Kronologi Tawuran DIY Versi Mahasiswa Papua: Dipicu Botol Miras Pecah

Kelompok orang dari Papua berjalan membawa senjata tajam dari mulai Jalan Seturan hingga Babarsari, Rabu (12/9 - 2018). (Harian Jogja - Irwan A. Syambudi)
13 September 2018 22:02 WIB Irwan A Syambudi Nasional Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Pertikaian yang terjadi saat sekolompok pemuda asal Papua turun ke jalan di Jl Perumnas, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (12/9/2018) dinihari, dipicu gesekan di sebuah cafe. Berdasarkan versi kelompok pemuda Papua, ketegangan bermula dari pecahnya sebuah botol minuman keras.

Presiden Ikatan Pelajar Mahasiwa (IPMA) Papua DIY, Aris Yeimo, mengatakan telah bertemu dengan sejumlah kelompok mahasiswa Papua yang terlibat pertikaian. Aris telah mengumpulkan informasi tentang kronologi kejadian yang menyebabkan seorang mahasiswa asal Papua mengalami luka tusuk di bagian dada itu.

"Jadi saya tadi malam [Rabu, 12/9/2018] sudah [mendengar cerita] duduk bersama dengan kawan-kawan yang jadi saksi dan jadi korban. Total ada 14 orang [dari Papua]," kata dia kepada Harian Jogja, Kamis (13/9/2018).

Ke-14 orang itu datang ke cafe secara bertahap sejak Selasa (11/9/2018) malam sekitar pukul 21.00 WIB, pukul 00.00 WIB, dan Rabu pukul 01.30 WIB. Mereka datang saling mengajak satu sama lain untuk nongkrong dan berkumpul di tempat tersebut.

Kelompok orang dari Papua yang ada di dalam cafe itu terdiri atas empat perempuan dan 10 laki-laki, termasuk satu pasangan suami istri. Dari ke-14 orang itu, tujuh di antaranya minum miras dan tujuh sisanya yang datang belakangan tidak minum.

"Sekitar jam 01.00 WIB sampai 01.30 WIB itu terjadi gesekan. Biasa kalau ada orang yang datang dari jauh itu kan kita baku sapa, baku sayang. Baku sapa khas Papua itu kan kadang gemas, balik sana balik sini. Nah tidak sengaja entah badan atau lengan mereka ada yang menyenggol botol minum hingga pecah," kata dia.

Pecahnya botol itu yang memicu gesekan. Mulanya seorang petugas pengamanan berseram menegur baik-baik. Namun, kata Aris, ada seseorang lainnya datang menghampiri dan langsung berkata-kata kasar kepada sejumlah orang dari Papua di tempat itu.

"Dari informasi yang saya dapat orang [yang berkata kasar] itu kerja sebagai sekuriti tapi hari itu pas tidak pakai seragam. Mereka ada 4-5 orang duduk di luar juga sedang minum. Mereka itu bukan orang Ambon, tapi orang Kei" ujarnya.

Aris mengklaim kata-kata kasar itu tidak langsung direspons oleh sejumlah orang Papua. Namun dua orang yang ada di luar kafe ikut masuk dan mendorong salah seorang warga Papua untuk memancing keributan.

"Ada tiga kali reaksi, yang ketiga kali dua orang yang dari Kei ini masuk langsung pegang botol lalu lempar sana, lempar sini, dan terkena kepala seorang teman kami yang baru keluar dari kamar mandi. Itu kejadian sekitar pukul 02.15 WIB," ujarnya.

Setelah itu orang-orang Papua yang ada ditempat tersebut mencoba melakukan perlawanan dengan mengejar empat orang yang melempar botol itu hingga ke jalan. Namun ternyata tidak lama kemudian empat orang yang lari datang kembali dalam jumlah lebih banyak ke tempat tersebut.

"Melihat orang Kei datang bawa parang mereka menyelamatkan diri masing-masing. Yang lain menyelamatkan diri, [tapi korban penusukan] korban terlalu mabuk berdiri pas di pintu masuk, langsung ditusuk," katanya.

Pascakejadian itu, korban masih melakukan perlawanan tapi pelaku langsung kabur lagi. Karena korban yang merupakan seorang mahasiswa itu mengalami pendarahan, kemudian dibawa ke RS Harjolukito oleh polisi yang datang ke lokasi kejadian.

Tokopedia

Sumber : Harian Jogja