Kubu Prabowo Ingin Debat Bahasa Inggris, Kubu Jokowi Tantang Tes Ngaji

Joko Widodo (kiri) dan Prabowo Subianto (kanan) memeluk Hanifan Yudani Kusumah (tengah) di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, DKI Jakarta, Rabu (29/8 - 2018). (Instagram/@prabowo)
14 September 2018 16:40 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Menjelang Pilpres 2019, usulan debat capres-cawapres menggunakan bahasa Inggris kembali dilontarkan kubu pendukung Prabowo Subianto seperti pada 2014 silam. Kubu pendukung Joko Widodo (Jokowi) menantang balik untuk melakukan debat Pilpres dalam bahasa Arab, bahkan lomba mengaji dan salat.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding menilai usulan koalisi Prabowo-Sandiaga soal debat dalam bahasa Inggris sebagai tanda mereka kehabisan bahan kampanye. Karding menilai ide-ide seperti itu tidak krusial dan tidak ada aturan yang mengharuskan.

"Kalau mau cari-cari seperti itu saya bisa usulkan lomba ngaji, lomba salat antara capres, jadi jangan aneh-aneh," kata Karding di Jakarta, Jumat (14/9/2018), dilansir Antara.

Menurut dia, debat capres-cawapres harus menggunakan bahasa Indonesia karena sudah ada ukurannya berdasarkan UU No 24/2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara. "Karena itu dalam aturan tidak ada yang mengharuskan debat dalam bahasa Inggris. Itu orang-orang berkampanye dengan satu judul, itu kehabisan bahan," ujarnya.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) itu mengatakan seharusnya para peserta Pilpres 2019 mengampanyekan rekam jejak, program, dan prestasi yang sudah diraih calon.

Tantangan serupa juga dilontarkan anggota TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Indra Hakim Hasibuan. Dia mengusulkan debat pilpres dalam Bahasa Arab karena Bahasa Arab juga salah satu bahasa internasional. Selain itu, mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam.

"Terkait adanya usulan debat Bahasa Inggris kami sangat mendukung. Bahkan, sebaiknya juga debat berbahasa Arab dan tes baca Alquran perlu dilakukan. Mengingat Bahasa Arab juga menjadi salah satu bahasa internasional dan mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, maka bisa sejalan," kata Indra dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/9/2018), dilansir Suara.com.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP itu menuturkan, agar dalam debat Bahasa Arab dan tes baca Alquran adil dan objektif. Nantinya KPU bisa mendatangkan panelis langsung perwakilan dari Arab Saudi dan Mesir. "Agar fair dan objektif, maka panelisnya bisa dari perwakilan ulama terkemuka ataupun syekh dari Saudi Arabia maupun Mesir," kata dia.

Dengan begitu, kata dia, nantinya materi debat yang disampaikan capres-cawapres bukan hanya wacana tetapi konkret. "Kami juga berharap dalam materi debat juga menyampaikan program yang konkrit, bukan hanya sekadar wacana. Misalnya, setiap satu persoalan disertai solusi dan contoh penanganan. Sehingga rakyat Indonesia bisa mengetahui detail dan memahami ide besar ataupun gagasan dari para capres," tandasnya.

Sebelumnya, koalisi partai politik pengusung pasangan bakal calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengusulkan agar debat capres-cawapres diselingi bahasa Inggris.

"Boleh juga kali ya (debat menggunakan bahasa Inggris). Ya makanya hal-hal rinci seperti itu perlu didiskusikan," kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto di Rumah Pemenangan PAN, di Jalan Daksa, Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Menurut Yandri tidak masalah jika debat pasangan calon (paslon) menggunakan bahasa Inggris karena pemimpin Indonesia terpilih nantinya akan bergaul dan berbicara di dunia internasional menggunakan Bahasa Inggris.

Dia menilai tidak masalah menggunaan bahas Inggris dalam debat capres-cawapres walaupun dalam UU tentang kebahasaan itu wajib disampaikan dalam pidato resmi.

Aturan teknis tentang format debat capres-cawapres secara umum sudah diatur dalam Peraturan KPU (PKPU) No 23/2018 tentang Kampanye Pemilu khususnya dalam pasal 48, 49, dan 50.

Sumber : Antara, Suara.com