Pakar: Relawan Jokowi-Ma'ruf Tebar Lele di Selokan Mataram Ganggu Ekosistem

Ratusan pemancing di selokan mataram, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Minggu (9/9 - 2019), untuk memburu 10 ton ikan lele yang disebar Relawan Jokowi Ma\\\'ruf Amin (Rejomulia). (Harian Jogja / Gigih M. Hanafi)
09 September 2018 16:11 WIB Irwan A Syambudi Nasional Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Kegiatan memancing dengan didahului menebar 10 ton lele di Selokan Mataram diprotes oleh masyarakat pecinta sungai. Menurut ahli biologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), tebar lele memang dapat mengganggu ekosistem.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, mengatakan informasi awal yang diterimanya jenis ikan lele yang ditebar adalah lele dumbo. Namun belakang informasi yang diterimanya bahwa kemudian yang bakal ditebar di Selokan Mataram adalah jenis lele mutiara dan sangkuriang.

"Jenis dumbo memang termasuk spesies asing dan invasif. Tapi belum bisa kami pastikan apakah ini ikan lokal atau ikan produksi. Kalau sangkuriang dan mutiara, itu kan sudah bukan spesies asli. Perkawinan silang dari jenis lele, dan kemungkinan besar bisa menggangu ekosistem di sana [Selokan Mataram]," kata dia, Sabtu (8/9/2018).

Donan yang pernah meneliti keanekaragaman jenis ikan di sepanjang Sungai Boyong, DIY, ini menyarankan agar lele lebih baik dibudidayakan daripada dilepas di Selokan Mataram. Dengan dibudayakan di tambak atau kolam budidaya dapat lebih bermanfaat dan tidak terlalu memiliki dampak lingkungan.

Terlebih, Selokan Mataram punya akses ke perairan alami, yakni ke Kali Gajahwong dan Kali Code, sehingga dalam mempengaruhi ekosistem sungai tersebut. "Malah merusak ekosistem di perairan sana. Meski nantinya di Selokan akan dikasih sekat atau jaring. Apa sekat nanti bisa menjamin lele sebanyak itu tak lepas ke perairan?" kata Kepala Museum Biologi UGM ini.

Relawan Jokowi-Ma'ruf Amin Untuk Kemuliaan Indonesia (Rejomulia), mengajak masyarakat memancing di 14 spot Selokan Mataram. Dari panitia disediakan 10 ton lele jenis Mutiara dan Sangkuriang untuk dipancing pada Minggu (9/9/2018) ini.

Sekretaris Jenderal Rejomulia, Andreas Andi Bayu mengatakan acara ini untuk memperingati momentum bersejarah 5 September 1945. Momen itu terkait sejarah bergabungnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kami sudah ke BKIPM DIY [Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan] ikan sudah diperiksa dan tidak ada masalah," katanya.

Pakai Waring

Kepala BKIPM DIY, Hafit Rahman, mengaku telah bertemu penyelenggara kegiatan mancing dengan menebar 10 ton lele. Pihaknya mengonfirmasi apakah lele tersebut betul bakal dilepasliarkan. Pasalnya jika benar dilepasliarkan dikhawatirkan menggangu ikan yang ada di Selokan Mataram.

"Memang jumlahnya [ikan lele yang dilepas banyak dan di area yang sempit. Jadi sama seperti kalau kita berkunjung dengan banyak orang di tempat yang sempit, jadi yang ada di situ juga jadi terdesak," kata dia, Sabtu (8/9/2018).

Pihaknya mendapatkan keterangan dari penyelenggaraan bahwa nantinya lele tidak akan dilepasliarkan. Lele akan dilepas tetapi dibatasi dengan waring dari ujung satu dengan ujung lain. Ikan lele akan dilepas di area pembatas waring lalu dipancing. Apabila sampai batas waktu tidak habis dipancing, maka akan diangkat diambil semua lagi untuk diserahkan kepada masyarakat.

"Artinya kami berharap tetap seperti apa yang disampaikan [penyelenggara]. Dibatasi dan tidak dilepasliarkan. Jadi salah juga malah kalau dilepasliarkan, malah jadi kemana-mana ikannya, enggak bisa ditangkap. Jadi memang dibatasi pakai waring," ujarnya.

Di sisi lain pihaknya juga telah memeriksa sampel jenis ikan lele yang hendak di lepas dan dipancing di Selokan Mataram tersebut. Diketahui jenis lele yang bakal dilepas adalah jenis lele sangkuriang dan lele mutiara yang sudah dibudidayakan oleh petani.

"Kami tidak dalam rangka memberikan izin atau tidak, namun karena kepedulian kami kami harus menanyakan langsung ke penyelenggara," kata dia.