Dukungan Yenny Wahid ke Jokowi-Ma'ruf Pengaruhi Gusdurian?

Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin (kanan) berjabat tangan dengan Mahfud MD disaksikan Yenny Wahid, dan Romo Benny Susetyo di Ciganjur, Jakarta, Rabu (26/9 - 2018). (Antara / Muhammad Adimaja)
27 September 2018 18:43 WIB Adib Muttaqin Asfar/Antara Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pengamat politik dari Kode Inisiatif Veri Junaidi mengatakan deklarasi dukungan Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid tidak terlalu berpengaruh kepada dukungan bagi pasangan calon Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Benarkah demikian?

"Tidak bisa kemudian itu merepresentasikan seluruhnya, karena faktanya saja di Keluarga Gus Dur ada Alissa dan Yenny, entah pilihan mereka sama atau tidak, tetapi tidak bisa disamaratakan dukungan satu tokoh akan membawa dukungan seluruh pemilih lainnya," kata Veri di Jakarta, Kamis (17/9/2018), dilansir Antara.

Perbedaan sikap politik di internal keluarga Presiden RI ke-empat tersebut, menurut Veri, menjadi contoh demokrasi, di mana kebebasan berpolitik terjadi dalam sebuah keluarga.

"Siapa pun bisa mendukung capres dari kedua kubu, itu kan pilihan politik saja. Kalau kemudian ada satu kelompok atau satu keluarga berbeda dukungan, sebenarnya real politic begitu," tambahnya.

Deklarasi Yenny Wahid yang mendukung pasangan calon Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019 juga dinilai tidak akan mempengaruhi gerbong Gusdurian untuk memilih yang sama dengan pilihan politik Yenny. "Yenny Wahid sudah declare dukung Jokowi, itu tidak mencerminkan pilihan politik Gusdurian karena dianggap bahwa terbentuknya organisasi tersebut bukan untuk kepentingan politik, tetapi untuk kepentingan sosial, jadi sah-sah saja," jelasnya.

Namun, analisis berbeda diungkapkan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Luky Sandra Amalia. Dia menilai dukungan Yenny Wahid pada pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin penting karena turut mempengaruhi kaum nahdliyin.

Apalagi ayahanda Yenny Wahid, mendiang KH Abdurrahman Wahid, merupakan pendiri PKB yang memiliki basis massa tidak dapat dilepaskan dari Nahdlatul Ulama (NU), yakni organisasi massa Islam yang paling besar di Indonesia hingga kini.

"Apapun yang diputuskan keluarga itu memang menjadi penting bagi mereka kaum nahdliyin yang masih patuh pada kiainya," kata dia.

Rabu (26/9/2018) lalu, Yenny Wahid bersama sembilan anggota Konsorsium Kader Gus Dur menyatakan secara resmi dukungan politik mereka untuk pasangan calon Jokowi-Ma'ruf.

Pernyataan itu dilakukan setelah Yenny Wahid mendampingi ibunya, Sinta Nuriyah Wahid, menerima calon wakil presiden Ma'ruf Amin. "Dengan mengucapkan bismillah, kami menyatakan dukungan pada pasangan capres-cawapres nomor nol satu," kata Yenny.

Yenny beralasan visi dan misi pasangan calon Jokowi-Ma'ruf sesuai dengan prinsip ayahnya ketika memimpin Indonesia pada 1999 hingga 2001. Menurut dia, seorang pemimpin harus memiliki pola pikir sederhana, yakni dengan memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. "Ketika Gus Dur memimpin memenuhi hak dasar warga tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan maupun status sosial," ujarnya.

Barisan ormas di belakang Yenny, yang turut mendukung pasangan nomor urut 01 tersebut adalah Barikade Gus Dur, Forum Kiai Kampung Nusantara, Garis Politik Al Mawardi, Gerakan Kebangkitan Nusantara, Satuan Mahasiswa Nusantara, Millenial Political Movement, Komunitas Santri Pojokan, Jaringan Perempuan untuk NKRI, dan Forum Profesional Peduli Bangsa.

Sementara itu, Sinta Nuriyah Wahid tidak mendeklarasikan dukungannya secara resmi terhadap salah satu pasangan capres-cawapres. Begitu juga halnya dengan dua saudari Yenny, yakni Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid dan Inaya Wulandari Wahid.

Alissa Wahid dalam kicauannya pada Rabu (26/9/2018) lalu mengklarifikasi penggunaan istilah Gusdurian yang kerap muncul di media. Menurutnya, dukungan Yenny Wahid dan para kader Gus Dur tidak mencerminkan sikap Gusdurian. Hal ini untuk meluruskan diksi "Gusdurian" pascadeklarasi sikap politik Yenny Wahid.

"Yang tepat bagaimana? Semua pecinta GusDur punya hak politik. Aktivis @GUSDURians juga berpolitik, tapi sbg warganegara. Dia boleh ikuti garis Gerakan Kader GusDur, ikut @yennywahid. Tapi tak boleh atasnama @GUSDURians. Agar garis perjuangan kami tetap terjaga," kicau Alissa di akun Twiter @AlissaWahid, Rabu.