Krisis Penalaran

Sholahuddin - Dokumen Solopos
19 September 2018 21:06 WIB Sholahuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (17/9/2018). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Dalam beberapa hari ini di kompleks perumahan saya kedatangan dua ekor kucing jantan. Kucing-kucing itu mengembara untuk mencari pasangan guna menyalurkan hasrat biologis.

Bila dua ekor kucing jantan dewasa bertemu pasti berantem. Suara keras dua ekor kucing ini menimbulkan kegaduhan. Tak kenal waktu. Pagi, siang, dan bahkan tengah malam. Meski sudah diusir, mereka hanya lari pindah tempat. Berantem lagi.

Kebetulan di rumah kami ada kucing betina. Rupannya dua kucing itu berebut pengaruh untuk mendapatkan kekuasaan guna  mendapakan cinta dari kucing betina itu. Ketika saya amati, dua ekor kucing itu sebenarnya tidak pernah kontak secara fisik.

Mereka hanya kenceng-kencengan suara. Kucing yang paling keras berteriak, itu yang memenangi persaingan. Sang lawan akan lari.  Saya sempat bertanya, kok perilakunya seperti manusia ya? Mirip manusia yang bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.

Belum sempat menemukan jawaban, saya kembali bertanya jangan-jangan justru perilaku manusia yang seperti kucing (atau binatang lainnya) saat berebut pengaruh? Manusia akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk mendapatkan supremasi diri atas orang lain.

Para filsuf besar masa lalu banyak yang mengasosiasikan dengan binatang untuk menggambarkan perilaku manusia. Aristoteles menyebut manusia zoon politicon, binatang politik.  Thomas Hobbes menyebut homo homini lupus yang mengibaratkan manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Saling ingin meniadakan untuk memenangi sesuatu.

Para filsuf itu pasti tidak begitu saja melontarkan istilah itu tanpa melalui perenungan mendalam. Dalam ekonomi juga dikenal istilah ”binatang ekonomi” untuk menggambarkan manusia egois yang mementingkan diri sendiri dalam persaingan ekonomi.

Tidak semua pemikir sependapat dengan ide mengasosiasikan perilaku manusia dengan bintang.  Antara manusia dan binatang memang dikodratkan memiliki persamaan. Sama-sama punya insting berkuasa, sama-sama punya pengetahuan (meski pengetahuan binatang sangat terbatas).

Satu hal prinsip yang membedakan: manusia dikarunai nalar. Dengan nalar itulah manusia berpikir untuk melahirkan pengetahuan  atau kebenaran baru. Kemampuan menalar inilah yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan Tuhan. 

Menemukan Pengetahuan

Penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir merupakan kegiatan menemukan pengetahuan yang benar (Suriasumantri, 2009). Pengetahuan yang benar pasti hasil berpikir yang benar, sistematis, melalui pola-pola tertentu sehingga menghasilkan kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kemampuan menalar ini menjadikan manusia sebagai makhluk bermartabat. Itu idealnya. Benarkah manusia sudah memanfaatkan potensi menalar itu untuk meneguhkan diri sebagai makhluk mulia, sekalipun bersaing untuk memperebutkan pengaruh? Nanti dulu…

Perkembangan mutakhir alam berpikir manusia justru kian menjauh dari potensi menalar itu. Pola berpikir masyarakat cenderung tidak teratur, tidak runtut, alias  melompat-lompat. Hasil berpikir seperti ini bisa dipastikan menghasilkan kesimpulan atau  pengetahuan yang tidak sahih.

Orang begitu mudah menarik kesimpulan tanpa fakta, informasi, dan logika yang cukup. Banyak orang lebih senang menjadikan isu-isu sesaat yang  lahir bukan dari proses berpikir yang benar ini. Wacana-wacana itu yang selalu menyesaki ruang publik. Jadilah ruang publik yang tercemar…

Kesakralan ruang publik (ala Jurgen Habermas) berubah wujud menjadi ruang pertarungan kepentingan yang tidak berujung. Kita tengah mengalami ”krisis penalaran”. Krisis cara berpikir. Krisis ini bisa disebabkan banyak hal. Mungkin orang malas mengunakan nalar untuk berpikir.

Mungkin karena keterbatasan data dan informasi sebagai landasan untuk berpikir. Mungkin karena orang punya kepentingan tertentu. Orang rela memproduksi ketidakbenaran agar kepentingannya bisa terpenuhi. Orang dengan model yang terakhir ini justru banyak dari kalangan terdidik. 

Ketidakbenaran terus diproduksi, disebarkan secara berulang-ulang. Banyak orang lantas mengamini. Ketidakbenaran (palsu, hoaks) dijadikan dasar untuk bersikap dan bertindak secara massal. Ketidakbenaran yang diulang-ulang seolah-olah menjadi kebenaran.

Banyak orang memproduksi ketidakbenaran, namun orang lain tidak mengingatkan ketidaksahihan logika orang itu. Justru banyak yang membenarkan. Ini yang menyebabkan orang terus bersemangat memproduksi konten-konten wagu. Toh, dengan konten tak bermutu mereka akan mendapatkan lebih banyak pengakuan, misalnya  tanda ”like” di media sosial, ketimbang saat memproduksi konten berkualitas.

Sengaja Diciptakan

Situasi krisis penalaran ini dilematis karena banyak orang yang berkepentingan dengan situasi ini, apalagi dalam persaingan hebat. Krisis penalaran kadang-kadang sengaja diciptakan agar orang mudah dipengaruhi. Kalau para pesohor politik di negeri ini tidak peduli dengan situasi itu, atau bahkan senang, saya tidak tahu sampai kapan krisis penalaran ini berlangsung.

Semakin mendekati April 2019 , pemilihan umum presiden dan pemilihan umum anggota legislatif, saya yakin banyak yang akan terus memproduksi narasi-narasi nirnalar guna memengaruhi khalayak.

Dalam situasi nalar publik yang anomali ini, saya khawatir siapa yang rajin mendesiminasi kebohongan, bisa mengaduk-aduk perasaan banyak orang, bisa memobilisasi massa, mengusik sentimen agama, itu yang akan memenangi persaingan.

Proses penalaran jadi kurang atau tidak relevan sama sekali.  Namanya juga krisis penalaran. Persis seperti kucing yang bertengkar berebut pengaruh. Yang berteriak paling kencang itulah pemenangnya…