Gimmick di Wajah Televisi Indonesia

Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi - Istimewa
03 September 2018 20:58 WIB Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (1/9/2018). Esai ini karya Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, penikmat seni dan dosen di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Usuludin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah rhesa,pratiwi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Televisi dan segala pernik-perniknya kini bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia. Zaman dulu televisi menjadi kebutuhan sekunder, bahkan tersier, bagi sejumlah orang, tetapi saat ini televisi menjelma sebagai hal yang biasa bagi mayoritas masyarakat.

Televisi adalah media yang dekat dengan masyarakat, terutama bagi mereka yang kerap menggunakan televisi untuk memenuhi kebutuhan informasi sehari-hari. Televisi memiliki kemasan lebih lengkap dibandingkan radio.

Dengan kemasan audio visual, televisi memungkinkan audiens (penonton) menyaksikan siaran melalui indra penglihatan dan pendengaran mereka. Terkait konten, penayangan siaran televisi pada dasarnya tidak bergantung pada konsep kreativitas penulis naskah atau tim kreatif saja, melainkan juga bergantung pada kemampuan profesionalisme seluruh tim.

Sebuah tayangan televisi dikemas melalui sejumlah proses, mulai dari praproduksi, produksi, sampai pada pascaproduksi (Mabruri K.N., 2013: 12). Format tayangan televisi yang biasa disaksikan oleh masyarakat pada dasarnya dibuat melalui proses yang sifatnya kontinu.

Naratama (2000) menyatakan format acara televisi sebagai sebuah perencanaan dasar atas konsep acara televisi yang akan menjadi landasan kreativitas dan desain produksi. Hal ini terbagi dalam sejumlah kriteria utama yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara.

Salah satu yang pernah menjadi viral adalah warganet atau netizen mengomentari Iis Dahlia atas komentar pedas yang menuai kontroversi. Melalui video yang beredar, dapat diketahui Iis memberikan komentar pedas atas tidak maksimalnya penampilan peserta audisi Kontes Dangdut Indonesia (KDI), Waode Sofia.

Bersama juri lainnya, Beniqno Aquino dan Trie Utami, Iis mempermasalahkan peserta asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, ini yang menurut dia tidak ”cetar” dalam mempercantik diri saat mengikuti audisi. Gadis berusia belia tersebut terlihat tampil natural tanpa bedak dan lipstik.

Kamera televisi tentu memiliki pakem tertentu atas tampilan yang disiarkan. Singkatnya, media berbasis audio visual memiliki batasan tersendiri untuk membuat tayangan menjadi eye catching, menarik perhatian khalayak, sehingga tak jarang perlu polesan make up yang ciamik.

Sekilas penampilan sederhana Waode Sofia memang kurang ”cetar”, namun di sisi lain, mengingat usia Sofia yang masih belasan tahun, tampil tanpa make up adalah sesuatu yang wajar. Pernyataan Iis terhadap Waode Sofia pada akhirnya menjadikan sejumlah artis yang merupakan jebolan ajang pencarian bakat turut berkomentar.

Mytha Lestari, Fatin Shidqia, dan Citra Scholastika turut angkat bicara dan menyayangkan sikap Iis Dahlia. Dukungan juga muncul dari sejumlah artis yang mengenal Iis. Mereka menyayangkan sikap beberapa artis muda yang cenderung sentimentil. Bagi mereka, artis adalah pelaku media.

Konsep acara sebuah televisi bergantung pada kerja sama semua pihak, tak terkecuali artis yang mengisi acara itu. Bila perlu dengan improvisasi tertentu guna menarik perhatian penonton. Menanggapi hal tersebut, Waode Sofia menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi.

Melalui akun Instagram, Waode Sofia menyatakan dirinya tidak merasa tersindir atas perkataan juri saat audisi. Waode Sofia merasa dirinya memang tidak berpenampilan maksimal, lupa membawa make up dan gaun untuk audisi. Hal inilah yang menurut dia membuat juri terkesan kecewa dan meminta dia untuk keluar hingga kemudian dirias sehingga  tampil baru.

Banyaknya komentar negatif muncul seiring dengan beredarnya video di media sosial yang dipotong dan tidak utuh. Video itu hanya menunjukkan Iis dan para juri lainnya menyatakan komentar pedas kepada Waode Sofia tanpa memerhatikan bahwa sebenarnya Waode Sofia masih diperkenankan kembali ke audisi, lengkap dengan make up dan dandanan gaun ala panggung.

Hal ini nyatanya tidak membuat komentar para netizen surut begitu saja. Masih banyak ”kicauan” pengguna media sosial yang terkesan menghujat Iis atas sikapnya.

Dramatisasi Tayangan

Merujuk pada tulisan Haris Firmansyah di salah satu media online Indonesia tertanggal 25 Juli 2018, muncul analogi sosok Iis Dahlia yang identik dengan Simon Cowell, juri dalam ajang pencarian bakat di luar negeri.

Dengan sikap cenderung antagonis dan “terlalu” jujur dalam berkomentar, Iis didapuk sebagai juri yang mungkin saja paling menarik perhatian masyarakat, tak terkecuali para peserta audisi. Haruskah sikap Iis sedemikian sehingga menuai banyak respons dari masyarakat?

Terlepas dari apakah respons positif ataukah negatif, secara skeptis ini tidak sepenuhnya perlu diperdebatkan. Televisi sebagai media berhak menentukan cara untuk menarik perhatian publik. Sadar atau tidak sadar, inilah yang diperlukan media untuk menunjukkan eksistensi agar tetap hidup di tengah persaingan global dan derasnya aliran informasi.

Kemasan inilah yang selama ini bermain di tingkat psikologis masyarakat, tanpa kemudian dinyana sebagai sebuah terpaan. Kemampuan pengelola televisi mengemas tayangan sesuai konsep dan kreativitas adalah sebuah keniscayaan.

Media tak ubahnya tubuh yang terdiri atas beberapa organ terhubung, terkait satu sama lain dalam sistem, dengan cara kerja saling bertautan. Tak jarang media televisi mengemas tayangan dengan beberapa ”bumbu” untuk mempercantik pesan yang disampaikan.

Fungsi televisi yang tidak hanya media informative, melainkan juga sebagai media hiburan sekaligus persuasi dengan target tertentu sesuai selera pasar.  Gimmick adalah salah satu kebiasaan siaran di televisi yang mungkin jarang disadari oleh publik ketika menonton tayangan televisi.

Gimmick adalah menarik atensi penonton dengan bermain di psikis mereka. Menayangkan sejumlah tayangan yang berbau dramatisme, bombastis, penuh dengan kesedihan dan human interest, bahkan tak jarang memunculkan tayangan yang menerapkan konsep tak lazim lengkap dengan unsur mistis.

Pada akhirnya sebuah tayangan akan mendapat tempat di hati masyarakat, menarik banyak penonton, meningkatkan rating, dan berujung pada banyaknya iklan yang berlomba-lomba untuk masuk di dalamnya.

Gimmick bekerja sebagai cara sekaligus alat. Gimmick lazim digunakan sebagai tipuan, terutama untuk mencapai target media menarik banyak audiens. Bagi media gimmick bukan hanya tipuan tanpa hasil. Secara dominan gimmick boleh jadi memengaruhi sejauh mana audiens menempatkan tayangan televisi di benak mereka.

Frekuensi penonton menyaksikan tayangan televisi sebanding dengan sejauh mana penonton terpengaruh tayangan televisi tersebut. Begitu pula dengan tingkat exposure atas tayangan televisi yang ditonton, berpengaruh terhadap seberapa besar intensitas serta penanaman nilai-nilai atas konten tayangan yang ditonton.

Gimmick menjadi alat yang sekali lagi lazim bagi media menuju pencapaian nilai atas konten tayangan kepada penonton. The medium is message, begitu kata Marshal McLuhan. Ia membenarkan bahwa pesan adalah media itu sendiri. Baik secara praktis maupun operasional, adanya konsekuensi personal serta sosial dari sejumlah media merupakan perpanjangan dari diri kita sendiri terutama dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi.

Dengan demikian, tak dapat dimungkiri ketika sebuah pesan informasi ditayangkan dan disiarkan, pesan tersebut secara tidak langsung merupakan bentuk perpanjangan dari orang-orang yang berada di balik media, memproduksi dalam balutan konstruksi pesan sedemikian rupa.

Konstruksi Pesan

Tak ubahnya sebuah kemasan, tayangan televisi pun salah satunya adalah bentuk konstruksi pesan atas realitas yang sebenarnya berasal dari tangan kedua (second hand reality). Lantas, bagaimana kaitannya dengan pasar dan ruang gerak iklan bagi media?

Muncul guyonan bahwa tayangan televisi dengan rating tinggi pasti kerap ditemani tayangan iklan. Seringnya iklan yang muncul membuat audiens tampak jenuh, namun mengapa atensi mereka tidak berpindah ke tayangan lain bahkan media dengan platform lain?

Seolah-olah tercipta hubungan kausalitas, media memerlukan modal dan iklan untuk tetap hidup dan keberadaan iklan dalam media bergantung pada besarnya kuantitas audiens yang menonton. Tentu tidak terlepas dari kebutuhan dan selera masyarakat saat ini yang boleh jadi gemar dengan hal-hal berbau dramatis dan bombastis.

Perkembangan teknologi dan media nyata membawa perubahan pada tingkat kognisi dan pemahaman masyarakat terhadap pesan yang diterima. Era digital tentu memunculkan inovasi baru terhadap majunya platform media massa.

Menilik kuatnya tayangan televisi yang mulai bersinergi dengan media digital lainnya, tak pelak memunculkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Untuk itu, perlu literasi bagi masyarakat terhadap penggunaan media. Bermedia dengan cara yang santun, beretika, cek dan re-cek, serta mengedepankan faktualitas.

Melihat melalui gimmick dan dramatisme sejenisnya pada televisi, meski terkesan biasa dan niscaya adanya, diharapkan esensi pesan sebuah tayangan harus tetap diperhatikan. Artis dan para pelaku hiburan tentu harus benar-benar memikirkan apa yang menjadi buah pikiran dari tayangan yang dikemas media.

Tentu tidak memungkiri adanya kebutuhan atas eksistensi media, tetapi secara moral dan sosial media tetap menjadi pilihan atas kebutuhan informasi masyarakat. Dengan demikian, perlu ada keseimbangan di antara keduanya sehingga etika atas muatan penyiaran dalam balutan digitalisasi media tetap terjaga seiring dengan kebutuhan target pasar media yang juga harus terpenuhi.

Tokopedia