Solo Masuk Zona Merah Penyebaran Radikalisme & Terorisme

Dua polisi bersenjata laras panjang menjaga akses masuk ke lokasi penggeledahan rumah terduga teroris di Dukuh/Desa Bumiaji RT 010B, Gondang, Sragen, Rabu (18/7 - 2018) malam. (Solopos / Tri Rahayu)
11 September 2018 04:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Kota Solo masuk dalam daftar 12 daerah yang dinyatakan sebagai zona merah penyebaran radikalisme dan terorisme di Indonesia. Hal ini terkait sejumlah kasus terorisme yang melibatkan orang Solo baik sebagai pelaku maupun korban.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Kesbanglimas Jawa Tengah Suwondo. "Hal tersebut karena sejumlah kasus terorisme yang terjadi di Indonesia, baik pelaku maupun korban berasal dari Jateng khususnya Solo dan sekitarnya," kata Suwondo saat menjadi narasumber dalam diskusi Saring Sebelum Sharing Literasi Digital Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan terorisme di Masyarakat, di Solo, Senin (10/9/2018).

Menurut Suwondo banyak organisasi yang disinyalir menganut paham tersebut dan berkembang di Jawa Tengah seperti yang masuk di zona merah penyebaran radikalisme dan terorisme itu. Sedangkan daerah yang masuk zona kuning antara lain Banjarnegara dan Banyumas. Sementara itu, di wilayah Kedu terdeteksi ada embrio yang berkembang.

Oleh karena itu, Solo membutuhkan perhatian khusus agar radikalisme dan terorisme dapat diantisipasi. Salah satu upaya itu adalah mewujudkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat, komunikasi, serta koordinasi yang baik antarstakeholder.

Menurut dia, jaringan terorisme dari sekian banyak kasus terorisme di Indonesia telah mengalami perubahan dan perkembangan dari pola satu ke lainnya. Hal ini, dapat dilihat dari beberapa indikasi penyebaran terorisme, seperti kesamaan agenda dan perjuangan.

 Sumber-sumber rekrutmen kader tersebut di antaranya melibatkan ustaz yang terindikasi sebagai tokoh Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Sementara itu, Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) Letkol Laut Setyo Pranowo dalam kesempatan yang sama menyatakan lembaga itu terus memberikan pemahaman masyarakat untuk mengantisipasi berkembangnya terorisme. Selain itu, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan 36 kementerian dan lembaga pemerintah untuk mencegah munculnya paham tersebut di masyarakat.

Sumber : Antara