Nama Bandara Lombok Diganti, PDIP Bantah Perobohan Prasasti SBY

Bandara Lombok (lombok/airport.co.id)
13 September 2018 17:59 WIB Muhammad Ridwan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menampik tudingan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggantikan nama Bandara Internasional Lombok demi merobohkan prasasti peninggalan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Hasto menegaskan merobohkan prasasti peninggalan SBY tidak sejalan dengan pemerintah Jokowi. Menurutnya, gaya pemerintahan Jokowi merupakan pemerintahan yang melanjutkan dan bukan merobohkan peninggalan pemerintahan sebelumnya.

“Kepemimpinan Pak Jokowi itu berkesinambungan, jadi kita enggak model roboh-merobohkan,” ujarnya di Rumah Cemara 19, Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Menurut Hasto, Jokowi bersama tim suksesnya tidak memiliki sikap untuk merobohkan. Dia membandingkan dengan kampanye Prabowo saat Pemilu Presiden 2014.

“Kita enggak model buat Obor Rakyat sebagaimana dulu dilakukan oleh tim kampanye Pak Prabowo, menurut pengakuan Pak Romi selaku Ketum PPP. Jadi kami berkampanye yang berkeadaban, membangun Indonesia, masa berkampanye merobohkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, surat keputusan Menteri Perhubungan nomor KP 1421/2018 tentang perubahan nama Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAMIA). SK itu ditetapkan dan ditandatangani Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada Senin (5/9/2018). Tuan Guru Kiai Haji M Zainuddin Abdul Madjid sendiri adalah kakek Gubernur NTB saat ini, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi.

Menanggapi kabar itu, SBY mempersilakan Jokowi mengubah nama bandara yang sempat diresmikannya pada 20 Oktober 1011 itu. "Apabila pencopotan prasasti Bandar Udara Internasional Lombok, yang saya tandatangani pada 20 Oktober 2011 dulu merupakan keinginan beliau [Jokowi] dan atas saran Pak Zainul Majdi [TGB], serta merupakan pula keinginan masyarakat Lombok, ya, saya persilakan," kata SBY dalam keterangan resminya, Rabu (12/9/2018), dilansir Suara.com.

SBY mengakui dirinya tidak akan menghalangi langkah Jokowi untuk membubuhkan tandatangan pada prasasti baru di bandara tersebut. Namun, SBY mengingatkan jejak sejarah tidak dapat dihapus oleh Allah SWT.

"Namun, saya sangat yakin, catatan Allah SWT tidak akan pernah bisa dihapus," ujarnya. SBY menambahkan, untuk tidak membesar-besarkan perkara tersebut. "Tolong isu ini tak perlu diributkan. Masih banyak yang harus dilakukan oleh negara dan kita semua, utamanya bagaimana membuat rakyat Semakin sejahtera," pungkasnya.