Pemuda Muhammadiyah: Banyak Politisi Baper, JK Sebaiknya Netral

Dahnil Anzar Simanjuntak. (Istimewa)
08 September 2018 04:30 WIB Feni Freycinetia Fitriani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil A. Simanjuntak angkat bicara terkait situasi politik jelang Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Menurutnya, kondisi kontestasi politik di Indonesia saat ini tidak membangun dan sesuai dengan gagasan dan ide.

"Kondisi politik merujuk pada bahasa anak muda, enggak asyik. Kenapa? Karena dipenuhi oleh politisi baperan dan diisi oleh anak-anak alay," katanya di Kantor Wapres, Jumat (7/9/2018).

Dia menuturkan politisi baperan dan anak alay inilah yang membuat ribut media sosial. Politik yang diusung bukan mengedepankan aktivisme, tetapi terbiasa dengan HP dan ngafe.

Hal tersebut membuat kondisi di media sosial menjadi gaduh serta menimbulkan debat kusir. Menurutnya, kegaduhan politik di dunia maya dapat direduksi apabila para elite dapat bersikap dewasa. "Elite juga harusnya terbiasa dengan kontestasi dan argumentasi yang berbeda-beda. Mau sekeras apapun enggak masalah," lanjutnya.

Dahnil menilai kontestasi politik Pilpres 2019 akan membahayakan apabila melibatkan gerombolan atau menarik massa. Pasalnya, potensi perpecahan atau crash akan muncul.

Untuk itu, PP Muhammadiyah meminta Wapres Jusuf Kalla (JK) agar berada di tengah-tengah untuk meredam  ituasi politik yang bisa sewaktu-waktu memanas. Dahnil meminta JK tidak memihak ke salah satu capres, baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto.

"Saya berharap Pak JK bisa menjadi penengah. Apalagi beliau dapat diterima berbagai kalangan, misalnya kelompok Islam, nasionalis, dan saudagar," ucap Dahnil terkait Pilpres 2019.

Pertemuan antara JK dan perwakilan PP Muhammadiyah di kawasan Medan Merdeka Utara berlangsung selama sekitar 30 menit. Sebelumnya Jusuf Kalla menghadiri acara di Istana Kepresidenan di Bogor, Jawa Barat. 

Tokopedia