Kurs Rupiah Terendah Sejak 2015, Pemerintah Anggap Biasa

Ilustrasi menghitung uang rupiah (Bisnis/Rachman)
27 Agustus 2018 04:30 WIB Rinaldi Mohammad Azka Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah kembali memasuki level terendah selama 3 tahun terakhir. Hal ini dianggap sebagai dampak dari eskalasi lanjutan perang dagang AS-China dan pemerintah Indonesia menilai itu hal yang biasa.

Akhir pekan lalu, Jumat (24/8/2019), dilansir Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup pada level Rp14.648. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan hal ini terjadi karena pelaksanaan tarif baru dari perang dagang AS dan China.

"Itu karena beberapa hari terakhir ini pelaksanaan tarif baru dari AS, sementara China juga sedang siapkan tarif baru, ya biasa market ramai, ya gonjang-ganjing lagi," ungkapnya kepada Bisnis/JIBI, Jumat (26/8/2018).

Darmin menilai dampak perang dagang AS-China semakin lama menjadi lebih ringan. Pasalnya, para investor sudah mulai mengukur dampaknya yang tidak terlalu signifikan.

"Dampaknya ke negara lain juga tidak banyak, jadi sudah, ya dampaknya engga bagus memang tapi ya itu dia situasi yang terjadi karena saling menambah yang dikenakan tarif antara mereka," jelasnya.

Sementara itu, Bank Indonesia mengklaim pelemahan rupiah tersebut masih lebih baik dari negara lain. BI pun tidak tinggal diam dan terus lancarkan usaha-usaha penguatan kurs.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan dalam menilai pelemahan kurs rupiah terhadap AS tidak bisa hanya dilihat dari pelemahan kurs saja. Menurutnya, pelemahan yang terjadi pada mata uang lainnya terhadap dolar AS juga perlu diperhatikan.

"Kalau kita lihat masalah stabilisasi nilai tukar jangan lihat rupiahnya sendiri, bandingkan dengan negara lain juga, gonjang ganjingnya kan seluruh dunia kena. Stabilitas nilai tukar kami sampaikan ytd relatif lebih rendah dari negara lain," jelasnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (24/8/2018).

Menurutnya, tingkat pelemahan nilai tukar relatif terkendali sejak awal tahun pelemahan sekitar 7%. Pelemahan ini lanjutnya, hampir sama dengan pelemahan Filipina, Peso. "Lebih rendah dari India 9% apalagi dibandingkan dengan South Africa [Afrika Selatan] hampir 13,7%, sementara Brazil sekitar 18,2%, Turki bahkan mencapai 40%," ungkapnya.

Dia pun mengklaim BI sudah melakukan berbagai langkah stabilisasi. BI baru saja mengambil langkah stabilisasi dengan suku bunga yang dinaikkan 25 basis poin menjadi 5,5% supaya terjadi capital inflow.

"Puji syukur, inflow sudah mulai kembali, pembelian SBN khususnya long term investor sudah mulai masuk, kemudian eksportir menjual dolarnya," ungkapnya.

Selain itu, BI juga memastikan intervensi ganda di pasar spot dan pasar sekunder terus dilakukan untuk menjaga stabilitas. Dia pun mengkhususkan BI pasti melakukan intervensi di pasar SBN (sekunder).

Terakhir, stabilisasi nilai tukar dilakukan dengan memastikan ketersediaan valas terjaga. Terkait hal ini, BI sudah mempermurah swap rate BI dan swap hedging.

"Kita komunikasi dengan korporasi, supaya swap rate tersedia dengan harga murah. Swap rate untuk 1 bulan, closing 4,71% untuk yang satu tahun 4,75%, itu sudah cukup murah," jelasnya.