2 Mahasiswa UMS Taklukkan Khuiten Peak Mongolia, Ini Misinya

Ajeng Nurtri Hidayati dan Iqbal Nurii Anam berfoto di markas Malimpa UMS sebelum berangkat ke Mongolia, Rabu (12/9 - 2018). (Solopos/Iskandar)
12 September 2018 20:40 WIB Iskandar Nasional Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dua anggota Mahasiswa Muslim Pencinta Alam (Malimpa) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mewakili Indonesia dalam misi menaklukkan puncak gunung tertinggi di bagian barat Mongolia, Khuiten Peak.

Keduanya yakni Ajeng Nurtri Hidayati dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Iqbal Nurii Anam dari Teknik Sipil UMS. Mereka bertolak dari Bandara Adi Soemarmo Solo, Kamis (13/9/2018) dini hari.

Khuiten Peak berada di ketinggian 4.374 meter di atas permukaan laut. Misi itu sekaligus untuk menguak peradaban Islam di Mongolia.

“Sore ini [kemarin] kami ke Jakarta dan Kamis dini hari kami berangkat menuju Mongolia, transit di dua bandara di China dulu. Rencananya di Mongolia sudah ada tim dan kru sebanyak 12 orang,” ujar Ajeng ketika ditemui wartawan di markas Malimpa UMS, Rabu (12/9/2018).

Selain mendaki gunung, kedua wakil UMS dan Indonesia ini juga akan menguak budaya atau kebiasaan dan agama suku Kazakh Nomad yang mayoritas Islam. Namun mereka ingin mengetahui perbedaan Islam di tempat tersebut yang berhawa dingin.

Berdasar informasi awal yang mereka terima, pada musim dingin suku ini sering kali berpindah ke tempat lain yang ada rerumputannya karena mata pencaharian mereka beternak domba.

Pemilihan ekspedisi ke Mongolia ini antara lain karena hingga kini belum ada wakil Indonesia yang merambah Khuiten Peak. Ekspedisi yang diperkirakan memakan waktu kira-kira dua pekan itu menelan biaya Rp300 juta.

Dana tersebut diperoleh dari UMS, alumni UMS, Malimpa, dan lain-lain. “Kami berangkat atas nama UMS dan Indonesia sehingga bisa dikatakan kami ini pioner pendakian Khuiten Peak dari Indonesia,” papar Ajeng.

Di sana mereka juga akan ikut mempromosikan pariwisata Indonesia khususnya Jateng. Terkait itu dia berharap ekspedisi ini bisa menggugah semangat para pemuda untuk lebih giat melakukan kegiatan positif yang bermanfaat.

Sementara itu, Iqbal menambahkan telah mempersiapkan diri sejak Februari dengan berbagai latihan di antaranya latihan fisik, teknis serta nonteknis, dan sebagainya. Selain itu mereka juga melakukan tryout dengan mendaki Gunung Merapi, Sindoro-Sumbing, dan Merbabu dengan muatan latihan berbeda-beda.

Di antara latihan itu adalah untuk VO2 max, endurance, dan teknik pendakian es. Khuiten Peak sering kali diselimuti salju. Diperkirakan misi tersebut berakhir pada 27 September mendatang.

Dia menjelaskan ada daya tarik utama terkait akses perjalanan yang mereka nilai cukup sulit. Mereka harus jalan kaki dan naik kuda serta unta selama beberapa hari untuk mencapai base camp pendakian.

Ekspedisi ini juga mengemban misi melakukan riset menguak khazanah peradaban Islam di Mongolia, yakni suku Khazakh Nomad yang tinggal di kaki Pegunungan Altai Tavan Bogd yang juga taman nasional di negara tersebut.

“Dari penelusuran kami, suku ini hidup secara nomaden. Maka menarik bagi kami untuk melakukan riset terkait itu. Sesampainya di puncak nanti kami juga akan mengibarkan bendera merah putih,” papar dia.

Sementara itu, Wakil Rektor III UMS, Taufik Kasturi, menambahkan ekspedisi ini merupakan kegiatan dalam rangka memperingati hari jadi ke-60 UMS, serta dalam rangka hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

“Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Lewat event ini kami juga sekaligus studi banding dengan Institute of Finance and Economics National University of Mongolia,” ungkap dia.