Tentang Likuifaksi, Penyebab Gerakan Tanah yang Viral Saat Gempa Palu

Tanah bergerak seperti gelombang saat gempa di Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9 - 2018). (Twitter)
30 September 2018 18:44 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Pergerakan tanah seperti gelombang yang terjadi pascagempa Palu dan Donggala, Jumat (30/9/2018), seperti terlihat dalam video yang viral menjadi fenomena mengejutkan bagi khalayak. Fenomena ini disebut sebagai likuifaksi atau pencairan tanah dan beberapa kali muncul pascagempa besar.

Identifikasi fenomena pascagempa Palu, Donggala, dan Sigi, ini kali pertama diungkapkan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. Hal itu menanggapi video viral pergerakan tanah yang menyebabkan bangunan berjalan dan hancur. Video itu berasal dari Kabupaten Sigi.

"Munculnya lumpur dari permukaan tanah yang menyebabkan amblasnya bangunan dan pohon di Kabupaten Sigi dekat perbatasan Palu akibat gempa 7,4 SR adalah fenomena likuifaksi [liquefaction] Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan," kicau Sutopo di akun Twitter @Sutopo_PN, Minggu (30/9/2018).

Apakah likuifaksi itu? Dilansir Wikipedia, likuifaksi tanah (soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh yang kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Tegangan ini biasanya berasal dari gempa bumi yang menggetarkan tanah atau perubahan lain yang secara tiba-tiba dalam kondisi menegang. Akibatnya, tanah tersebut menjadi seperti cairan atau air berat.

Istilah tanah "mencair" ini dalam mekanika tanah kali pertama digunakan oleh Allen Hazen mengacu pada kegagalan Bendungan Calaveras di California tahun 1918. Ia menjelaskan mekanisme aliran pencairan tanggul sebagai berikut:

"Jika tekanan air dalam pori-pori cukup besar untuk membawa semua beban, tekanan itu akan berefek membawa partikel-partikel menjauh dan menghasilkan suatu kondisi yang secara praktis seperti pasir hisap... pergerakan awal beberapa bagian material dapat menghasilkan tekanan yang terus bertambah, mulanya pada satu titik, kemudian pada titik lainnya, secara berurutan, menjadi titik-titik konsentrasi awal yang mencair," tulisnya.

Fenomena ini dapat terjadi saat tanah mendapatkan beban dalam waktu singkat dan sangat besar atau berulang seperti gempa bumi atau badai. Air dalam tanah tidak mengalir dan membuat butiran tanah saling bersentuhan satu sama lain. Hal ini yang membuat struktur tanah hilang dan tak punya kekuatan. Hal ini membuat tanah terlihat seperti mengalir atau menyerupai cairan.

Efek seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sebelum gempa di Palu-Donggala, fenomena serupa mulai diperhatikan setelah gempa Niigata pada 1964 dan gempa Kobe pada 1995. Pencairan tanah kembali terjadi setelah gempa Canterbury, Selandia Baru, 2010, yang menimpa perumahan di sekitar Christchurch.