Asian Games dan Nation Building

Suwarmin - Dokumen Solopos
30 Agustus 2018 20:38 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/8/2018). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- “Menjadi olahragawan yang lebih baik akan membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik.” Kalimat itu di antaranya diungkapkan Carles Folguera, Direktur La Masia, pusat pendidikan dan pelatihan sepak bola klub raksasa Spanyol FC Barcelona.

Itulah sebabnya, banyak pemain belia yang berguru di La Masia bukan hanya berlatih sepak bola, namun juga mengenyam pendidikan formal. Pemain sekaliber maestro seperti Andres Iniesta juga kuliah.

Bukan hanya itu, seperti dikutip dari laman resmi FC Barcelona, Folguera juga mengakui peran penting keluarga dalam proses pembinaan. ”Keluarga adalah aspek penting lainnya karena mereka meninggalkan milik mereka yang paling berharga. Kami memasukkan mereka dalam proses pendampingan,” kata dia.

Hal itu dilakukan karena filosofi olahraga bukan hanya tentang kalah atau menang. Dalam olahraga, atlet atau olahragawan belajar tentang kerja keras, disiplin, saling menghargai, bahkan juga tentang saling membantu dan bekerja sama.

Sportivitas yang tinggi sangat dekat dengan dunia olahraga. Olahraga juga mengajarkan bahwa betapa pun hebatnya seorang atlet, dia tak akan lepas dari faktor nasib atau keberuntungan. FC Barcelona menyadari olahraga merupakan salah satu sarana pembentukan karakter (character building) anak.

Olahraga akan mengarahkan anak untuk tekun, berpikir positif, berdisiplin, dan berintegritas. Dalam spektrum yang lebih luas, proklamator kemerdekaan Indonesia, Bung Karno, menghubungkan olahraga dengan nation building.

Logikanya, jika anak mendapatkan character building yang mapan, terbiasa disiplin dan sportif, tentu lebih mudah membangun nation building. "Revolusi keolahragaan kita adalah sebagian daripada nation building Indonesia, revolusi kita untuk membentuk manusia baru Indonesia, antrapologis, rasial, adalah sebagian daripada nation building Indonesia. Pendek kata, Saudara, kita ini sekarang semuanya memikul tugas besar yang di dalam satu perkataan dinamakan nation building," kata Bung Karno dalam suatu pidato.

Saking pentingnya olahraga sebagai pembentuk nation building, Bung Karno memaksakan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 yang merupakan penyelenggaraan kali keempat. Dalam kondisi ekonomi yang belum mapan dan fasilitas masyarakat yang masih minim mengingat usia kemerdekaan yang baru 17 tahun, Indonesia memberanikan diri membangun kompleks olahraga di Senayan, Jakarta.

Proyek itu dianggap sebagai proyek mercusuar Bung karno kala itu, namun harus diakui hampir semua sarana olahraga itu masih digunakan hingga saat ini seperti Stadion Utama Gelora Bung Karno, Istana Olahraga (Istora) Senayan, stadion renang, Stadion Madya untuk atletik, dan sejumlah bangunan lain.

Semangat Asian Games 1962 lalu rupanya muncul lagi saat Indonesia untuk kali kedua menjadi tuan rumah pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ini. Jika 56 tahun lalu Indonesia meraih 21 medali emas yang merupakan perolehan tertinggi Indonesia sepanjang sejarah, sampai Minggu (26/8) sore, Indonesia telah meraih 12 medali emas. Raihan 12 medali emas kali ini merupakan capaian terbaik kedua setelah sukses 56 tahun lalu.

Bukan Menang-Kalah

Character building dan nation building bukan melulu tentang menang atau kalah. Menang atau kalah adalah hasil, sementara untuk menuju hasil diperlukan dedikasi, semangat, disiplin, kerja keras, dan pengorbanan.

Ungkapan ”hasil tak pernah mengkhianati proses” benar adanya. Dalam suasana pertandingan, menang atau kalah juga bukan segala-galanya. Penampilan penuh semangat dan perjuangan tak kenal lelah akan mendapatkan penghargaan tersendiri, meskipun pada akhirnya menerima kekalahan.

Pada Asian Games 2018 kali ini, kita sama-sama melihat para atlet Indonesia berjuang. Mungkin karena bermain di negara sendiri, para atlet tampil seolah-olah mempunyai tenaga ekstra, penuh semangat, tidak mudah menyerah.

Di cabang bulu tangkis, misalnya, meskipun Indonesia gagal merebut medali emas di nomor beregu putra, orang akan mencatat perjuangan Anthony Sinisuka Ginting yang berjuang tak kenal lelah melawan pemain nomor dua dunia, Shi Yuqi.

Ginting menang set pertama 21-14, kalah set kedua 21-23, dan menyerah pada set ketiga dalam kedudukan 21-20 untuk keunggulan Yuqi. Sebagian besar orang Indonesia, termasuk Presiden Joko Widodo, menganggap Ginting sebagai sosok juara karena usaha dan perjuangannya.

Ada sejumlah kecil warganet yang yang dengan bodoh menghina pemuda berumur 21 tahun ini. Aksi Shi Yuqi yang mendekati dan memberi simpati kepada Ginting juga menuai pujian. Perjuangan tim sepak bola Indonesia juga pantas dikenang, meskipun akhirnya mereka kalah melalui adu tendangan penalti dengan Uni Emirat Arab.

Semangat tak kenal menyerah bisa diterima oleh pendukung Indonesia dan tetap dihargai. Sejumlah prestasi mengejutkan juga muncul dari sejumlah cabang Olimpian atau cabang-cabang yang dilombakan di Olimpiade seperti tenis dan karate yang sama-sama mempersembahkan medali emas.

Tenis meraih emas melalui pasangan ganda campuran Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi. Karate mempersembahkan medali emas pada nomor -60 kg kumite putra melalui karateka Arrosyiid Rifki Ardiansyah.

Sementara prestasi Aries Susanti Rahayu di cabang panjat dinding dan Aqsa Sutan Aswar di cabang jet ski yang juga mempersembahkan medali emas bukan merupakan kejutan karena mereka adalah juara dunia.

Mata Pelajaran Utama

Sayangnya, prestasi menggembirakan pada Asian Games 2018 ini belum tentu bisa dipertahankan jika pesta olahraga ini digelar di negara lain. Indonesia perlu lebih serius mengelola dan membina olahraga mulai dari sekolah-sekolah jika ingin prestasi hebat ini berkelanjutan.

Salah satu pilihan yang bisa dilakukan antara lain menggelorakan pembinaan olahraga melalui sekolah, sejak bangku sekolah dasar. Sudah terbukti olahraga bisa menjadi sarana pembangunan karakter (character building) anak, maka ada baiknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadikan mata pelajaran olahraga bukan hanya sebagai pelengkap, namun sebagai mata pelajaran utama.

Harapannya, olahraga bukan hanya menjadi sarana bagi anak-anak untuk bermain dan bergembira, namun bisa meretas asa menjadi atlet pada kemudian hari. Bayangkan betapa banyak bibit atlet olahraga di seluruh Indonesia jika setiap sekolah mengembangkan pembinaan olahraga secara serius dan benar, didukung guru olahraga yang memahami ilmu kepelatihan.

Niscaya Indonesia akan menjadi super power di dunia olahraga dan muncullah kebanggaan baru sebagai bangsa. Di sisi lain, sportivitas yang terkandung dalam olahraga akan menuntun generasi muda bangsa ini terbiasa memahami perbedaan dan menghargai proses perjuangan. Inilah bagian dari nation building.

 

Tokopedia