Cintailah Klub dengan Sederhana

Ichsan Kholif Rahman - Istimewa
28 September 2018 21:46 WIB Ichsan Kholif Rahman Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (28/9/2018). Esai ini karya Ichsan Kholif Rahman, jurnalis Harian Solopos.

Solopos.com, SOLO -- Sepak bola di Indonesia bukan hal lugu, yakni ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai lantas usai pula semua hal terkait pertandingan itu. Permainan kedua tim memang usai, namun sepak bola tak sebatas ruang stadion atau lapangan.

Sepak bola menghidupi masyarakat, pedagang asongan, penjual atribut sepak bola, hingga calo tiket. Obrolan mengenai permainan apik klub kesayangan hingga diskusi menyoal karut marut pengelolaan sepak bola tersaji di pojok-pojok kampung.

Seolah-olah obrolan soal sepak bola tidak akan habis dalam secangkir kopi, bahkan dalam semalam. Sepak bola begitu hidup di masyarakat Indonesia, baik yang secara langsung hidup di dalamnya atau sekadar tahu.

Beberapa tahun terakhir dunia sepak bola Indonesia, khususnya dunia suporter, dibanjiri dengan paham kultur Barat. Ada yang menganut kultur Barra Brava ala Amerika Latin, Casual ala Inggris, hingga Ultras ala Italia. Masuknya kultur Barat dipengaruhi peran besar media.

Pengaruh Aneka Media

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan beberapa waktu lalu berjudul Hiperrealitas Persis Fans B6 di Kota Solo, para anggota Persis Fans B6 yang kini akrab dengan sebutan Surakartans terpengaruh berbagai media seperti Youtube, film, artikel, hingga buku-buku bacaan yang menyangkut kultur Casual.

Sangat kentara ketika Surakartans benar-benar menerapkan apa yang mereka dapat dari berbagai media, termasuk media massa, seperti penggunaan chant atau nyanyian dengan bahasa Inggris, pakaian dengan merek tertentu, hingga perilaku hooliganisme.

Hooligan di Inggris bermakna para suporter yang melakukan tindakan anarkistis namun di Indonesia dapat dipahami sebagai bentuk artikulasi identitas kedirian di kalangan suporter sepak bola agar terlihat loyal dan ditakuti lawan (Junaedi, 2012).

Apa yang mereka dapatkan dari media,  itulah yang akan diterapkan. Termasuk kode etik dalam berkelahi hingga kini muncul istilah open fight dalam dunia suporter Indonesia. Open fight mulai familier di Indonesia sejak munculnya film Green Street Hooligans III  yang dirilis pada 2013.

Film tersebut menceritakan para pendukung klub asal Inggris yang memilih menghindari pertarungan jalanan selepas pertandingan dan memilih melakukan perkelahian secara tersembunyi bahkan dengan sistem liga.

Berbagai aturan dalam open fight jelas ditentukan layaknya pertarungan Ultimate Fighting Championship (UFC). Beberapa kelompok suporter di Indonesia beberapa kali pernah melakukan hal tersebut demi eksistensi klub kebanggaan dan nama kelompok suporter.

Tidak seluruh hal yang diperoleh melalui media dapat diserap secara mentah dan digunakan dalam budaya Indonesia, termasuk perilaku hooligan. Tidak semua yang terserap seragam antarindividu atau tidak semua yang terserap merupakan hal yang benar.

Beberapa anggota Surakartans yang benar-benar mendalami sekelumit kultur ala Inggris dan paham dari mana berasal tentu telah paham ihwal akulturasi budaya hingga batas-batas tertentu. Masuknya budaya asing memang tidak dapat dibendung namun dapat disikapi dengan bijak.

Yang terbaru, pertandingan antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta beberapa waktu lalu mencoreng kembali dunia sepak bola Indonesia. Pendukung Persija Jakarta, Haringga Sirila, yang menggunakan hak dirinya untuk menonton pertandingan sepak bola tewas dikeroyok suporter Persib Bandung.

Sejatinya tak perlu menganut kultur apa pun untuk menonton pertandingan sepak bola, bahkan eksistensi diri atau kelompok tak berguna untuk membawa klub kesayangan menjadi juara. Eksistensi diri di hadapan media sosial  justru lebih rumit daripada sekadar menonton 11 orang menendang bola.

Tak perlu menganut kultur apa pun atau siapa pun kelompok pendukung untuk berkelahi dengan pendukung klub lawan. Jadilah manusia dan memanusiakan manusia. Manusia tidak akan tega melihat lawan yang hanya sendirian dan menghadapi puluhan orang. Perasaan manusia tidak akan sampai ketika melihat lawan yang terjatuh dan tidak mampu bangkit masih dihujani pukulan benda keras.

Tidak cukupkah melihat tim kesayangan menang dalam sebuah pertandingan atau meraih prestasi? Sebuah kebanggaan berlebihan dan mengalahkan akal sehat ketika terlibat perkelahian bahkan pembunuhan atas nama kelompok suporter dan klub kesayangan.

Edukasi

Klub seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada pendukung. Di Indonesia sangat jamak klub yang ogah merangkul para pendukungnya sendiri. Klub hanya menjadikan para pendukung laksana sapi perah untuk memperoleh pendapatan dari kecintaan mereka kepada klub itu.

Klub lokal Kota Solo, Persis Solo, juga harus segera memulai memutus rantai karut marutnya dunia suporter Indonesia. Almarhum Joko Riyanto yang meninggal saat kerusuhan dalam laga Persis Solo melawan Martapura dapat dijadikan pelajaran berharga untuk menghentikan catatan buruk suporter yang meninggal demi permainan yang sejatinya hanya 90 menit.

Dalam dunia suporter Persis Solo jumlah kelompok suporter yang berlatar belakang mahasiswa hingga kelompok yang didirikan berlandaskan edukasi untuk menjadikan suporter di Kota Solo menjadi lebih baik sebenarnya sangat cukup.

Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk mengetahui bagaimana kondisi yang benar-benar riil di dunia suporter karena memutus rantai karut marutnya dunia supporter harus dimulai dari tiap individu. Persis Solo dapat memberikan ruang kepada para pendukung untuk mempunyai andil di dalam kepengurusan tim. Hal ini dapat menumbuhkan rasa menjaga dan memiliki.

PSSI sebagai federasi seharusnya aktif melakukan upaya preventif, bukan hanya memberikan sanksi denda kepada klub setiap suporternya berulah. Hukuman yang diberikan seharusnya juga berdampak pada suporter, seperti larangan mendukung klub dalam beberapa pertandingan hingga pengurangan poin klub atau degradasi  yang menyababkan klub dan suporter saling bersinergi untuk menjaga perilaku.

Keputusan penghentian Liga 1 untuk sementara itu semoga hanya sebagai ungkapan berkabung karena menghargai nyawa manusia tak sebatas penghentian liga atau sanksi dari FIFA. Menikmati sepak bola sejatinya dapat secara mudah. Cintailah klub dengan sederhana, yakni datang, menonton, lalu pulang, apa pun hasil pertandingan harus diterima dengan sederhana pula.

Sepak bola hanya hiburan akhir pekan tanpa perlu diperjuangkan secara mati-matian. Tak perlu kalimat ”mendukung sampai mati”  kalau kalimat ”mendukung semampunya namun selamanya” lebih nyaman terdengar. Bagaimanapun, kehidupan nyata bersama keluarga dan meraih cita-cita jauh lebih berharga daripada sepak bola. Semoga dan sekali lagi semoga kematian Haringga Sirila benar-benar menjadi yang terakhir.