Pertumbuhan Kubah Lava Merapi Makin Cepat

Panorama kawasan Gunung Merapi dari Pos Babadan Kabupaten Magelang, Jumat (1/6 - 2018). (Antara/Hari Atmoko)
26 Agustus 2018 17:00 WIB Sunartono Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Laju pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi kembali mengalami peningkatan tajam dibandingkan hari-hari sebelumnya. Selain itu aktivitas kegempaan juga cenderung meningkat. Namun Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTKG) belum akan menaikkan status merapi dengan alasan masih batas kategori waspada dan kubah lava dalam fase stabil.

Kepala BPPTKG DIY Hanik Humaida mengakui adanya peningkatan laju pertumbuhan kubah lava untuk pada Sabtu (25/7/2018) mencapai 6.000 meter kubik per hari. Pertumbuhan itu tergolong paling tinggi dibandingkan pada periode sebelumnya pada Rabu (22/8) di angka 4.600 meter kubik dalam sehari. Laju pertumbuhan sempat turun pada Jumat (24/8) di angka 2.600 meter kubik per hari. Adapun volume kubah lava terhitung pada Sabtu (25/8) sebanyak 32.000 meter kubik.

"Untuk laju pertumbuhan memang ada kenaikan tetapi masih stabil dan cenderung naik dan turun," terangnya kepada Harian Jogja, Minggu (26/8).

Ia mengungkap laju pertumbuhan itu dipengaruhi oleh komposisi gas yang ada di puncak. Dalam pekan ini pengukuran DOAS (differential optical absorption spectroscopy) menghasilkan nilai rata-rata emisi sulfur dioksida (SO2) puncak sebesar 77,33 ton per hari. Namun hanik menegaskan, emisi itu tergolong masih dalam kisaran normal.

"[perkembangan laju pertumbuhan] Bisa dipengaruhi oleh gas yang ada," katanya.

Sejumlah aktivitas kegempaan yang cenderung meningkat selama sepekan adalah low frequency (LF) atau getaran akibat peningkatan jumlah fluida, dalam hal ini gas vulkanik. Serta gempa guguran dan gempa embusan yang juga meningkat. Namun Hanik menegaskan, pihaknya belum berencana menaikkan status Merapi dan saat ini masih dalam posisi waspada atau level dua. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan ketika menaikkan status adalah kegempaan dan pertumbuhan kubah lava.

"Belum menaikkan, ya memang sudah di atas normal tetapi masih dalam posisi waspada. Kami akan lihat kegempaan dan laju pertumbuhan kubah lava seperti apa, sejauh ini masih stabil, tergolong kecil," ucapnya.

Kasi Gunung Merapi BPPTKG DIY Agus Budi Santoso menambahkan, selama sepekan kemarin, Merapi tercatat 46 kali gempa embusan, 12 kali gempa vulkano-tektonik dangkal, 29 kali gempa dalam fase banyak, 64 kali gempa guguran (RF), 52 kali gempa low frequency dan 40 kali gempa tektonik. Pengukuran EDM (electronic distance measurement) periode 17 hingga 23 Agustus 2018 untuk baseline RB1 atau posisi barat laut Merapi menunjukkan pemendekan nilai jarak tunjam sebesar tiga sentimeter per hari. Kemudian baseline di sektor selatan masih berfluktuasi dengan rata-rata jarak tunjam sebesar 6506,94 meter.

Adapun data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259,21 meter. "Rekomendasi kami tetap sama, radius tiga kilometer dari puncak Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk dan pendakian," imbuhnya.