Rupiah Tembus Rp14.710/dolar AS, Sri Mulyani Waspada

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Antara/R. Rekotomo)
31 Agustus 2018 19:00 WIB Rinaldi Mohammad Azka Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rupiah terus tergerus menembus level pelemahan terbaru ke level Rp14.710/dolar AS, kondisi ini dinilai sebagai dampak persepsi memburuknya persepsi investor global terhadap perekonomian emerging countries. Pemerintah pun terus siaga dan waspada melihat pergerakan kurs tersebut.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan saat ini pemerintah terus memacu perbaikan defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan. Fokus tersebut sebagai upaya untuk mengurangi sentimen negatif dari dalam negeri.

Sedangkan menghadapi sentimen global, Sri Mulyani mengaku pemerintah akan terus memperhatikan dan mewaspadai segala sentimen tersebut dan pengaruhnya terhadap rupiah. "Ya, kami akan awasi dan waspadai [pelemahan ini]," imbuhnya pada Jumat (31/8/2018).

Sementara itu, Project Consultant Asian Development Bank Institute Eric Sugandi mengatakan pelemahan yang terjadi saat ini karena faktor persepsi para investor global tentang kondisi ekonomi emerging countries. Akibat dari pelemahan peso Argentina dan lira Turki, ekonomi negara emerging dianggap memburuk.

Oleh karena itu, Eric menyarankan Bank Indonesia dan pemerintah melakukan bauran kebijakan jangka pendek untuk menahan pelemahan rupiah ini. "Untuk strategi jangka pendek, saya pikir BI akan lanjutkan intervensi di pasar valas dengan menjual dolar AS. Pemerintah dan BI juga akan lanjutkan intervensi di pasar SBN dengan membeli SBN jika terjadi aksi jual masif oleh investor," jelasnya.

Selain itu, lanjutnya Badan Usaha Milik Negera (BUMN) juga dapat membantu menahan pelemahan dengan melakukan buyback saham-saham mereka saat terjadi aksi jual masif oleh investor.

"Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dalam beberapa minggu ke depan, BI kemungkinan perlu menaikkan kembali suku bunga acuan BI 7 days repo rate sebesar 25 bps ke 5,75% di bulan depan," paparnya.

Tokopedia