Presiden Venezuela Utang ke China untuk Atasi Hiperinflasi

Nicolas Maduro (Reuters)
14 September 2018 16:40 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, BEIJING – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mulai panik mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di negaranya. Hiperinflasi berkepanjangan yang terjadi di Venezuela membuat kehidupan rakyat sengsara hingga memilih migrasi ke negara tetangga. Melihat banyaknya warga yang bermigrasi, Nicolas Maduro dikabarkan mengajukan pinjaman ke China.

Nicolas Maduro berkunjung ke China untuk membahas perjanjian ekonomi. Dia meyakinkan pemodal utama Asia untuk mencairkan pinjaman baru. "Saya pergi dengan harapan besar dan kita akan bertemu lagi dalam beberapa hari dengan prestasi besar," Nicolas Maduro, seperti dikutip Reuters, Kamis (13/9/2018).

Kementerian Luar Negeri China mengatakan Nicolas Maduro berkunjung mulai Kamis (13/9/2018) hingga Sabtu (15/9/2018) atas undangan Presiden Xi Jinping. Kedua negara ini telah bersahabat dan menjalin kerja sama sejak lama.

Kabarnya, China telah berinvestasi sekitar US$50 miliar atau Rp741 triliun ke Venezuela melalui perjanjian pinjaman minyak selama lebih dari satu dekade. Perjanjian ini membantu China mengamankan pasokan energi demi pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi sekutu anti-Amerika Serikat di Amerika Latin.

Dilaporkan ABS CBN News, kunjungan ke China merupakan yang pertama sejak Nicolas Maduro menjadi sasaran pembunuhan. Menurut kabar yang beredar, ada kelompok yang berupaya membunuhnya menggunakan drone pada parade militer di Caracas, Venezuela, 4 Agustus 2018.

Nicolas Maduro terus mendapat tekanan dari rakyat Venezuela yang sudah tidak kuat hidup dalam kemiskinan. Mereka meminta Nicolas Maduro mundur dari jabatannya agar kondisi berubah menjadi lebih baik. Namun, dia justru bergeming sehingga membuat rakyat semakin marah.

Diberitakan sebelumnya, hiperinflasi di Venezuela membuat mata uang Bolivar tidak bernilai. Semua harga kebutuhan pokok di Venezuela sangat tinggi dan mencekik leher rakyat. Kondisi ini terjadi karena produksi minyak bumi yang menurun drastis dan banyaknya utang yang ditanggung Venezuela.