Pengenang dan Pemulia Buku

Bandung Mawardi - Dokumen Solopos
26 September 2018 20:18 WIB Bandung Mawardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (22/9/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, peraih Anugerah Pangalembana Kampung Buku Jogja #4. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada peristiwa tentang buku, dua orang bertemu berlanjut menunaikan janji untuk hidup bersama. Pada sepucuk surat dikirim dari Pulau Buru, 1978, Pramoedya Ananta Toer ingin membagikan nostalgia kepada anak.

”Untuk pertama aku melihat ibumu dalam bulan Oktober atau November 1954 di Pekan Buku, diselenggarakan oleh perusahaan buku Gunung Agung. Ibumu menjadi salah satu penjaga stand.” Saat itu Pram sedang dalam kondisi apes. Ia berada di “titik-tukik krisis” alias miskin tak berkesudahan.

Pram berpikiran sebaiknya lekas mati. Segala berubah saat mata melihat perempuan di peristiwa tentang buku yang tergolong akbar pada masa lalu. Pram salah mengingat. Peristiwa itu dinamai Pekan Buku Indonesia, diselenggarakan di Gedung Pertemuan Umum, Jakarta, 8-14 September 1954.

”Pertemuan dan perkenalan dengan ibumu membikin semangat hidupku bangkit kembali. Dengan dia aku akan hidup. Boleh jadi akan jadi olok-olok tentang ini. Terserahlah, setiap orang punya problem pribadinya sendiri,” tulis Pram.

Pengarang tenar itu tak membagikan ingatan pada buku-buku di acara bersejarah. Pram telanjur dijerat asmara dan ”kebangkitan” dari keterpurukan. Ia mengatakan itu bukan romantika sebagi perjaka. Pram juga mengaku tak hendak ”berbinal” (Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, 2000).

Pertemuan, perkenalan, dan ikatan asmara menentukan nasib sebagai pengarang. Penentuan berlatar Pekan Buku Indonesia pada 1954. Kita tak perlu cemburu karena Pram enggan berbagi pengalaman saat mengunjungi acara buku bermutu di tengah deru revolusi.

Sejarah Pameran Buku

Pram berkunjung ke Pekan Buku Indonesia tanpa mau menguak pemuatan diri di buku berjudul Pekan Buku Indonesia 1954 terbitan Gunung Agung. Buku dokumentasi memuat biografi pengarang tenar, daftar penerbit, iklan buku, dan artikel.

Di halaman 214, kita bisa membaca data diri Pram. Ia disebut telah menulis 10 buku: Subuh, Keluarga Gerilja, Dia jang Menjerah, Perburuan, Pertjikan Revolusi, Bukan Pasar Malam, Ditepi Kali Bekasi, Mereka jang Dilumpuhkan, Tjerita dari Blora, dan Gulat di Djakarta.

Dua buku terjemahan turut dicantumkan: Kembali Kepada Tjinta Kasihmu (Leo Tolstoy) dan Tikus dan Manusia (John Steinbeck). Di halaman 328, pembaca mendapat pengumuman bahwa Tjerita dari Blora mendapat hadiah dari Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional 1953.

Pram di Nyanyi Sunyi Seorang Bisu tetap pelit bercerita suasana dan pemaknaan pameran buku di Indonesia pada masa 1950-an itu. Kita malah diajak mengingat kisah asmara. Penulisan sejarah pameran buku di Indonesia memang dianggap belum penting ketimbang sejarah penerbitan.

Ratusan pameran buku sudah diselenggarakan di pelbagai kota tapi dokumentasi tak sampai kepada kita. Sekian acara menghilang dari ingatan, tak meninggalkan jejak poster atau buku kenangan, dan gagal awet di album foto. Pram termasuk orang yang mau mengingat tapi mengarah ke diri mabuk asmara, belum mengartikan misi dan dampak pameran buku di Indonesia.

Kita bisa melanjutkan ingatan-ingatan kepada pameran buku yang sempat terbaca di iklan, artikel, dan berita. Pada 16-23 Juni 1960, berlangsung Gelanggang Buku III di Jakarta. Acara itu memamerkan 8.000 buku. Di Majalah Selecta Nomor 38, 1960, kita membaca berita: Pesertanja kini hanja 13 toko buku dan penerbit Indonesia, termasuk Balai Pustaka dan penerbit-penerbit asing jang kini berada dibawah kuasa BAPPIT.

Pada acara itu tebersit usul agar mengadakan pameran buku bertaraf internasional mumpung ada kemauan dari penerbit asing dan keterlibatan sekian kedutaan besar dari Eropa dan Amerika Serikat.

Ada kritik mengenai mutu buku berlatar pameran. Berbicara mengenai buku-buku yang diterbitkan di Indonesia, tentu kita belum merasa puas jika hendak membandingkannya dengan buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit luar negeri, seperti halnya yang dialami para pengunjung Gelanggang Buku III.

Kritik paling keras adalah buku-buku Indonesia pada masa 1960-an berharga mahal dan kian mahal. Harga itu berkaitan dengan ketersediaan kertas, teknik pencetakan, dan tata cara pemasaran. Sebelas tahun dari peristiwa 1954, berlangsung Pameran Buku Nasional di Jakarta.

Pameran untuk memperingati dwi dasawarsa kemerdekaan Indonesia. Pameran diadakan di Hotel Duta Indonesia. Pak Kasur mencatat ingatan kecil di Majalah Djaja, 7 Agustus 1965. Ia menulis dan yang sangat menggembirakan ialah dunia kanak-kanak pada pameran itu tidak terlupakan. Selain mereka diberi kesempatan menonton dan meninjau pameran, akan diadakan pula atraksi-atraksi yang akan diselenggarakan oleh anak untuk anak. Akan diselenggarakan, diantaranya perlombaan-perlombaan membaca, deklamasi, menggambar, menyampul buku, bernyanyi, menari antara lain Tari Genjer-genjer.

Buku Anak

Pameran buku tak melulu ribuan buku yang ditata menanti pembeli. Pameran Buku Nasional dimeriahkan beragam acara meski tak berkaitan dengan buku. Peristiwa di Jakarta dalam tulisan Pak Kasur terjadi sebelum Indonesia bermalapetaka 30 September 1965.

Peran anak dalam pameran buku mendapat pemuliaan pada masa 1980-an. Posisi anak berbeda dari Pameran Buku Nasional 1965. Iklan di Majalah Tempo, 1 Desember 1984, menjadi pengingat. Acara dinamai Pesta Buku Anak-Anak dan Remaja I pada 1984. Pesta diselenggarakan di Balai Sidang, Senayan, Jakarta, 30 November-8 Desember 1984.

Pemberitahuan tentang acara itu agak menggiurkan: Mulai tahun ini, Ikatan Penerbit Indonesia-Jakarta Raya merintis jalan terselenggaranya pameran khusus buku anak-anak dan remaja. Selain beberapa distributor/penerbit luar negeri, tak kurang dari 100 penerbit nasional akan ikut serta memperagakan karya-karya terbaru di bidang buku anak-anak dan remaja.

Konon, pada masa 1980-an, industri buku tercatat laris dan memicu persaingan dari pelbagai penerbit besar. Polemik dan kontroversi bermunculan berkaitan suguhan buku dari Indonesia atau melulu terjemahan dari negara-negara asing. Buku terjemahan sering laris, menghasilkan laba berlimpah.  

Puluhan tahun berlalu dari nostalgia Pram dan peristiwa-peristiwa pameran buku di Jakarta, kita dapat membuat daftar kenangan acara buku di Jogja yang dinamai Kampung Buku Jogja. Acara ini rutin diselenggarakan setiap tahun sejak 2015.

Kenangan kaum pemulia buku dicipta dan diawetkan di terbitan buku berjudul Kampung Buku Jogja: Hari Raya Pencinta Buku (2015-2017). Buku disuguhkan masih baru di Kampung Buku Jogja #4, 10-13 September 2018, bertempat di Pusat Kebudayaan  Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada atau PKKH UGM.

Buku dokumentatif dari jemaah fanatik bertaruh hidup mati demi mengurusi literasi, dari tahun ke tahun. Buku tak hendak meniru Pekan Buku Indonesia 1954. Buku itu justru ingin menantang kita tak pernah menganggap keliru memuliakan buku selaku penulis, penerbit, pedagang, pembaca, dan kolektor.

Buku kelak jadi acuan nostalgia meski kini buku-buku agak tersipu-sipu malu meladeni kesibukan manusia-manusia berpotret dan mengumbar kata-kata yang lekas sangit di gawai pintar atau smartphone.