Rizieq Shihab Serukan Politik Identitas, Katanya Tokcer Tumbangkan Ahok

Habib Rizieq Shihab (tengah) tiba di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1 - 2017) lalu. (Antara/Reno Esnir)
16 September 2018 19:01 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pentolan FPI Rizieq Shihab berjanji tak menggoreng isu politik dengan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) untuk memenangkan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Namun, dia justru mengatakan akan memainkan politik identitas.

Hal itu dikatakan Rizieq Shihab melalui rekaman suara yang diperdengarkan dalam acara Ijtima Ulama II di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Minggu (16/9/2018). Dia mengklaim politik identitas yang dimainkannya terhormat dan bermartabat.

"Saya tegaskan tak akan pernah memainkan politik identitas SARA yang rasis dan fasis serta bertentangan dengan syariat Islam maupun konstitusi. Tapi, akan selalu memainkan politik identitas yang terhormat dan bermartabat,” kata Rizieq Shihab yang dilansir Suara.com.

Dalam anggapan Rizieq, politik identitas turut mempunyai makna positif, bahkan tokcer kala dipakai untuk melawan pemerintahan kolonial. Rizieq Shihab mengklaim, para pejuang kemerdekaan mampu mengusir penjajah asing menggunakan politik identitas.

"Ingat, Indonesia merdeka memakai politik identitas. Ingat, NKRI juga lahir melalui politik identitas, Pancasila pun disusun memakai politik identitas. Wali Songo, sultan di Nusantara, juga Imam Bonjol, Diponegoro, Teuku Umar dan masih banyak lagi para pejuang memakai politik identitas," katanya .

Rizieq menambahkan, dua mantan presiden, yakni Soekarno dan Soeharto juga menggunakan politik identitas saat masih berkuasa. "Tatkala Bung Karno menandatangani Piagam Jakarta 22 Juli 1945 dan juga mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, itupun politik identitas. Tatkala Pak Harto bersama TNI dan ulama serta umat Islam membasmi PKI, juga merupakan politik identitas," klaimnya.

Gerakan politik identitas, lanjut Rizieq juga sudah digunakan para ulama untuk menumbangkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang saat itu dituduh telah melakukan penodaan agama. Politik identitas yang sama dipraktikkan untuk meloloskan lawan politik Ahok di Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu.

"Bahkan saat Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 yang baru lalu, ulama dan umat Islam juga melakukan politik identitas untuk menjunjung tinggi ayat suci di atas ayat konstitusi," bebernya.

Meski demikian, dia menyangkal politik identitas upaya untuk mendiskreditkan salah satu etnis tertentu atau kaum minoritas. "Politik identitas kami bukan politik rasis, bukan politik fasis. Untuk itu, Ijtima Ulama akan terus menghidupkan dan menggelorakan politik identitas umat kebangsaan,” kilahnya.

Ijtima Ulama II secara resmi menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno setelah penandatanganan pakta integritas oleh mantan Danjen Kopassus tersebut. Prabowo tiba sekitar pukul 13.00 WIB saat sidang pleno Ijtimak Ulama II masih berlangsung, Minggu, dan menandatangani pakta integritas tersebut sekitar pukul 14.30 WIB.

Rizieq melalui pesan yang diputar dalam sidang tersebut, menyampaikan ada tiga agenda utama dalam forum tersebut. Pertama, mendengarkan secara langsung alasan Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden bukan cawapres rekomendasi Ijtimak Ulama I, Ustaz Abdul Somad dan Salim Segaf Al Jufri. Hal ini untuk menghindari saling curiga dan perpecahan di tubuh ulama dan Koalisi Keumatan.

Kedua, penandatanganan pakta integritas oleh pasangan calon sebagai bentuk perjanjian yang kuat dan mengikat keduanya. Ketiga, untuk menyusun langkah pemenangan bagi Prabowo-Sandiaga Uno.

Sumber : Suara.com, Antara