Barbarisme dalam Kultur Tribune

Ardian Nur Rizki - Istimewa
27 September 2018 22:20 WIB Ardian Nur Rizki Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (25/9/2019). Esai ini karya Ardian Nur Rizki, penulis buku Pustaka Sepak Bola Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah ardian1923@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- ”… pertandingan sepak bola berakhir setelah 90 menit, tetapi kehidupan harus terus berjalan” (Socrates, legenda sepak bola Brasil).

Di Indonesia, kalimat di atas laksana adagium utopis karena pertandingan sepak bola tidak pernah benar-benar berakhir. Sebaliknya, justru kehidupan yang dapat berhenti berjalan tersebab pertandingan.

Bola terus menggelinding liar, membawa ekses barbar.  Tidak ada yang kuasa menghentikan lajunya. Tidak peluit panjang wasit, tidak pula induk organisasi.

Bak medan perang, pertandingan sepak bola Indonesia identik dengan kekerasan. Belum genap dua bulan yang lalu persepakbolaan Indonesia tercoreng dengan aksi pengeroyokan yang memakan satu korban jiwa setelah laga PSIM versus PSS di Stadion Sultan Agung.

Tragedi yang memprihatinkan itu terulang lagi di Bandung. Laga klasik antara Persib kontra Persija lagi-lagi meminta korban nyawa. Musababnya serupa, yakni aksi sweeping dan pengeroyokan terhadap suporter tim tamu.

Kehormatan

Sejak awal dimainkan, sepak bola telah menjelma menjadi lebih dari sekadar olah badan dan lebih dari sebatas permainan. Sepak bola acap kali diamanati sebagai penjaga muruah dan kehormatan.

Dengan demikian, kemenangan, kebanggaan, dan kejayaan ditahbiskan sebagai tujuan utama sedangkan fair play dan sportivitas hanya dianggap sebagai slogan utopia.

Jika ditilik dari optik historis, sepak bola Indonesia justru lebih banyak menyimpan nilai-nilai patriotisme ketimbang muatan konflik. Sepak bola hadir membawa gelora persatuan dan perjuangan melawan kecongkakan dan keculasan penjajah.

Antarklub perserikatan bersinergi dengan spirit anti kolonialisme, berjuang segendang sepenarian untuk mendigdayakan sepak bola nasional (Zen, 2016). Oleh karena itu, sejatinya tidak ada pembenaran sejarah bagi setiap kebebalan yang bermuara pada kekerasan.

Akar konflik yang menjadi biang perseteruan antarsuporter di Indonesia acap kali disebabkan masalah sepele, misalnya suporter tim tamu yang bertandang melebihi kuota, suporter tuan rumah yang kecewa karena timnya kalah kemudian melampiaskan kepada suporter tamu, atau karena menyanyikan yel-yel yang bermuatan ejekan.

Akar konflik yang sebenarnya sepele kalau tanpa direspons dengan kesigapan represi untuk mereduksi lama-kelamaan justru menjadi lestari.

Penyebab

Rivalitas antarsuporter di Indonesia acap kali diejawantahkan dengan salah kaprah. Suporter dianggap bernyali jika berani bertandang dan membuat onar di kandang lawan.

Oleh karena itu, aksi sweeping, kerusuhan, dan tawuran adalah modus operandi banal yang dianggap sebagai metode halal demi menjaga ”kehormatan”. Tindakan barbar semacam ini akan senantiasa lestari jika kerusuhan dan keonaran dianggap sebagai bagian dari cara memenangkan eksistensi.

Siklus semacam ini ibarat lingkaran setan yang tiada berujung. Meskipun korban terus berjatuhan, tetap saja belum bisa menstimulasi terciptanya refleksi perdamaian. Alih-alih mewawas diri, jatuhnya korban justru direspons dengan upaya pembalasan dendam.

Dapat merugikan, mencederai, bahkan membunuh lebih banyak suporter lawan dianggap sebagai suatu kemenangan. Sebuah paradigma pandir lagi picisan yang hingga kini masih kerap menjadi musabab langgengnya kericuhan.

Jika ditelisik dari perspektif lain, Ekkers dan Hoefnagels dalam Agressie en Straf op het Voetvalveld (1972) menganggap sikap suporter yang agresif dan reaktif banyak dipengaruhi oleh attitude pemain di lapangan.

Tindak tanduk pemain, baik gestur maupun tutur, berpengaruh signifikan terhadap pola perilaku suporter. Pertandingan yang berjalan sportif dan fair akan membuat iklim tribune turut kondusif. Begitu pula sebaliknya.

Dalam teori psikologi sosial, frustrasi dalam hidup masyarakat adalah akar dari perilaku agresif suporter. Sindhunata dalam buku Air Mata Bola (2002), menyatakan hal senada, bahwa pertandingan sepak bola kerap dijadikan alat penyalur agresivitas.

Sepak bola kuasa mempersuakan dua kelompok berbeda yang saling bertentangan dalam kuantitas yang sarat. Kendati demikian, fenomena kerusuhan oleh suporter di Indonesia merupakan permasalahan kompleks yang tidak disebabkan oleh faktor tunggal.

Apalagi setelah merebaknya xenofili dalam kultur tribune suporter di Indonesia. Mentalita ultras atau hooliganism–mulai dari mode sandang hingga kegemaran bikin kerusuhanditiru secara total tanpa filer oleh beberapa suporter.

PSSI sebagai Kunci

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) selaku induk organisasi sepak bola nasional harus mulai merumuskan formula ampuh untuk menciptakan relasi antarsuporter yang bajik.

Selama ini PSSI lebih gemar menempuh cara represif dengan mengumbar sanksi terhadap suporter yang berulah. Alih-alih jera, sanksi yang diberikan PSSI acap kali direspons sinis dan apatis.

Oleh karena itu, PSSI sebaiknya tidak hanya mengumbar sanksi, melainkan juga turut serta dalam mengedukasi suporter. PSSI seyogianya turut memfasilitasi upaya rekonsiliasi antarsuporter yang terlibat friksi. 

Dengan demikian, upaya preventif (mengedukasi dan memfasilitasi perdamaian suporter) dan represif (sanksi tegas bagi setiap kerusuhan) dapat berjalan beriringan untuk mewujudkan kondusivitas relasi antarsuporter.

Faktor fundamental yang mendesak untuk dibenahi adalah mentalitas suporter dalam memaknai rivalitas. Stigma pandir harus lekas disingkirkan. Suporter harus mewawas diri bahwa pengejawantahan rivalitas harus berorientasi pada prestasi, bukan saling melukai dan mencederai.

Rivalitas jika diwujudkan dengan keonaran dan bentrokan hanya akan bermuara pada sanksi yang merugikan tim. Sanksi dari Komisi Disiplin PSSI biasanya berupa larangan menyaksikan laga, larangan mengenakan atribut, maupun denda yang dibebankan kepada kub.

Selain itu, suporter yang gemar berbuat rusuh dipersulit memperoleh izin keamanan untuk mengawal perjuangan klub pujaan, baik dalam pertandingan kandang maupun tandang. Alhasil, klub yang didukung harus berjuang sendirian.

Mentalitas suporter harus dimafhumkan  dengan logika sederhana semacam ini. PSSI harus bersinergi dengan pengurus suporter dalam mengedukasi anggota untuk meredefinisi makna rivalitas.

Persaingan dan kompetisi cukup diwujudkan selama 90 menit dengan adu kreasi di tribune. Selepas itu suporter harus kembali baku peluk dan baku jabat dalam kelindan persaudaraan.

Akar sejarah persepakbolaan Indonesia yang sarat nilai-nilai kejuangan dapat dijadikan alat untuk menempatkan sepak bola sebagai penggalang persatuan. Sepak bola seyogianya dieksekusi sebagaimana khitahnya, yaitu sebagai olahraga. Sepak bola harus kembali pada muruahnya: sebagai pemersatu bangsa.