Nasdem: Ternyata Anggaran OK OCE Banyak Dipakai untuk Beli AC

Prabowo Subianto disaksikan Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo menyampaikan orasi kemenangan Pilkada Jakarta, Rabu (19/4 - 2017). (Bisnis/Dedi Gunawan)
09 September 2018 15:45 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Program One Kecamatan One Center of Economy (OK-OCE) yang dicanangkan Anies Baswedan bersama Sandiaga Uno sejak kampanye Pilkada Jakarta 2017 kembali dikritik. Pasalnya, anggaran Rp98 miliar yang dikucurkan Pemprov DKI Jakarta untuk program itu dianggap tidak digunakan tepat sasaran.

Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD DKI Jakarta Bestari Barus menuding program OK OCE hanyalah program lip service atau janji manis. Menurut Bestari, banyak warga Jakarta yang justru mengeluhkan program itu karena tak diimplementasikan sesuai harapan mereka.

Bestari mengatakan sudah ada kurang lebih 45.000 warga yang menjadi anggota OK OCE. Tapi, banyak dari mereka yang mengeluh karena baru sebagian kecil yang sudah diberi bantuan permodalan.

"Saya katakan ke media, program OK OCE adalah program lip service. Memang betul yang daftar 45.000 orang, tapi difasilitasi dengan akses permodalan baru sekitar 300-an saja," kata Bestari saat menghadiri deklarasi Garda Relawan Jokowi (GRJ) di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, Minggu (9/9/2018).

Bestari menjelaskan, DPRD DKI Jakarta telah menyepakati menggelontorkan dana anggaran sebesar Rp98 miliar pada APBD 2018. Anggaran ini digunakan untuk memfasilitasi program OK OCE di 44 kecamatan di Jakarta, namun kata Bestari, tidak digunakan secara baik.

"Dana itu ternyata digunakan untuk persiapan ruang, membeli mesin pendingin [AC] dan segala macam yang tidak terkait secara langsung kepada masyarakat," ungkap Bestari.

Saat anggota dewan melakukan reses, banyak warga Jakarta yang mengeluhkan terkait program OK OCE tak berjalan sesuai harapan. Pasalnya, mereka hanya terus-menerus diberikan pelatihan tanpa diberikan modal.

Bestari meyakini, apa yang dibutuhkan oleh para pengusaha kecil adalah permodalan yang cukup, bukan hanya pelatihan. Terlebih, orang yang melatih tidak sesuai profesi yang dilatih.

"Mereka bilang 'Kenapa sih kami hanya dididik bagaimana cara bikin kue, cara bikin baju, kami ini sudah 20 tahun bikin kue, yang kami butuhkan akses untuk permodalan'. Ini sungguh lucu," tutup Bestari.

Sumber : Suara.com