Sosialisme Religius

Ahmad Ubaidillah - Istimewa
11 September 2018 18:33 WIB Ahmad Ubaidillah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (8/9/2018). Esai ini karya Ahmad Ubaidillah, dosen Ekonomi Syariat di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan, Jawa Timur. Alamat e-mail penulis adalah ubaidmad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Tanggal 29 Agustus 2018 pekan lalu genap 13 tahun Indonesia ditinggal oleh intelektual muslim berpengaruh Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Untuk mengenang Cak Nur, saya ingat pada simposium tentang pemikiran Nurcholish Madjid di Universitas Paramadina pada 18 Maret 2005.

Dalam simposium tersebut, Bahtiar Effendy, sebagaimana dikutip Luthfy Assyaukani dalam buku Islam Benar versus Islam Salah, menyatakan Cak Nur lebih tepat disebut sebagai seorang ”kapitalis religius” ketimbang ”sosialis religius”. Bahtiar merasa kesulitan berbicara tentang sosialisme religius menurut pandangan Cak Nur karena pemikiran-pemikiran Cak Nur dalam hal ekonomi cenderung  pada kapitalisme.

Pemahaman Bahtiar tentang ketiadaan pemikiran Cak Nur mengenai sosialisme dibenarkan oleh Luthfy Assyaukani. Menurut Assyaukani, pandangan-pandangan keekonomian Cak Nur boleh dibilang lebih dekat dengan liberalisme-kapitalisme ketimbang sosialisme.

Assyaukani mengutip buku Cak Nur Indonesia Kita kemudian menguraikan tentang pentingnya peran keterbukaan dan liberalisasi ekonomi. Privatisasi dan kegiatan ekonomi bebas tidak hanya akan melahirkan dan mendorong ekonomi yang sehat, tetapi juga dapat mempercepat dan memperkuat konsolidasi demokrasi.

Assyaukani juga mengatakan dalam buku tersebut bahwa Cak Nur selalu menekankan pentingnya keadilan dan kesejahteraan sosial sebagai cita-cita politik Islam. Berbeda dengan para pendukung ekonomi sosialis atau ekonomi kerakyatan, keadilan dan kesejahteraan ini harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi yang fair dan bebas.

Benarkah pandangan ekonomi Cak Nur begitu liberal-kapitalistik? Betulkah Cak Nur tidak menyinggung sama sekali sosialisme, bahkan sosialisme religius? Masih layakkah penilaian kedua pemikir tersebut (Bahtiar Effendy dan Luthfy Assyaukani) dipertahankan setelah kita membaca buku Cak Nur yang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam tulisan ini.

Di dalam tulisan ini saya menggali pemikiran ekonomi Cak Nur melalui buku yang dia tulis,  Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Di dalam buku tersebut Cak Nur sebenarnya bukan seorang ”kapitalis” sebagaimana yang dipahami Bahtiar Effendy dan didukung pendapatg Luthfy Assyaukani.

Cak Nur menurut hemat saya justru lebih dekat kepada sosialisme religius. Cak Nur mengatakan tidak dapat dihindari adanya keharusan bagi pelaksanaan sosialisme di Indonesia untuk mencari sumber-sumber bermotivasi dan dasar-dasar justifikasi yang ada dalam agama, dalam hal ini Islam, dan menjadikan kegiatan dan pelaksanaannya sebagai suatu investasi untuk akhirat, kehidupan setelah dunia.

Manifesto

Dapatlah dikatakan bahwa sosialisme yang diusung Cak Nur bersifat religius, bukan sekuler seperti sosialisme Karl Marx. Mengapa religius? Karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius atau karena pengalaman traumatis tentang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Penggunaan predikat religius, kata Cak Nur, dapat dicari dasar pembenarannya yang lebih prinsipiel dan mendasar. Religius akan memberi dimensi yang lebih mendalam kepada cita-cita sosialisme. Sosialisme tidak hanya merupakan komitmen kemanusiaan, tetapi juga ketuhanan.

Cak Nur memberikan semacam manifesto sosialisme religius yang digali dari prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran agama Islam yang secara langsung ada kaitannya dengan jiwa dan semangat sosialisme.

Pertama, seluruh alam raya ini berserta isinya adalah milik Tuhan. Tuhanlah pemilik mutlak segala yang ada. Kedua, benda-benda ekonomi adalah milik Tuhan dengan sendirinya yang kemudian dititipkan kepada manusia (kekayaan sebagai amanat).

Ketiga, penerima amanat harus memperlakukan benda-benda itu sesuai dengan kemauan atau kehendak sang pemberi amanat (Tuhan), yaitu hendaknya diifakkan menurut jalan Allah. Keempat, kesempatan manusia memperoleh kehormatan amanat Allah itu (yaitu mengumpulkan kekayaan) haruslah didapatkan dengan cara yang bersih dan jujur (halal).

Kelima, setiap tahun, harta yang halal itu harus dibersihkan dengan zakat. Keenam, penerima amanat harta tidak berhak menggunakan (untuk diri sendiri) harta itu semaunya, melainkan harus dengan timbang rasa begitu rupa sehingga tidak menyinggung rasa keadilan umum (tidak kikir dan juga tidak boros, melainkan berada di antara keduanya).

Ketujuh, orang miskin mempunyai hak yang pasti dalam harta orang-orang kaya. Kedelapan, dalam keadaan tertentu kaum miskin berhak “merebut” hak mereka itu dari orang-orang kaya, jika pihak kedua ingkar. Kesembilan, kejahatan tertinggi terhadap kemanusiaan adalah penumpukan kekayaan pribadi tanpa memberi fungsi sosial.

Kesepuluh, cara memperoleh kekayaan yang paling jahat adalah riba atau eksploitasi terhadap manusia lain. Kesebelas, manusia tidak akan memperoleh kebajikan sebelum menyosialisasikan harta yang dicintai. Dalam hal sosialisme religius tersebut Cak Nur menyadari bahwa memikirkan dan menemukan segi-segi praktis pelaksanaan suatu gagasan atau ide sering kali tidak semudah memahami prinsip-prinsip gagasan tersebut.

Komitmen dan Tekad

Menurut Intelektual kelas berat ini (sebagaimana dikatakan Buya Syafi’i Ma’arif), hal itu tidak saja menyangkut persoalan komitmen dan tekad, tetapi juga terkait aspek ketelitian, keahlian, dan ketekunan. Inilah tantangan yang harus dihadapi bangsa Indonesia.

Tidak meragukan lagi untuk dikatakan bahwa sosialisme religius adalah suatu keniscayaan dan keharusan sejarah bangsa Indonesia. Sosialisme religius selalu terlibat dalam persoalan praktis kaum miskin dan kaum tertindas. Para eksponen sosialisme religius harus melibatkan diri dalam persoalan-persoalan praktis ekonomi yang dihadapi bangsa kita dengan berpedoman pada sumber-sumber ajaran Islam, yaitu Alquran dan Sunnah.

Barangkali sudah saatnya ekonom-ekonom sosialis-religius mulai memikirkan strategi untuk melawan kebijakan-kebijakan ekonomi yang diterapkan bangsa-bangsa asing di negara ini. Sudah waktunya segenap elemen bangsa ini menghentikan paham ekonomi neoliberal yang disusupkan oleh penjajah-penjajah masa kini. Sudah masanya kita tidak hanya memfokuskan diri pada pengembangan teori-teori, tetapi juga menciptakan gerakan pembebasan ekonomi atas nama sosialisme religius.

 

 

 

Tokopedia