Dampak Rupiah Merosot: Utang Membengkak Hingga Harga Tempe

Ilustrasi menghitung uang rupiah (Bisnis/Rachman)
05 September 2018 20:23 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rupiah yang terus menunjukkan tren melemah dan bertahan di kisaran Rp14.900-an per dolar AS menimbulkan sejumlah dampak serius bagi ekonomi Indonesia. Penguatan mata uang Paman Sam masih menjadi faktor utama pelemahan rupiah.

Pada perdagangan Rabu (5/9/2018), rupiah tercatat menguat 2 poin atau 0,013% menjadi Rp14.933 per dolar AS dari penutupan perdagangan hari sebelumnya, namun kemudian kembali ditutup melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.938 per dolar AS. Lalu apa dampak lanjutannya bagi perekonomian?

Utang Luar Negeri

Pembayaran utang pemerintah kian besar, karena persentase utang luar negeri Indonesia mencapai 24%, dengan kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) mencapai 40%.

Maret 2018, tekanan terhadap rupiah berdampak pada pembengkakan nilai outstanding utang pemerintah mencapai Rp 10,9 triliun karena kurs rupiah mencapai 13.750/dolar AS. Padahal, kurs patokan pemerintah hanya Rp13.400/dolar AS.

Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), total outstanding utang pemerintah sampai dengan Maret 2018 sebesar Rp4.136,39 triliun. Dari jumlah itu, utang pemerintah dalam valuta asing (valas) sebesar USD109 miliar.

Kini, nilai outstanding utang pemerintah bisa lebih tinggi dengan kurs Rp14.900/dolar AS.

Cadangan Devisa Merosot

Cadangan devisa Indonesia tergerus 10,5% menjadi US$111,9 miliar karena intervensi Bank Indonesia terhadap rupiah di pasar uang. Posisi cadangan devisa per akhir Juli 2018 yang turun menjadi US$118,3 miliar dari US$119,8 miliar pada Juni 2018. Terus merosotnya cadangan devisa Indonesia telah dimulai sejak Januari 2018 ketika cadangan devisa mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$131,98 miliar.

Subsidi BBM Membengkak

Beban subsidi BBM akan membengkak karena pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM hingga tahun depan. Apalagi pemerintah menetapkan subsidi solar 2018 ditambah Rp1.500 menjadi Rp2.000 per liter dan akan berlaku hingga 2019. Defisit APBN berpotensi lebih besar, termasuk akibat membengkaknya subsidi BBM.

Kenaikan Harga

Harga-harga berbagai komoditas impor otomatis naik. Misalnya harga kedelai impor yang sudah mencapai Rp420.000 perkemasan 50 kg di Kepulauan Riau. Dampak ke inflasi tinggal tunggu waktu.

Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada, A Tony Prasetiantono mengungkap pelemahan rupiah terhadap dolar AS memang belum berdampak terhadap inflasi, tapi tinggal menunggu waktu.

"Data Agustus belum muncul malah deflasi, itu karena pengusaha masih menahan diri untuk belum menaikkan harga. Tapi cepat atau lambat penyesuaian itu akan terjadi juga," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (4/9/2018).

Dunia Usaha

Akibat pelemahan rupiah atas dolar Amerika Serikat, pengembang di Indonesia terancam menunda pembangunan seiring dengan kenaikan harga material.

CEO Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda mengatakan efek pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan banyak berdampak pada properti jika segera diatasi oleh pemerintah. Dia hanya mengingatkan, jika kondisi pelemahan ini bertahan 3-6 bulan ke depan, pasti akan berdampak terhadap kenaikan harga material dan menyulitkan proses pembangunan.

“Jika kondisi ini bertahan terus 3-6 bulan ke depan, ini akan berdampak terhadpa kenaikan harga material yang menggunakan bahan impor seperti alumunium, kaca, besi, baja, termasuk sanitair,” kata Ali kepada Bisnis, Rabu (5/9/2018).

Industri Kecil

Industri kecil terkena imbas, misalnya produsen tempe/tahu karena harga bahan baku (kedelai impor) makin mahal. Biasanya situasi ini disiasati dengan memperkecil ukuran tahu/tempe dan mengurangi produksi. Produk-produk elektronik impor, serta produk dalam negeri yang bahan bakunya masih impor, akan naik harga.

Sumber : Bisnis, Liputan6.com