Jokowi Tolak Istilah Emak-Emak, Pilih Sebut Ibu Bangsa

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Gubernur NTB TGB Zainul Majdi (kedua kiri) membagikan buku kepada anak-anak korban gempa di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Selong, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7 - 2018). (Antara/Ahmad Subaidi)
14 September 2018 19:30 WIB Sunartono Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Perang istilah mulai muncul seiring kian dekatnya Pilpres 2019. Jika Sandiaga Uno sudah mem-branding isu "emak-emak" sejak pendaftaran di KPU, Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih sepakat menyebut wanita sebagai ibu bangsa.

Jokowi memilih sebutan itu ketimbang menggunakan istilah "emak-emak", karena ibu bangsa memiliki peran penting dalam mendidik generasi penerus bangsa. Hal itu diutarakan dalam pembukaan Sidang Umum ke-35 International Council of Women (ICW) dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia di Hotel Grand Inna Malioboro, Jogja, Jumat (14/9/2018) sore.

Dalam kesempatan itu, Jokowi kembali memutar video pembukaan Asian Game 2018 dengan menggunakan atraksi sepeda motor. Ia menyampaikan kebanggaannya Indonesia dapat melayani dengan baik 11.000 atlet, 5.550 ofisial, dan 150.000 pendukung dari berbagai negara.

"Tetapi yang paling ramai memang pas pembukaan, itu pakai stuntman, masak presiden suruh loncat yang bener aja. Sebetulnya saya mau boncengin Bu Jokowi tetapi stuntmannya nggak ada, stuntwomen bukan stuntman," katanya.

Jokowi mengatakan hal terpenting dalam event tersebut adalah Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia prestasi dengan 31 medali emas. Dia menekankan 12 peraih medali emas disumbangkan atlet wanita, yang menyalakan api saat pembukaan juga atlet wanita. Simbol itu, kata Jokowi, harus dimaknai sebagai kemampuan lebih dari wanita. "Artinya kita punya srikandi-srikandi yang terus berjuang untuk merah putih," ucapnya.

Di pemerintahan, Jokowi mengaku dibantu sejumlah srikandi seperti Yohana Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek yang lemah lembut. Namun ada juga yang memiliki ketegasan bahkan bisa disebut galak seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti.

"Tetapi yang jelas kalau delapan menteri [perempuan] ini ngambek bareng, pusing saya. Namun lebih pusing lagi kalau ibunya anak-anak yang ngambek," katanya.

Ibu bangsa, kata Jokowi, adalah ibu yang mendidik anak sebagai penerus masa depan bangsa, memperbaiki mentalitas, moral, dan menggerakkan ekonomi keluarga serta masyarakat. "Saya setuju tadi Bu Giwo [Ketua Kowani] menyampaikan istilah emak-emak itu [baiknya] ibu bangsa," katanya.

Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan pihaknya tidak ingin perempuan Indonesia yang sudah memiliki konsep ibu bangsa sejak sebelum kemerdekaan justru dibilang emak-emak. "Kami tidak setuju, tidak ada the power of emak-emak, adanya the power of ibu bangsa, not the power of emak-emak. Sorry ya," katanya.

Alasannya karena sebutan ibu bangsa merupakan suatu kehormatan sekaligus tugas agar mampu menciptakan generasi yang berkarakter, berdaya saing, unggul, inovatif serta memiliki wawasan kebangsaan yang militan.