Tawaran Langkah untuk Gerakan Mahasiswa Soloraya

Mohammad Hisbun Payu - Istimewa
21 September 2018 19:16 WIB Mohammad Hisbun Payu Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (18/9/2018). Esai ini karya Mohammad Hisbun Payu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah arsipsamar@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Sejak kali pertama memutuskan melanjutkan studi di salah satu kampus di Solo pada pertengahan 2017 saya berjumpa dengan kawan dari organisasi mahasiswa di Solo. Saya memutuskan menginap di rumah kontrakan dia untuk mencari informasi awal tentang gerakan mahasiswa di Soloraya.

Kebetulan dia salah satu pemimpin pers mahasiswa di kampus tempat saya melanjutkan studi. Dia juga yang mengenalkan saya dengan beberapa mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa di Solorraya.

Dari diskusi-diskusi dengan mereka saya mulai mengenal dan terlibat langsung dengan gerakan mahasiswa di Soloraya selama beberapa bulan sebelum akhirnya saya dijebloskan ke dalam penjara karena terlibat dalam gerakan Sukoharjo Melawan Racun (Saamar).

Ini front alternatif kedua setelah Front Aksi Mahasiswa Rakyat untuk Demokrasi (Famrad) yang berhasil kami bentuk sebagai wadah perlawan di Soloraya. Sekarang bertambah dengan Aksi Kamisan yang berhasil dibentuk kawan-kawan selama saya dipenjara.

Selama dipenjara, untuk melawan rasa jenuh, selain membaca buku, saya belajar menulis. Dalam tulisan ini saya membahas masalah yang dihadapi gerakan mahasiswa di Soloraya berdasarkan pengamatan saya secara langsung sekaligus memberi tawaran tentang langkah apa yang sebaiknya dilakukan ke depan.

Ke manakah arah gerakan mahasiswa Soloraya saat ini? Bagaimana sikap gerakan mahasiswa Soloraya dalam perjuangan pembebasan rakyat? Inilah beberapa pertanyaan yang kerap kali muncul di setiap agenda-agenda diskusi mahasiswa di Solo, baik yang digelar di kampus maupun sebatas obrolan-obrolan di warung kopi.

Penyatuan teori dan praktik, tidak adanya sekat pembatas antara gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat lainnya, telah menciptakan kekuatan gerakan yang berhasil mencapai kemenangan-kemenangan penting.

Saat ini ada dua masalah pokok yang dihadapi gerakan mahasiswa di Soloraya. Pertama, tidak ada kesatuan teori dan praktik. Yang saya maksud adalah teori dan  praktik revolusioner. Kedua, terpisahnya gerakan mahasiswa dari rakyat.

Spontanitas

Salah satu yang harus diakui oleh gerakan mahasiswa Soloraya saat  ini adalah aksi dan gerakan sejauh ini kebanyakan hanya bersifat spontanitas atau momentual--yang penting aksi.

Aksi-aksi yang dilakukan oleh mayoritas gerakan mahasiswa bukan buah pengorganisasian untuk mendorong kesadaran melawan sehingga belum mampu menyelesaikan permasalahan mendasar yang dihadapi.

Tidak jarang kita temuai aktivis gerakan mahasiswa yang lebih fokus mempelajari teori-teori dan memberikan materi di pengaderan atau diskusi-diskusi dan mengesampingkan praktik langsung.

Tidak akan mungkin mencapai kebenaran (validitas) tentang kajian suatu isu tanpa terjun langsung, praktik adalah satu-satunya kriteria objektif dari kebenaran sejauh hal itu merepresentasikan bukan hanya mental manusia, namun juga keterkaitan manusia yang ada secara objektif dengan dunia alam dan sosial yang melingkupi diri manusia.

Ada juga aktivis yang lebih mengutamakan praktik dan malas mempelajari teori. Yang penting melawan dan aktif bersatu di front. Mereka tidak benar-benar ”antiteori” karena segala sesuatu yang bersifat material—mulai dari hal sederhana sampai hal yang rumit itu ada teorinya—makan pun ada teorinya.

Teori harus dibarengi dengan praktik! Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Aksi tanpa teori tidak akan efisien atau tidak akan berhasil menghasilkan perubahan yang mendasar. Teori tanpa aksi tidak akan  mendapat watak ilmiah yang sejati karena tidak ada jalan lain

Tercabut dari Rakyat

Kecenderungan aksi spontan telah mengakibatkan gerakan mahasiswa tercabut dari massa rakyat yang luas. Datang saat konsolidasi dan aksi, tapi absen saat pengorganisasian rakyat--krisis kepeloporan. Contoh yang paling baru adalah apa yang terjadi di Sukoharjo.

Silakan bertanya kepada kawan-kawan yang aktif di Samar, berapa orang yang benar-benar terlibat dalam pengorganisasian di sana? Berapa banyak mahasiswa yang live in untuk mendorong kesadaran rakyat?  Saya bukan hendak memuji-muji Samar karena saya terlibat di dalamnya.

Samar lahir sebagai bentuk usaha beberapa organisasi mahasiswa dan individu untuk membangun aliansi (kekuatan) alternatif. Tak kurang dari 10 organisasi yang pada awalnya bersepakat membentuk gerakan tersebut setelah evaluasi aksi bersama rakyat Sukoharjo pada 19 Januari 2018.

Perdebatan panjang tentang bagaimana sikap gerakan mahasiswa di Soloraya dalam merespons konflik antara warga dan PT RUM berhasil menghasilkan keputusan membentuk Samar, meskipun pada proses hanya beberapa orang saja yang benar-benar menjalankan keputusan tersebut.

Gerakan mahasiswa jangan hanya sibuk dengan wacana dalam kampus untuk menghasilkan perubahan yang revolusioner. Keotoriteran dosen dan pejabat kampus dalam memberikan kuliah dan menjalankan kebijakan kampus tidak dapat dihentikan dengan hanya mengubah kampus, melainkan harus dengan mengubah sistem masyarakat secara keseluruhan.

Sampai saat ini gerakan mahasiswa di Soloraya sulit disatukan dalam satu gerakan yang sama. Alasannya karena perbedaan organisasi. Yang sangat disayangkan perbedaan tersebut tidak mampu diselesaikan dalam forum karena beberapa kelompok mahasiswa masih menghindari perdebatan-perdebatan teoretis dalam forum yang justru membuat gerakan mahasiswa semakin mandul/melempem.

Penyatuan gerakan mahasiswa di Soloraya hanya terjadi di setiap badan eksekutif mahasiswa (BEM) kampus atau aliansi mahasiswa Soloraya (yang paling sering aksi adalah BEM Soloraya)--aliansi yang sering muncul tatkala ada isu-isu khusus.

Sulit untuk berharap banyak pada organisasi mahasiswa yang bersifat tahunan tersebut. Mereka melempem/mandul karena dikekang oleh birokrat kampus--seperti yang dialami BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat ini.

Program-program BEM lebih banyak diisi kegiatan event organizer. Seminar-seminar atau diskusi permasalahan rakyat tapi tidak membaur dengan rakyat yang dibahas. Hanya beberapa individu saja yang mau terlibat langsung dalam gerakan rakyat.

Ada beberapa BEM fakultas maupun universitas yang saling bermusuhan dengan alasan remeh, bukan karena alasan taktik dalam memperjuangkan mahasiswa, melainkan karena keegoisan beberapa orang yang berakibat terjadinya konflik horizontal sesama mahasiswa yang tentunya membuat birokrat kampus senang dan mereka berpotensi dipelihara selama mungkin.

"Jangan berlagak tidak mengerti, kalian [angkatan muda dan mahasiswa] cukup memiliki ilmu dan keberanian,” demikian pesan Pramoedya Ananta Toer kepada angkatan muda dan mahasiswa.

Aliansi

Yang dibutuhkan sekarang adalah membangun aliansi (kekuatan) alternatif, gerakan revolusioner. Aliansi ini harus mampu menjangkau mahasiswa luas dan tidak membatasi diri dengan perjuangan dalam lingkungan kampus.

Gerakan ini harus membangun kekuatan bersama gerakan rakyat lainnya: buruh, tani, dan lainnya. Revolusi Agustus 1945 dan penggulingan rezim Soeharto berhasil dilakukan karena bersatunya gerakan mahasiswa, buruh, tani, dan lainnya.

Aliansi ini bukan berarti asal bersatu, melainkan harus berpijak pada platform demokratik yang kukuh. Bukan asal bersatu, yang penting besar dan banyak anggota aliansinya. Kalau pokoke bersatu, tak ada bedanya siasat persatuan antara kaum tertindas dan kaum penindas.

Pada dasarnya persatuan itu merupakan taktik, namun bangunlah dengan pijakan yang benar. Tanpa konsep semacam itu, tidak mungkin membawa ke jalan alternatif, malah justru membawa ke jurang oportunisme. Sangat mungkin pada kemudian hari akan menjadi oportunisme yang melebar dan mendalam.

Aliansi ini juga harus menjadi tempat melatih atau mengasah kemampuan mahasiswa melalui diskusi, rapat, mengorganisasi, konsolidasi, aksi, membaca, dan membagikan selebaran; penyatuan teori dan praktik.

Dengan cara seperti itu aliansi menjadi kuat dan menghasilkan mahasiswa yang terlatih dalam situasi dan kondisi apa pun. Tidak gampang mengalami demoralisasi tatkala diburu-buru aparat saat melakukan aksi atau malah menjadi oportunis, mendukung dan masuk partai borjuis setelah lulus kuliah.

Sebagaimana yang dikatakan Lenin dalam karya monumentalnya Apa yang Harus Dikerjakan?, tanpa organisasi yang kuat, yang berpengalaman dalam perjuangan politik dalam segala keadaan dan segala periode, tak mungkin berbicara tentang rencana aktivitas yang sistematis yang diterangi dengan prinsip-prinsip yang teguh dan dilaksanakan dengan gigih, yang merupakan satu-satunya yang patut dinamakan taktik.