Mbah Prapto, Lelaki Tua Bertubuh Gerak

Ibed Surgana Yuga - Istimewa
16 September 2018 21:32 WIB Ibed Surgana Yuga Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (15/9/2018). Esai ini karya Ibed Surgana Yuga yang bekerja di Kalanari Theatre Movement dan menjadi sutradara teater serta praktisi gerak. Alamat e-mail penulis adalah ibed_sy@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Di sebuah dapur di pinggiran pantai sisi barat Dorset, Inggris, para maestro gerak, biksu, terapis tari, desainer taman, dan konsultan lembaga menggerakkan tubuh mereka dengan kesadaran dan intensitas tinggi.

Di antara meja makan, perkakas dapur, dan aneka makanan gerak mereka sublim mencipta ritus. Mereka tengah mencoba untuk menciduk makna dapur sebagai jalan menuju nilai dan makna hadirnya kekuatan ketuhanan di dunia keseharian manusia.

Peristiwa di dapur itu adalah bagian dari lokakarya (workshop) gerak yang dibimbing Suprapto Suryodarmo, seorang maestro gerak dari Kota Solo. Melalui seni gerak yang dia namain Joged Amerta (Amerta Movement), Mbah Prapto—demikian ia kerap dipanggil—menyarankan pemaknaan dapur sebagai bukan cuma ruang untuk mengolah bakal isi perut.

Dapur dan perut adalah ruang budaya dan ruang natural yang berelasi kuat dalam keseharian, ruang kedua dan ketiga untuk melanjutkan kehidupan setelah ruang rahim. Gerak adalah kesadaran hidup untuk mencapai nilai dan pemaknaan itu.

Selama 35 tahun, melalui serangkaian lokakarya dan pertunjukan, Mbah Prapto telah mengelanakan seni geraknya ke Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Saya berkesempatan mengikuti perjalanan lokakarya dan pertunjukan dia di empat tempat di Inggris sejak Juni hingga akhir Juli lalu.

Ini merupakan bagian perjalanan Mbah Prapto ke tujuh negara Eropa selama tiga bulan. Selama 35 tahun, tubuh gerak Mbah Prapto penuh dengan jejak-jejak kelana semacam ini dan komunitas-komunitas praktisi ilmu geraknya pun terbentuk dengan kuat di banyak tempat di dunia.

Ritual Gerak

Di Inggris, lokakarya dimulai di desa kecil, Westhay, di wilayah Jurassic Coast, sebuah situs warisan dunia yang memaparkan 185 tahun sejarah geologi dari masa Triassic, Jurassic, dan Cretaceous.

Dengan ide mengunduh spirit gerak evolusi yang berjejak di situs Jurassic Coast, lokakarya di sini memilih tajuk The Evolution of Art Creation. Mbah Prapto dengan sadar melibatkan ide-ide besar evolusi kehidupan dalam kerja geraknya.

Di sini para partisipan melatih gerak sebagai kesadaran diri yang kecil di tengah proses gerak kehidupan kosmos yang agung. Sebagai seorang yang melakoni warisan spiritual dan filsafat kuno Jawa, Mbah Prapto memasuki ide-ide besar itu melalui pendekatan ritual.

Seni ritual adalah obsesi besar Mbah Prapto dalam mengejawantahkan konsep-konsep gerak. Bagi dia, ritual adalah laku gerak meditatif manusia dalam mencapai keberadaan diri sebagai organisme alamiah dan ilahiah.

Mbah Prapto menemukan referensi sempurna dari perwujudan ide ini dalam peristiwa ruwatan. Ia sering diidentikkan sebagai dukun atau shaman. Pendekatan melalui laku ritual semakin kental terasa di tempat kedua, Avebury.

Ini adalah situs lingkaran batu terbesar di dunia, lahir dari masa Neolitikum sekitar 2500 SM. Pemilihan situs ini sebagai tempat lokakarya sekaligus pertunjukan merupakan representasi dari kekaguman Mbah Prapto terhadap semangat leluhur orang Inggris dalam membangun ruang ritual.

Bagi dia, batu-batu raksasa yang disusun melingkar dengan diameter sekitar 350 meter itu merupakan ekspresi rasa ketuhanan yang agung. Para partisipan yang sebagian besar adalah orang Inggris diajak oleh Mbah Prapto untuk membangun rasa keberadaan leluhur dalam gerak hidup keseharian masa kini.

Bukan hanya bersentuhan dengan kekunoan, Mbah Prapto juga ingin mencipta kembali seni ritual di ruang dan masa kiwari. Ia tak mau terjebak pada repetisi bentuk dan atmosfer arkais seni ritual tradisi Nusantara.

Di Stroud, kota kecil di barat daya Inggris yang denyut seni kontemporernya cukup kencang, lelaki gaek yang masih energik ini mengakhiri lokakarya dengan sebuah festival yang mengusung semangat ritual kontemporer.

Di sana ia mementaskan Repairing not Repairing, sebuah seni ritual yang cukup jelas merefleksikan dimensi-dimensi penyembuhan dalam ruwatan, namun melalui kehadiran pecahan-pecahan cermin dan iringan gitar elektrik.

Arsitektur Gerak

Seni gerak Mbah Prapto juga memberi perhatian yang intensif terhadap rumah. Selain merefleksikan kehidupan pribadi, rumah bagi Mbah Prapto adalah muara bagi tubuh yang bergerak antara alam, masyarakat, dan Tuhan.

Mengunduh inspirasi dari ilmu arsitektur tradisional Bali, tempat rumah dibangun dengan spirit mengekspresikan keberadaan tubuh penghuninya, Mbah Prapto membangun konsepsi tubuh sebagai arsitektur yang bergerak.

Kesadaran gerak adalah kesadaran tubuh sebagai arsitektur dalam waktu. Dalam sesi terakhir lokakarya di Hereford, dengan tajuk Coming Home Bowing Mountain, Mbah Prapto mengajak partisipan pada kesadaran akan rumah sebagai perwujudan tubuh.

Bertempat di Michaelchurch Court, sebuah rumah besar yang dibangun pada abad ke-16, latihan-latihan gerak diarahkan pada konsepsi arsitektur. Eksistensi gerak dibangun melalui prinsip dan filsafat arsitektur yang meruang dan mewaktu dengan mendayagunakan tubuh, cita, perasaan, niat, dan benih sebagai awal mula keberadaan.

Latihan gerak Joged Amerta bukanlah diarahkan untuk menyadari gerak, sebagaimana pemahaman umum dalam seni pertunjukan. Bagi Mbah Prapto, keberadaan tubuh adalah keberadaan gerak, gerak yang bukan semata fisik, namun lebih pada gerak ide, gerak yang berbicara.

Gerak sejak mula dimiliki oleh tubuh, sehingga latihan bertujuan membangkitkan sebagai kesadaran. Momen-momen membangkitkan inilah yang jadi salah satu kunci dalam latihan gerak Mbah Prapto. Dalam pergaulan seni pertunjukan di Indonesia, seni gerak Mbah Prapto cenderung tidak—atau belum—diterima sebagai seni.

Banyak yang kesulitan mendefinisikan tentang apa yang dilakoni lelaki kelahiran 1945 ini. Matthew Isaac Cohen yang menganggap berdiri dengan satu kaki di dunia seni dan kaki lainnya di dunia mistisisme—suatu definisi yang tak tepat betul.

Di luar negeri, terutama Eropa, ilmu gerak Mbah Prapto diterima dengan baik di wilayah performance, somatic movement, seni improvisasi, dance theraphy, bahkan shamanisme.

Dalam buku Composing while Dancing (2010), Melinda Buckwalter, seorang editor Contact Quarterly, mencatat Suprapto Suryodarmo sebagai salah seorang penemu metode improvisasi gerak bersama 25 tokoh lainnya dari berbagai belahan dunia.

 

 

 

Tokopedia
Kolom 5 hours ago

Efek Ekor Jas