Rupiah Anjlok, Sri Mulyani Batasi Impor Barang Konsumsi

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) mengikuti rapat terbatas terkait strategi kebijakan memperkuat cadangan devisa di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (14/8). - Antara
04 September 2018 16:20 WIB Edi Suwiknyo Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pemerintah menegaskan akan terus meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga perekonomian Indonesia agar dapat menyesuaikan dengan situasi imbas sentimen global. Rupiah kini menembus level terendah sejak krisis 1998.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa langkah paling dekat yang diambil pemerintah adalah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dalam rangka mengatur impor barang konsumsi. Pasalnya, kenaikan dari impor barang konsumsi terutama pada Juli dan Agustus, meningkat tinggi hingga 50% lebih pertumbuhannya.

"Kita akan mengeluarkan PMK besok [Rabu, 5/9/2018] pagi yang mendetailkan sekitar 900 hs code dari bahan bahan komoditas impor barang konsumsi, yang utama, yang nilai tambahnya tidak begitu besar namun dia menggerus devisa kita," kata Sri Mulyani seusai Sidang Paripurna Tanggapan Fraksi RAPBN 2019 di Gedung DPR, Selasa (4/9/2018).

Selain mencegah pelemahan rupiah semakin dalam, Kemenkeu juga akan terus menjaga agar kebutuhan devisa tetap bisa dipenuhi. Sektor usaha yang masih membutuhkan barang barang baku dan barang modal tertentu masih bisa melakukan impor.

"Kita juga akan menyeleksi proyek-proyek yang akan disampaikan oleh menteri terkait, apa-apa saja yang bisa ditunda, yang belum melakukan financial closing, sehingga permintaan terhadap devisa juga bisa dikendalikan," ujarnya.

Pada sisi ekspor, lanjut dia, pemerintah juga akan terus mendorong peningkatan ekspor. Karena walaupun ekspor Indonesia tumbuh, tetapi pertumbuhan ekspor masih lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan impornya.

"Oleh karena itu selain kita kendalikan impor kita juga harus mendorong ekspor, untuk itu kita akan pakai instrumen fiskal seperti kita berikan insentif, kita berikan pelayanan kemudahan bea cukai, kita juga akan memberikan kemudahan termasuk pembiayaan melalui institusi seperti LPEI," terangnya.

Namun demikian, kata Sri Mulyani, dalam suasana gejolak global seperti ini, di mana setiap hari selalu akan ada perkembangan berita yang berasal dari perkembangan perekonomian negara lain, dan itu selalu pengaruhnya kepada sentimen di dalam negeri.

"Maka, meskipun kita juga sudah melakukan langkah langkah tersebut, kita tetap akan waspada," ujarnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menegaskan bahwa pemerintah memastikan akan terus menjaga faktor fundamental agar semakin baik sehingga tidak menjadi faktor yang menciptakan sentimen negatif.

Sri Mulyani juga akan menyampaikan bahwa Indonesia memiliki struktur ekonomi yang berbeda dengan emerging country yang lain. Hal ini untuk menegaskan kepada investor bahwa kondisi Indonesia jauh lebih baik daripada emerging country lainnya yang terpuruk, seperti Turki, Brasil, dan Argentina.

"Kita akan terus sampaikan kalau Indonesia berbeda, baik dari segi fiskalnya kita lebih hati-hati, di mana defisit kita sekarang di desain di bawah 2%, primary balance kita mendekati nol, dan kita juga melakukan kebijakan untuk mengoreksi neraca pembayaran kita agar dia tidak menjadi faktor negatif, maka kita berharap bahwa dengan kehati-hatian ini Indonesia akan dibedakan dari emerging country lain yang fundamentalnya lebih rapuh," ujarnya.

Dengan demikian, lanjutnya, mereka tetap akan bisa menjaga, baik dari sisi kebutuhan, dari sisi pengelolaan fiskal maupun dari sisi pengelolaan ekonomi neraca pembayaran sektor riil.

Selain itu, Sri Mulyani menyatakan akan mengambil tindakan tegas jika ada pihak-pihak yang mengeruk keuntungan dari spekulasi mata uang. Kemenkeu bersama OJK dan BI akan mengambil langkah untuk memonitor secara sangat detail dan tegas dari para pelakunya.

Menurutnya, hal tersebut adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk bisa membedakan para pelaku ekonomi yang genuine, atau yang memang betul-betul bekerja keras untuk menjaga perekonomian dan perusahaanya dan menjaga kegiatan ekonomi agar tetap bisa bertahan di tengah goncangan global, ataukah mereka yang mencoba mencari keuntungan sendiri.

"Ini adalah suatu hal yang biasa kita lakukan pada saat situasi kewaspadaan seperti ini. Soal sanksi nanti kita lihat," ujarnya.

Tokopedia