Harian Solopos Harus Aktif Melawan Hoaks

Ahmad Djauhar - Dokumen Solopos
23 September 2018 13:27 WIB Ahmad Djauhar Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harin Solopos edisi Rabu (19/9/2018). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Wakil Ketua Dewan Pers periode 2016-2019. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Di tengah pengaruh media dalam jaringan (daring) yang di dalamnya terdapat media sosial yang sering menjadi medium penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan kabar menyesatkan, masyarakat memerlukan berita berbasis jurnalisme.

Kata kunci ”jurnalisme” ini sedemikian penting dan menemukan kembali peran strategisnya mengingat inilah yang dapat membedakan mana informasi yang terpilih, berdasarkan fakta, dan terverifikasi keautentikannya. 

Sepintar apa pun masyarakat akan susah kalau harus dipaksa memilih dan memilah sendiri jenis informasi yang dibutuhkan sebagai instrumen aktualisasi diri dan pemenuhan kebutuhan informasi yang mengisi kehidupan sehari-hari.

Di tengah serbuan informasi di tengah rimba raya informasi saat ini, sulit bagi siapa pun membendung arus informasi yang kian hari semakin membesar volumenya. Sesuai prediksi filsuf modern Prancis, Jean Baudrilliard, manusia era postmodern benar-benar hidup di alam yang kian berlebihan.

Era kini tidak seperti zaman-zaman sebelumnya, saat supply berbanding lurus dengan demand. Dulu, manusia cenderung hidup bersahaja. Secukupnya. Kini, manusia disegurah. Kebutuhan informasi hanya 10 per detik, misalnya, tapi kini dalam sedetik kita bisa menerima 50-100 informasi.

Dunia Tunggang Langgang

Bisa jadi lebih dari itu. Dunia sedang berlari tunggang langgang, menurut Baudrilliard. Dengan berlebihnya pasokan informasi, dapat dipastikan segala jeis informasi dipaksakan untuk dikonsumsi konsumen yang dianggap kian haus informasi.

Walhasil, imformasi kelas sampah pun dijejalkan oleh para pemasok. Kita pun dengan suka rela menelan, tanpa sempat mencerna lagi. Hoaks memiliki kandungan jahat yang tak jarang merusak karena si penerima informasi dapat tersesatkan.

Informasi hoaks tidak jarang dapat menimbulkan adu domba antarkomunitas. Contoh nyata terjadi ketika berlangsung pesta demokrasi, baik di tingkat desa, kabupaten/kota/provinsi, maupun negara, para produsen dan penebar hoaks rajin hadir untuk menyesatkan warga.

Warga yang tiap detik dibanjiri hoaks menjadi atau bahkan tidak yakin dengan pilihan mereka. Memang demikianlah tujuan pembuat hoaks, untuk membingungkan calon pemilih, terutama yang semula dianggap potensial untuk memberikan suara ke kubu lawan.

Dengan rekayasa hoaks, calon pemilih tersebut digaet untuk dapat memenangkan kubu pembuat dan penebar hoaks itu. Praksisnya tidak hanya black campaign, informasi hoaks yang dikembangkan itu kadang-kadang sampai kelewat batas, tega menerapkan character assassinnation alias pembunuhan karakter. Hal yang sangat dilarang oleh agama apa pun.

Bagaimana tidak dilarang kalau pembunuhan karakter ini menyebabkan seseorang dimatikan jiwanya kendati secara fisik yang bersangkutan masih hidup normal. Tidak ada lagi orang yang percaya kepada seseorang itu bila karakternya dibunuh, apalagi menaruh hormat kepadanya. Benar-benar hidup yang berasa mati. 

Pernah terjadi satu kelompok warga bertikai dengan keompok lainnya gara-gara hoaks dan kalau sampai jatuh korban harta atau jiwa tentu saja si penebar hoaks tidak bertanggung jawab. Betapa kejam dan besarnya daya rusak hoaks.

Tidak hanya itu. Hoaks ini hinggap di pelbagai forum, dari tingkat musyawarah rukun tetangga/rukun warga hingga pertemuan level general assembly Perserikatan Bangsa-Bangsa sekalipun karena misi penyebar hoaks memang ingin mengacaukan pendirian/sikap seseorang agar tidak sesuai lagi dengan sikap awal.  

Pemilih dan Pemilah

Media cetak, elektronik, dan daring atau online tidak dapat dan tidak perlu saling meniadakan. Mereka justru dapat berkonvergensi, membuat aliansi strategis, untuk saling menguatkan dan mengisi celah kosong yang masih sangat mungkin disi keberadaan mereka mengingaf preferensi dan/atau kesukaan seseorang di seluruh negara/wilayah tentu tidak seragam.

Kehadiran media cetak tetap diperlukan mengingat kemampuan penuturan dan kedalaman informasi yang disajikan sehingga relatif mampu untuk tetap memuaskan konsumen informasi. Harus diakui, media cetaklah yang meletakkan dasar-dasar jurnalisme sesungguhnya, yang kemudian dimodifikasi sesuai media pengusung informasi berbasis kebenaran dan fakta tersebut. Hingga kapan pun umat manusia membutuhkan kredo jurnalisme ala media cetak ini.

Adalah sifat dasar manusia yang selalu memerlukan informasi yang benar dan akurat, tidak terdistorsi oleh informasi palsu atau bahkan penyesatan. Untuk memenuhi kebutuhan informasi berkualitas seperti ini, sekelompok orang dengan upaya yang sungguh-sungguh menggali kebenaran dan keakuratan informasi yang tidak jarang untuk memperolehnya terkadang mereka harus berjuang bahkan berkorban.

Beberapa di antara mereka sampai rela mempertaruhkan jiwa atau nyawa untuk itu. Ini risiko yang harus dibayar mahal guna menghadirkan sesuatu yang mengandung nilai kebenaran dan keakuratan untuk dipersembahkan kepada orang lain agar mereka tidak tersesat, terlebih pada era sekarang ketika manusia hidup pada era informasi. 

Peran media--pengusung semangat jurnalisme--tetaplah relevan, sampai kapan pun, mengingat  media tersebutlah yang mampu memberikan aufklarung alias pencerahan bagi umat manusia sehingga mampu mendapati nilai-nilai kemanusiaan yang didambakan. Bukan sekadar menjadi manusia yang asal mengonsumsi informasi.

Peran strategis ini masih dapat dimainkan oleh koran arus utama seperti Harian Solopos yang hari ini berulang tahun ke-21. Hendaknya semangat jurnalisme ini tetap diusung oleh koran yang hadir di ujung berakhirnya kekuasaan Orde Baru, sebuah orde di negeri ini yang pernah memonopoli kebenaran dan memcampakkan komunitas media nasional sehingga mereka ”terpaksa” tiarap mengikuti kehendak penguasa.

Selamat ulang tahun, Solopos. Selalulah berjuang dalam kebenaran dan keakuratan untuk mendukung nilai-nilai kemanusiaan agar masyarakat dapat menggapai kemajuan mereka sendiri.