 22:00 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Tim SAR berburu dengan waktu untuk menyelamatkan korban gempa di Kabupaten Donggala dan Kota Palu. Sementara itu, berbagai kendala memperlambat proses penyelamatan korban.

Setidaknya 832 orang dilaporkan meninggal akibat gempa bumi yang diikuti oleh tsunami di wilayah Palu dan daerah lainnya di Provinsi Sulawesi Tengah.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah korban terbanyak berada di Palu, yaitu 821 orang. Sedangkan korban tewas di Donggala mencapai 11 orang.

Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah. Menurut Sutopo, di Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong listrik padam sehingga komunikasi tidak intensif.

Dia mengaku sulit untuk memprdiksi dampak gempa dan tsunami dan bagaimana penanganan atas padamnya listrik.  Sutopo mengatakan korban yang diduga tertimbun reruntuhan masih banyak. "Banyak daerah yang belum terjangkau," kata Sutopo, Minggu (30/9/2018). 

Disebutkan Sutopo, aksi pencarian dan penyelamatan korban oleh Badan SAR Nasional difokuskan di Hotel Roa-Roa Palu.

"Hotel itu rata dengan tanah, Diperkirakan 50 sampai 60 orang tertimbun. Operasi SAR tidak mudah dan banyak kendala termasuk listrik padam, komunikasi terbatas, dan alat berat terbatas," katanya.

Dia mengatakan telah mengarahkan alat berat yang ada di Palu, namun jumlahnya tidak mencukupi dibanding kerusakan yang ada di sana. Sedangkan kalau mengirim alat berat dari luar kota Palu, terkendala akses jalan. Kepala Basarnas M. Syaugi mengakui minimnya alat berat membuat upaya pencarian dan penyelamatan sangat terkendala.

"Kita berpacu dengan waktu. Waktunya sangat terbatas. Kalau ada korban selamat, mereka pasti sangat lemah. Saya panggil enggak ada suara. Saya enggak ada pilihan kecuali alat berat didatangkan," ujarnya.

Kebutuhan mendesak bagi korban gempa di Palu dan sekitarnya saat ini adalah bahan bakar minyak. Presiden Joko Widodo saat tiba di Kota Palu langsung memimpin rapat terbatas (ratas) dengan sejumlah jajarannya terkait bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah.

Setelah ratas, Presiden meminta kepada prajurit TNI untuk membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Sulawesi Tengah.