Keliru, Anggapan Pendidikan Karakter Hanya untuk Anak!

Ilustrasi siswa. (Solopos/Dok)
28 September 2018 08:00 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, SOLO — Selama ini banyak yang menganggap pendidikan karakter hanya untuk anak. Pendapat itu keliru karena pendidikan karakter sejatinya menyasar segala usia, bukan anak-anak saja.

Contoh pendidikan karakter yang perlu diterapkan sehari-hari dan paling sederhana adalah budaya tepat waktu. “Terlambat berefek pada menyepelekan masalah. Jika terbiasa, menjadi setiap hari, akan memasuki belief system,” kata Itje Chodidjah,  Tim Inti Penguatan Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di acara Orientasi Teknis Penyelenggaraan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW), Hotel Lor In, Kamis (27/9/2018) pagi.

Belief system adalah kebiasaan yang dilakukan setiap hari sehingga membentuk keyakinan yang dianggap benar. “Seperti pada anak balita yang dibiarkan orang tuanya menonton televisi atau bermain gadget tanpa pengawasan. Kondisi itu menimbulkan bahaya mengacu pada belief system tersebut,” kata Itje kepada reporter Solopos.com, Andri Kusuma Wardaningtyas, Kamis.

Ada dua kunci keberhasilan pendidikan karakter, yaitu perilaku role model yang konsisten dan pengondisian aturan yang berefek pada kemandirian, kerja sama yang bagus, dan pandai berkomunikasi dengan orang banyak.

Apabila role modelnya konsisten, seperti guru yang tepat waktu dan tepat aturan setiap harinya, siswa akan mencontoh, terlebih mereka yang usianya masih dini. “Karena karakter merupakan refleksi dari kebiasaan yang dilakukan dengan tidak sengaja oleh orang sekitar dan dilakukan berulang sehingga membentuk nilai, etika, dan moral yang dapat diyakini dan bisa masuk pada belief system tadi,” kata Itje.

Yang ditekankan Itje dalam materi ini adalah seorang pendididik atau guru harus mendidik diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengajarkan kepada anak didiknya. Acara ini merupakan rangkaian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang sudah dilakukan empat tahun terakhir.

Salah seorang panitia, Kartini, mengatakan acara pada hari itu diikuti 168 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia, “Tidak hanya Jawa, namun juga ada dari Sumatra, Nusa Tenggara, dan Kalimantan,” jelas Kartini.