BMKG: Ada 201 Kali Gempa Susulan Pascagempa 7,4 SR di Donggala

Tim SAR menyelamatkan warga yang tertimbun reruntuhan di Perumnas Bala Roa, Palu, Minggu (30/9 - 2018). (Antara/Darwin Fatir)
30 September 2018 12:45 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, PALU - BMKG menyatakan bahwa pascagempa bumi dengan magnitudo 7,4 Skala Richter (SR) yang mengguncang Donggala Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (28/9/2018) petang hingga Minggu pagi telah terjadi 201 kali gempa susulan.

Informasi dari Humas BMKG yang diterima di Jakarta, Minggu (30/9/2018), gempa susulan tersebut tercatat hingga pukul 10.00 WIB. Sementara itu, cuaca di Donggala tercatat cerah berawan pada Minggu pagi dan berawan pada siang, malam hingga dini hari dengan suhu udara 24 sampai dengan (s.d.) 35 derajat Celcius dan kelembaban 50 s.d. 90 persen.

Begitu pula dengan cuaca di Palu pada Minggu pagi tercatat cerah berawan dan berawan pada siang, malam hingga dini hari dengan suhu udara mencapai 24 s.d. 33 derajat Celcius dan kelembaban 50 s.d. 85 persen. Terdata hingga Sabtu (29/9/2018) malam jumlah korban meninggal dunia mencapai 420 orang.

Tim gabungan Basarnas Makassar, Sulsel, dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), telah bergerak untuk membantu melaksanakan misi penyelamatan dan pemulihan pascagempa bumi di Kabupaten Donggala dan Kota Palu, Sulteng.

Berdasarkan pantauan Antara dalam perjalanan di lokasi gempa dari Kabupaten Donggala menuju Kota Palu terlihat bangunan rumah dan jalan rusak parah karena gempa dan disapu tsunami. Beberapa kendaraan roda empat ikut rusak tertimpa reruntuhan bangunan dan tanah longsor.

Sementara di wilayah Kota Palu tampak warga memadati lapangan dan ruang terbuka untuk beristirahat untuk menghindar dari terjadinya gempa susulan. Suasana ibu kota Provinsi Sulteng itu sangat sepi dan lumpuh dari aktivitas yang biasanya terlihat riuh.

Toko-toko pun tutup untuk menghindari hal yang tidak diiginkan. Dampak gempa tersebut juga terasa pada sektor perekonomian, terlihat warga antri membeli minyak tanah pada mobil tangki BBM, sementara gas elpiji sangat langka di pasaran.

Begitu juga kondisi jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi tidak berfungsi dengan baik. Sejauh ini kondisi di Kota Palu masih kondusif, kendati masyarakat enggan masuk ke rumahnya dan memilih istrahat atau tidur di luar rumah pada lokasi terbuka seperti di lapangan dan pinggir jalan karena masih trauma dan masih terjadi getaran gempa susulan.

Sumber : Antara