Rupiah Ambruk: Efek Perang Dagang Hingga Politikus Borong Dolar

Ilustrasi menghitung uang rupiah (Bisnis/Rachman)
03 September 2018 21:53 WIB Mutiara Nabila Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rupiah akhirnya menembus Rp14.800 per dolar Amerika Serikat (AS) karena faktor eksternal yang sangat kuat. Perang dagang AS dengan sejumlah negara dan risiko geopolitik membuat indeks dolar AS tak henti menguat. Namun penyebabnya tak hanya itu.

Pada Senin (3/9/2018), rupiah ditutup melemah 105 poin atau 0,70% menjadi Rp14.815 per dolar AS dan tercatat melemah 8,50% sepanjang 2018. Adapun, indeks dolar tercatat menguat 0,02% menjadi 95,16 dari posisi sebelumnya.

Sejumlah analis mengatakan bahwa untuk saat ini intervensi yang dilakukan oleh BI tetap tidak akan memberikan pengaruh besar selama faktor eksternal masih memberikan dampak yang sangat kuat.

Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan bahwa dampak dari perang dagang membuat mata uang negara-negara emerging market (EM) ambruk seperti di Brasil, Turki, dan Argentina. Hal itu membuat indeks dolar AS mengalami penguatan yang luar biasa.

“Dampak dari perang dagang, masalah suku bunga dari bank sentral Amerika juga yang diketahui akan naik lagi bulan ini, berarti BI sendiri juga harus menaikkan suku bunga pada September,” ujar Ibrahim saat dihubungi Bisnis/JIBI, Senin.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah di posisi saat ini cukup wajar. Menurutnya, meskipun Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi, laju pelemahan rupiah masih belum dapat tertahan. Untuk intervensi selanjutnya yang paling mungkin dilakukan BI adalah kembali menaikkan suku bunga.

“Pemerintah bisa berupaya menyusutkan current account deficit (CAD). Saat ini satu-satunya cara menstabilkan rupiah adalah menaikkan suku bunga. Meskipun kenaikan suku bunga yang pertama 50 basis poin, kemudian 25 basis poin dan tidak direspons positif oleh pasar, tetapi itu tetap cara terbaik untuk menstabilkan rupiah,” paparnya.

Kenaikan suku bunga dinilai akan berdampak pada leasing sehingga berpotensi menimbulkan masalah bagi perusahaan dan bank finansial. Masyarakat akan kesulitan untuk melakukan pembelian secara leasing, dan salah satunya akan mempengaruhi penjualan otomotif dan properti.

Adapun, Ibrahim menyarankan agar pemerintah lebih berani membatalkan DMO batu bara karena bisa menjadi salah satu ekspor yang luar biasa dari Indonesia walaupun kebutuhan batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia sangat tinggi.

“Pemerintah sudah mengalihkan ke CPO tapi tetap tidak mampu mengerek rupiah. Mungkin kalau DMO batu bara dibatalkan, bisa saja pengusaha batu bara melakukan ekspor lebih banyak dan cepat dibandingkan dengan Australia, yang tentunya dapat mengerek ekspor negara,” kata Ibrahim.

Selain itu, tahun politik juga semakin memicu gejolak rupiah karena banyak politikus yang membeli dolar AS sebanyak-banyaknya untuk membiayai kampanye. Hal itu membuat rupiah memiliki potensi untuk melemah hingga Rp15.000 per dolar AS.

“Tahun politik juga wajar rupiah mengalami pelemahan, nanti kalau sudah selesai pemilu, akan banyak politikus yang menjual dolar AS-nya, semoga bisa kembali menguatkan rupiah, kembali ke Rp14.600 per dolar AS saja sudah cukup luar biasa.”

Untuk krisis, Ibrahim menilai masih jauh, karena dari segi fundamental Indonesia masih dalam keadaan baik. Ibrahim memproyeksikan rupiah berada di posisi Rp14.770 – Rp.14890 per dolar AS dalam sepekan kedepan.

Wahyu Laksono, analis Central Capital Futures mengatakan, pemerintah bisa melakukan intervensi berupa koordinasi dengan bank sentral se-Asia, terutama dengan China, untuk mendiskusikan upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah pelemahan mata uang yang disebabkan oleh faktor eksternal.

“Untuk krisis saat ini belum ada tanda-tanda. Sejauh ini pemerintah sudah melakukan kinerja yang baik, memaksimalkan segala alat dan kesempatan yang ada. Tetapi memang sentimen global masih merajai pelemahan mata uang saat ini,” kata Wahyu.

Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah menciptakan kebijakan yang berguna untuk jangka panjang, melakukan koordinasi dengan bank sentral seperti membuat kebijakan swap bilateral, atau menaikkan suku bunga. Wahyu memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.700 – Rp14.900 per dolar AS untuk jangka pendek. Posisi Rp15.000 per dolar juga bukan tidak mungkin tercapai jika melihat kondisi saat ini.