Beda Pelemahan Rupiah Saat Ini dengan Krisis 1998

Ilustrasi uang (Antara/Sigid Kurniawan)
07 September 2018 20:20 WIB Puput Ady Sukarno Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Masyarakat diminta tidak perlu khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai puncaknya pada pekan ini hingga nyaris menembus Rp15.000 per dolar. Situasi ini diyakini tak akan menyebabkan krisis seperti yang terjadi pada 1998 silam.

Pasalnya dari segala indikator ekonomi politik antara yang terjadi 1998 dengan 2018 sangat jauh berbeda. Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Denni Puspa Purbasari menyatakan bahwa Indonesia telah memiliki pengalaman sebagai negara yang pernah mengalami krisis-krisis sebelumnya, sehingga dipastikan dapat melakukan aksi pencegahan.

“Masyarakat tidak perlu panik dan reaksioner menghadapi kondisi ini. Situasi Indonesia ini jauh berbeda dibandingkan kondisi pada 1998 atau 2008. Satu hal yang pasti bahwa pada saat ini cadangan devisa kita jauh lebih kuat, lima kali lebih kuat dibanding 1998,” tegasnya, seperti dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis/JIBI, Jumat (7/9/2018).

Hal positif lain menurut Denni, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya aliran masuk modal asing mencapai US$4,5 miliar ke Indonesia. "Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga solid serta peringkat surat utang pemerintah tidak masalah, sehingga kita masuk dalam investment grade yang bagus atau layak investasi menurut lima lembaga pemeringkat ekonomi,” ujarnya.

Kemudian, tak kalah penting adalah independensi Bank Indonesia. “Ini beda dengan intervensi yang dilakukan pemerintah Turki dan Argentina terhadap bank sentralnya, sehingga ada hambatan ketika bank sentral ingin menaikkan suku bunga, misalnya,” kata Denni.

Namun demikian, pihaknya memastikan bahwa Pemerintah juga tidak bersikap santai menghadapi situasi ini. “Pemerintah sangat mawas akan hal ini, dengan menguatkan koordinasi dengan otoritas moneter dan juga Otoritas Jasa Keuangan,” urainya.

Selain itu, tak kalah penting juga bahwa Indonesia memiliki hubungan cukup baik dengan bank sentral negara lain seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Australia.

"Kita punya bilateral soft arrangement, jadi saat misalnya kita butuh dolar, kita bisa minta bank sentral negara-negara itu untuk memback-up, walaupun cadangan devisa kita saat ini ada US$118 milliar,” jelas doktor ekonomi lulusan University of Colorado itu.

Denni memaparkan, pemerintah menahan harga BBM sejak tahun lalu demi menjaga daya beli masyarakat terjaga, termasuk dengan meningkatkan subsidi untuk solar serta efisiensi Premium oleh Pertamina.

Terkait fluktuasi nilai rupiah terhadap dolar AS, Denni mengingatkan bahwa sebagai negara pengekspor minyak dan beberapa komoditas lain, pemerintah juga mendapatkan windfall berupa kenaikan PNBP. “Keuntungan ini antara lain digunakan untuk mensubsidi solar agar dapat menstimulasi produktivitas di bidang industri khususnya transportasi barang dan jasa,” paparnya.

Terkait daya beli masyarakat, Denni masih melihatnya sebagai hal yang positif. Dapat dilihat bahwa konsumsi sudah tumbuh di atas 5%. Namun pertumbuhan ini harus terus dipantau, beserta pula beberapa indikator lainnya.

Intinya, kata Denni, berkaca dari indikator-indikator ekonomi yang baik tadi, masyarakat tidak perlu panik. “Yang terjadi di dunia sana biarlah terjadi di sana, kita tetap saja fokus bekerja membangun bangsa,” katanya.