Soal Tawuran di DIY, Mahasiswa Papua: Pelakunya Orang Kei, Bukan Ambon

Kelompok orang dari Papua berjalan membawa senjata tajam dari mulai Jl Seturan hingga Babarsari, Rabu (12/9/2018). (Harian Jogja - Irwan A. Syambudi)
14 September 2018 07:30 WIB Irwan A Syambudi Nasional Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Presiden Ikatan Pelajar Mahasiwa (IPMA) Papua DIY, Aris Yeimo, mengatakan telah bertemu sejumlah kelompok mahasiswa Papua yang terlibat tawuran di sebuah kafe di Jl Perumnas, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (12/9/2018) dinihari. Menurutnya, kelompok yang bertikai dengan pemuda Papua itu bukan orang Ambon, melainkan dari Kei.

Aris telah mengumpulkan informasi tentang kronologi kejadian yang menyebabkan seorang mahasiswa asal Papua mengalami luka tusuk di bagian dada itu. "Jadi saya tadi malam [Rabu] sudah [mendengar cerita] duduk beraama dengan kawan-kawan yang jadi saksi dan jadi korban. Total ada 14 orang [dari Papua]," kata dia kepada Harian Jogja, Kamis (13/9/2018).

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, Aris menyebutkan ketegangan terjadi saat sebuah botol minuman keras pecah dan memicu gesekan. Mulanya seorang petugas pengamanan berseram menegur baik-baik. Namun seorang lainnya datang menghampiri dan langsung berkata-kata kasar kepada sejumlah orang dari Papua di sana.

"Dari informasi yang saya dapat orang [yang berkata kasar] itu kerja sebagai sekuriti tapi hari itu pas tidak pakai seragam. Mereka ada 4-5 orang duduk di luar, juga sedang minum. Mereka itu bukan orang Ambon, tapi orang Kei" ujarnya.

Berdasarkan keterangannya, situasi memanas berlanjut dengan diwarnai aksi pelemparan botol ke arah kelompok pemuda Papua. Tak lama kemudian, sekelompok massa datang dan terlibat bentrok dengan mereka hingga menyebabkan seorang mahasiswa Papua tertusuk. Mahasiswa Papua menyebutkan kelompok tersebut pernah terlibat kasus serupa belum lama ini.

"Menurut kawan-kawan pelaku adalah orang yang sama pada sekitar Agustus kemarin itu mereka juga selesaikan kasus pernyataan yang sama [dengan orang Papua]. Sesuai dengan pernyataan kemarin itu kalau kejadian sampai terulang maka harus diselesaikan secara hukum. Tapi karena proses hukum lambat, polisi saat itu sudah tahu kenapa tidak amankan barang bukti, pelaku, dan segala macam. Itulah kekecewaan kami [hingga kemudian turun ke jalan mencari pelaku]," ungkapnya.

Aris menyatakan warga Papua yang tinggal di DIY mengaku kecewa dengan orang Kei. Pasalnya, insiden seperti ini sudah dua kali terjadi. "Kita ini tidak punya masalah apa-apa. Kita sama-sama dari timur ke sini [DIY] cuma numpang. Ndak boleh kaya gitu. Kita harus jaga Jogja baik-baik," katanya.

Sementara itu saat ini polisi terus mendalami penyebab penusukan yang terjadi. Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto, mengatakan polisi telah memeriksa tujuh saksi. Namun pihaknya belum dapat memeriksa korban, lantaran korban belum dapat ditemui setelah pulang dari RS Harjolukito.

“Korbannya belum ketemu, saat kami datangi ke rumah sakit sudah pulang. Dicari tidak ketemu sehingga belum bisa di BAP,” katanya.

Terkait laporan polisi, Yuliyanto memastikan laporan sudah masuk Polsek Depok Barat. Pelaporan justru dilakukan oleh teman-teman korban. Hanya saja keterangan dari pelapor tidak maksimal. Terlebih dua pelapor tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP) saat penusukan terjadi.

Di sisi lain polisi juga tengah memediasi kedua kelompok. Langkah awal dengan mendatangi masing-masing kelompok. Upaya mediasi dipimpin langsung oleh Kapolres Sleman AKBP Muchamad Firman Lukmanul Hakim.

“Sudah oleh Kapolres Sleman [AKBP Firman Lukmanul Hakim], mau ketemu dengan masing-masing pihak dulu, jika sudah memungkinkan baru dipertemukan. Jangan bertindak sendiri, pelaku pasti kami cari,” tegasnya.

Tokopedia

Sumber : Harian Jogja