Petisi Mundur dari PSSI Diteken 66.000 Orang, Ini Jawaban Edy Rahmayadi

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) didampingi Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono (kanan) memberikan keterangan pers mengenai penghentian sementara kompetisi Liga I di Jakarta, Selasa (25/9 - 2018). (Antara / Reno Esnir)
26 September 2018 23:38 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Petisi online yang mendesak agar Edy Rahmayadi mundur dari jabatannya sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) hingga Rabu (26/9/2018) malam telah ditandatangani 66.125 orang. Petisi di Change.org dengan judul Edy harus mundur sebagai Ketua Umum PSSI itu dimulai oleh Emerson Yuntho tiga bulan lalu.

Ketua Umum PSSI yang kini juga menjabat Gubernur Sumatra Utara itu kembali merespons petisi itu pascajatuhnya korban jiwa sebelum laga Persib vs Persija, Minggu (23/9/2018) lalu. Dalam program Mata Najwa Trans7 Rabu malam, Edy meminta masyarakat menunjukkan kaitan antara rangkap jabatan dengan jatuhnya korban.

"Tidak ada konflik kepentingan. Memang ada rangkap-rangkapan [rangkap jabatan di tubuh PSSI], tapi dalam setiap keputusan, itu dihasilkan oleh Exco, bukan oleh pimpinan PSSI," kata dia saat ditanya responsnya atas tuntutan publik itu di Mata Najwa.

Host Mata Najwa, Najwa Shihab, menanyakan respons Edy terhadap petisi yang telah ditandatangani lebih dari 60.000 orang itu. Namun, Edy menyatakan tak ada hubungan antara rangkap jabatan dengan insiden suporter.

"Jangankan 60.000 orang, satu orang saja asalkan bisa menunjukkan hubungan antara rangkap jabatan dengan kematian seseorang," kata dia.

Dalam forum itu, Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI diminta tanggapannya atas meninggalnya Haringga Sirila, suporter Persija yang dikeroyok sebelum pertandingan antara Persib Bandung vs Persija di Gelora Bandung Lautan Api, Minggu lalu. Menurutnya, PSSI selama ini telah memberikan berbagai hukuman kepada klub atas tragedi kerusuhan suporter.

"Di PSSI ini yang berjalan, hanya hukuman gantung aja yang belum. Hukuman finansial, untuk Persija ini saja sudah habis Rp240 juta karena lagu rasis dan flare," kata Edy.

Namun ketika ditanya efektivitas hukuman finansial yang kerap dijatuhkan kepada klub, Edy menyoroti tidak adanya pembinaan terhadap suporter, termasuk oleh klub.

"Bukan soal efektif atau tidak, tapi dengan suporter tidak ada ikatan yang kuat. Kalau ada satu pembinaan, inilah wilayah pemerintah daerah untuk membina."

Petisi yang mendesak Edy untuk mundur sebenarnya sudah diinisiasi Emerson Yuntho dkk sejak Juli lalu. Namun, petisi ini kembali menyeruak setelah kasus kematian Haringga di Bandung.