Efek Zonasi, Sekolah Wajib Ajak Anak di Lingkungan Sekitar Bersekolah

Ilustrasi siswa SD. (Dok)
24 September 2018 14:54 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mewajibkan sekolah mendatangi keluarga di lingkungan sekitar yang punya anak usia sekolah untuk bersekolah. Keputusan ini bagian dari kebijakan zonasi.

Muhadjir optimistis target wajib belajar 12 tahun lebih mudah dicapai dengan sistem zonasi. Sekolah bersama aparat daerah nantinya bisa lebih aktif mendorong anak-anak usia sekolah untuk bersekolah atau menempuh pendidikan kesetaraan.

"Kita balik, kalau dulu sekolah menunggu siswa datang mendaftar. Mulai tahun depan, sekolah aktif mendatangi keluarga-keluarga yang memiliki anak usia sekolah untuk masuk sekolah bersama aparat daerah. Yang tidak mau di sekolah, harus dicarikan alternatif yaitu di pendidikan kesetaraan. Tidak boleh lagi ada anak usia wajib belajar 12 tahun yang tidak belajar," kata Mendikbud dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Zonasi untuk Pemerataan Kualitas Pendidikan 2018 Region III di Medan, Sumatra Utara, Sabtu (22/9/2018) seperti dirilis di laman Kemendikbud.go.id, Minggu (23/9/2018).

Dengan sistem zonasi, penerimaan siswa baru diyakini dapat berjalan lebih baik dan mencerminkan keadilan. Akan ada pula peta guru dan sarana prasarana pendidikan yang jelas sehingga memudahkan pemerintah menangani permasalahan.

Apabila sebelumnya populasi sumber daya unggulan terkonsentrasi di sekolah-sekolah tertentu yang dianggap berkualitas atau favorit, ke depan semua sekolah didorong memiliki kualitas yang sama baiknya.

Penerapan sistem zonasi untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas diharapkan juga bisa mengatasi persoalan ketimpangan di masyarakat. Ini jadi langkah strategis dalam penerapan pendidikan karakter.

Ekosistem pendidikan, menurut Muhadjir, sangat penting bagi penerapan pendidikan karakter. Dia memberi contoh saat jarak sekolah dekat dengan tempat tinggal, siswa SD, misalnya, bisa berjalan kaki ke sekolah. Dalam proses berjalan ke sekolah, dia bisa belajar etiket warga negara. Orang tua dan masyarakat sekitar ikut teribat dalam pendidikan karakter.

"Zonasi ini adalah terjemahan operasional dari ekosistem pendidikan yang dimaksud Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional," tutur Mendikbud di depan peserta rakor.

Rakor dilaksanakan selama tiga hari bersama Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi di wilayah Sumatra. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Supriano, menyampaikan tujuan rakor adalah menyosialisasikan kebijakan zonasi secara lebih baik.