Puisi Berhaji

Udji Kayang Aditya Supriyanto - Istimewa
26 Agustus 2018 15:51 WIB Udji Kayang Aditya Supriyanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (25/8/2018). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, pembaca buku dan penulis lepas yang tinggal di Jakarta. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Saya tak yakin semua orang mengenal Eddy D. Iskandar. Tengoklah film Dilan 1990 (2018). Film itu laris karena dibintangi artis muda sejuta umat, Iqbaal Ramadhan, tapi toh orang-orang tetap mengingat Pidi Baiq.

Alih wahana ke film tak menjadikan orang-orang lupa dari mana kisah asmara kaum muda berikut segala kata-kata gombal lugu nan wagu itu berasal. Eddy agaknya tak seberuntung Pidi. Sampai hari ini, padahal, Eddy adalah penulis yang novelnya paling banyak difilmkan di Indonesia.

Ketika menyebut nama Galih dan Ratna, orang-orang kebanyakan mengingat Rano Karno dan Yessy Gusman, alih-alih Eddy, penulis novel Gita Cinta dari SMA. Eddy bukannya tenggelam. Eddy tetap lestari, setidaknya di ingatan orang-orang yang masa mudanya dirayakan dengan membaca novel-novel Eddy.

Novel-novel itu seperti Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Roman Picisan, dan masih banyak lagi. Ingatan dan pengenalan kita memang terbatas. Eddy adalah novelis pop. Ia sebenarnya juga menulis puisi. Sekian puisi terhimpun dalam buku Senandung Bandung (1981) bersama penyair kondang Hamid Jabbar, Acep Zamzam Noor, dan lain-lain.

Puisi apik karangan Eddy pantas kita intip: kembang hilang dangiang/ layu digenggam seribu tangan/ bangunan berlomba ke angkasa/ didera pameran harga// kota dibelahan sanubari/ bawalah aku ke wajah dulu/ setelah menempuh perjalanan jauh/ mencumbu setiap musim.

Kota yang Luntur

”Kembang hilang” bukan yang dipakai Eddy untuk menggambarkan gadis cantik pujaan hati yang pergi, sebagaimana kiasan-kiasan yang sering terdapat di novel-novel pop karya dia. ”Kembang hilang” itu simbol Bandung yang luntur keindahannya. Puisi Eddy tak bicara persoalan asmara yang sepele, melainkan hendak menjelaskan kota.

Puisi-puisi Eddy itu menyiratkan keseriusan dalam bersastra. Eddy tak melulu memanjakan pasar lewat novel-novel pop laris, tapi juga puisi-puisi serius, kendati tak laris. Bukan hanya puisi berbahasa Indonesia, Eddy konon menulis puisi-puisi berbahasa Sunda, yang tentu saja segmen pasarnya jauh lebih sempit.

Berpuluh-puluh tahun berlalu sejak masa kejayaannya, Eddy tetap menulis. Kita berjumpa buku tipis bersampul tebal dengan judul Tanah Suci: Serangkaian Puisi Perjalanan Ibadah Haji (2013). Dari judul kita tahu itu buku puisi. Dari judul pula kita tahu puisi-puisi di buku itu bukan tercecer lantas dikumpulkan, namun memang ditulis sebagai puisi-puisi yang saling berkelindan.

Serangkaian puisi Eddy terbit dan disambut kalimat suci oleh Ketua Lembaga Studi Islam Baitul Mu’min dan pembimbing umrah, Laila Zahara. ”Subhanallah..., buku yang ditulis H. Eddy D. Iskandar ini tampil beda; puisi-puisi yang indah kaya makna, menyentuh qalbu, melembutkan hati, sehingga dapat menuntun pembaca memahami arti ’Duyufur Rahman’ (tamu-tamu Allah) secara hakiki,” demikian sambutan Laila.

Subhanallah, betapa indahnya bila pemahaman keagamaan didekati melalui puisi. Komentar Laila membikin pembaca berharap buku puisi Eddy kental nuansa keagamaan dan menyejukkan batin. Eddy menulis pengantar buku Tanah Suci dalam bentuk puisi.

Kutulis sejumlah puisi/ selama menunaikan ibadah haji/ dan ketika aku merindukan/ kembali ke Tanah Suci// Kutulis dalam telepon seluler/ setiap kali jiwaku bergetar/ saat aku terjaga sendirian/ di tengah malam// Semua perasaan mengalir/ deras membanjir/ kubiarkan terbaca/ seperti apa adanya// Aku tak lupa bersyukur/ bagi semua harapan/ yang jadi kenyataan// Alhamdulillah!

Kendati berupa puisi, pengantar Eddy cukup lugas mengungkapkan maksud serta proses kreatif penulisan puisi itu. Selain pahala, Eddy ogah pulang dari Tanah Suci cuma membawa air zamzam atau kurma, tapi juga puisi. Tak semua puisi ditulis di Tanah Suci.

Telepon Seluler

Beberapa puisi ditulis di perjalanan pulang atau setibanya di Indonesia, saat mengingat Tanah Suci. Semua puisi ditulis dalam telepon seluler, tepat pada saat Eddy merasakan getar-getar jiwa. Puisi ditulis saat itu juga. Puisi Eddy adalah kata-kata yang mengalir begitu saja dari getaran jiwa dalam berhaji.

Puisi Eddy bukan kata-kata yang tertib nan teratur secara estetika, selayaknya puisi pada umumnya. Kita menilik puisi Eddy berjudul Aku Melihat Ka’bah. Aku tak memiliki kekuatan untuk menahan tangis/ begitu pertama kali memandangmu/ entah perasaan apa yang bergejolak di hatiku/ talbiyah itu serasa merasuk ke dalam kalbu.

Jika dibandingkan puisi Eddy dalam Senandung Bandung, puisi itu jauh lebih lugas. Eddy tidak mau sibuk mencari metafora, ia cuma mengalirkan begitu saja rasa menjadi kata-kata. “Bismillaahi wallahu Akbar!”/ kalimat itu kuucapkan disertai lambaian/ dan kecupan telapak tangan kanan/ saat pandangan tertuju ke arah Hajar Aswad.

Puisi bagi Eddy bukan sekadar estetika lagi, melainkan penjaga ingatan dan doa berhaji. Tanah Suci tidak melulu bertokoh Eddy. Pada puisi Abdussalam, Eddy mengisahkan seorang kawan dalam perjalanan berhaji, yang wafat tiga tahun pascapuisi Eddy selesai ditulis.

Abdussalam Muthowif asal Balaraja, Tangerang/ melantunkan shalawat dengan lantang/ mengungkapkan kisah Rasulullah/ meninggalkan Makkah menuju Madinah/ melalui bahasa tutur yang bersahaja/ ia selalu membingkai babak demi babak/ dengan shalawat yang akrab di telinga/ “Habibbii ya Rasulullah/ Muhammad ibni Abdullah”.

Haji bukan sekadar perjalanan demi pertemuan dengan tanah suci, mendekati Tuhan dan tanah yang pernah diinjak nabi. Haji juga pertemuan dengan orang lain, dari berbagai penjuru dunia, yang sepakat menjadi umat. Akhirnya, sebagaimana Eddy membuka dengan puisi, ia pun menutup Tanah Suci dengan puisi.

Telah kuungkapkan/ apa yang kusaksikan/ apa yang kudengarkan/ apa yang kurasakan// Engkau akan terus mendengar/ luapan kisah dari Tanah Suci/ dan engkau akan merasakan gelombang kerinduan/ tiada henti. Haji adalah ibadah tersulit sebab untuk menunaikannya mesti benar-benar mampu: jiwa, raga, dan finansial.

Puisi mungkin ikhtiar Eddy untuk membayar lunas pengalaman berhaji. Ia ingin memperpanjang ingatan berhaji dengan menulis, alih-alih sekadar bercerita di hadapan warga kampung yang kerap menggelar acara khusus menyambut orang-orang pulang dari berhaji.

Tokopedia