Nasionalisme dan Media Sosial

Gamaliel Septian Airlanda - Istimewa
02 September 2018 15:59 WIB Gamaliel Septian Airlanda Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (31/8/2018). Esai ini karya Gamaliel Septian Airlanda, dosen di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Alamat e-mail penulis adalah gairlanda@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Agustus 2018 telah berlalu. Di beberapa ruas jalan masih terlihat umbul-umbul pertanda pesta ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Pada Agustus lomba-lomba dan karnaval diselenggarakan di mana-mana. Inilah negeri dengan beragam suku yang harus dibanggakan.

Riuhnya pesta ulang tahun kemerdekaan dilanjutkan meriahnya Asian Games 2018. Di beberapa channel Youtube ada unggahan video yang bertuliskan ”Indonesia Kebanggaanku”. Agustus tahun ini memang bulan yang cukup berwarna. Kita bisa melihat suporter pemain badminton yang berteriak-teriak memuja idola mereka.

Mereka meneriaki smash lawan dengan,”Uuuu...!” Inilah negeri yang sangat indah namun terkadang warganya lupa membedakan makna ekspresi kesal atau kecewa atau ketertarikan terhadap sesuatu. Bukankah kita bisa melafalkan ”uuuu...!” dengan berbagai ekspresi?

Coba lafalkan dengan perbedaan intonasi serta emosi, satu kata namun beda makna. Kadang-kadang seperti itulah yang membuat kita lupa memaknai ”Indonesia”. Makna asli yang muncul dari hakikat manusia Indonesia seutuhnya dan tidak mampu digantikan oleh emoticon atau kata-kata indah di media sosial.

Memanjat Tiang Bendera

Tentu kita belum lupa dengan kisah seorang anak yang memanjat tiang bendera dan kemudian menjadi viral di media sosial. Ketulusan hati seorang anak yang hakiki dan sarat dengan hakikat kemanusiaan yang penuh nasionalisme. Mungkin di benaknya tidak terpikir akan menjadi heboh dan viral.  

Mungkin di hatinya hanya ada rasa bangga ketika Sang Merah Putih berkibar sempurna. Layaknya seorang anak yang ingin selalu dekat dengan ibunya tanpa melihat kecantikan dan harta benda sang ibu. Cerita ini cukup memunculkan perhatian di media massa dan media sosial serta memicu semangat nasionalisme di berbagai tempat.

Tentu juga memicu anak-anak seusianya bangga menjadi generasi muda Indonesia. Media sosial memang punya cerita sendiri. Kisah sang anak tidak berhenti pada aksi heroik memanjat tiang bendera. Alur cerita berjalan maju hingga dia berhasil menginjakkan kaki di Istana Merdeka.

Cerita berikutnya adalah hadiah ”uang jajan permen” yang bernilai puluhan juta rupiah. Sadarkah kita ikut ambil bagian mengubah ketulusan hati tersebut dengan ukuran like atau repost atau subscribe atau follow yang berujung pada viral? Apakah itu hal yang salah? Saya tidak berani memastikan karena salah dan benar memiliki porsi masing-masing sejak masa Adam dan Hawa.

Izinkan saya mengemukakan salah satu sudut pandang. Ketulusan dan kebanggaan terhadap negara yang muncul dari hati seorang anak saya yakin adalah ketulusan yang paling murni. Sebagai bentuk apresiasi muncullah berbagai hadiah dari berbagai pihak yang boleh saya bilang tulus atau boleh juga saya bilang akibat informasi yang menjadi viral.

Nasionalisme si anak terbangun sendiri melalui proses memaknai Sang Merah Putih bagi dirinya dan kini mulai berganti dengan nasionalisme berbasis hadiah. Terang saja hal ini terjadi karena kemudian muncul berbagai video aksi yang sama dalam rangka 17 Agustus yang kemudian bermunculan bak jamur di musim penghujan.

Dimulai dari nasionalisme murni kemudian berjalan menjadi nasionalisme viral di media social  dan berakhir pada teori nasionalisme berbasis hadiah. Dari sudut pandang keilmuan, perkembangan seorang anak sangat terpengaruh lingkungan sekitar serta contoh nyata yang diproses melalui rangsangan berbagai macam indra.

Hal ini akan membentuk sebuah paradigma dalam pikirannya. Paradigma akan dibawa hingga dewasa bahkan mungkin diturunkan kepada anak cucunya. Bukankah kita sekarang ini juga hidup atas dasar paradigma turun-temurun? Masih ingat cerita kakek dan nenek kita tentang perbedaan penjajah Belanda dan Jepang?

Banyak di antara kita akan menyatakan penjajah Jepang lebih kejam daripada Belanda. Apakah kita tau situasi sebenarnya pada masa itu? Apakah catatan sejarah cukup untuk memastikan kebenaran paradigma tersebut? Hal yang sama akan terjadi ketika sang anak pemanjat tiang bendera menceritakan kisahnya 40 tahun atau 50 tahun dari sekarang.

Hipotesis

Apa yang akan dia ingat? Hadiah? Bertemu Presiden Republik Indonesia? Atau kebanggan atas bendera merah putih? Oleh karena itu, pertanyaan saya akan berlanjut pada: bagaimana jika proses sosial membuat pergeseran paradigma seorang anak?

Dampaknya tidak akan hadir secara langsung pada 2018 akan tetapi 100 tahun ke depan baru kita rasakan. Mungkin hipotesis ini terlalu dini saya lontarkan tanpa penelitian yang akurat. Saya ingin menyampaikan bahwa cikal bakal paradigma dimulai dari persepsi yang sederhana.

Satu tindakan sederhana akan membentuk kebiasaan yang berkelanjutan. Ukuran viral yang mengarah ke subjek tertentu terkadang justru menjadi ukuran masif karena dianggap sebagai contoh benar. Contoh yang dilihat, didengar, ataupun dibaca. Jika nasionalisme harus menjadi viral, mengapa kita lebih sering menghujat negeri ini, bahkan hingga warga negeri lain mendengar keburukan itu?

Sadarkah kita kebiasaan kita ini akan menjadi cerita 100 tahun ke depan? Jika nasionalisme diukur dengan like, mengapa tanah Nusantara yang setiap hari memberi makan kita, kita injak-injak sebagai tempat hidup, bahkan kita beri polusi demi kepentingan manusia tidak menjadi viral?

Jika nasionalisme diukur dengan repost, mengapa kita lupa dengan guru-guru yang mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal yang menghampiri setiap anak yang ingin belajar tanpa Instagram?

Jika nasionalisme diukur dengan subscribe, mengapa tidak setiap hari dalam satu tahun kita mendendangkan Indonesia Raya dan menjadikan lagu ini di puncak tangga lagu paling populer di negeri ini?

Ibu Pertiwi telah memberikan segalanya secara cuma-Cuma: kemerdekaan, hasil bumi yang melimpah, keindahan gunung, keindahan laut, keindahan danau, keindahaan budaya, keindahan warna kulit setiap suku, keindahan nyanyian daerah, kenikmatan suhu, keberuntungan cuaca, dan sebagainya.

Nasionalisme bukanlah rasa yang dibangun atas dasar apresiasi hadiah. Nasionalisme adalah rasa syukur karena kita diberi sesuatu oleh negeri ini. Negeri ini telah memberi lebih dahulu, oleh karena itu nasionalime wajib kita miliki.

Tanda Syukur

Suatu saat ketika generasi baru pada abad yang baru telah muncul, kita bisa bercerita tentang Sang Saka Merah putih bukan karena Rp50 juta, namun karena hati ini tergetar saat mengibarkan sebagai tanda syukur negeri ini telah merdeka.

Contoh sederhana bagi kita, sudahkah kita menaati lampu lalu lintas sebagai tanda nasionalisme? Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya untuk menjaga keelokan Nusantara?

Sudah berapa banyak prestasi mengharumkan Indonesia di kancah internasional? Sudah berapa kali kita mengharumkan nama negeri ini ketimbang menghujatnya? Bandingkan dengan jumlah viewer, like, followers, atau subscriber yang kita punya.

Kiranya kita bisa membangun nasionalisme yang hakiki sebagai manusia Indonesia seutuhnya, bukan sebagai manusia yang bersembunyi di balik identitas di media sosial atau jagat maya. Orisinalitas seorang manusia bisa tampak ketika berperilaku dalam kehidupan nyata.

Nasionalisme akan tampak ketika kaki kita menginjak bumi Nusantara, tangan kita memegang erat persatuan bangsa, bibir kita penuh senyuman ramah, hingga pikiran ini terfokus pada kemajuan negara. Kiranya kita juga mampu menciptakan pembelajaran paling tepat bagi generasi muda tentang makna nasionalisme.

Nasionalisme yang bukan barang musiman, yang tak butuh viewer atau like atau repost. Nasionalisme murni yang muncul dari nurani. Viewers serta followers di dunia maya tidak akan mencintai bangsa ini sekuat cinta warga negara yang terpampang lambang Garuda Pancasila di kartu tanda penduduk mereka.