Kiat Pemasaran Setelah Relokasi

Helti Nur Aisyiah - Istimewa
25 Agustus 2018 10:00 WIB Helti Nur Aisyiah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/8/2018). Esai ini karya Helti Nur Aisyiah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah aisyah76@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Spanduk bertuliskan ”PKL menolak penggusuran tanpa solusi” beberapa waktu lalu terpasang di beberapa lokasi sepanjang jalan belakang kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Maksud dari kata-kata yang tertulis di spanduk tersebut sebenarnya menunjukkan rasa keberatan terkait rencana penggusuran pedagang kaki lima (PKL) di kawasan itu oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Kini para PKL telah meninggalkan lokasi berjualan mereka itu. Maksud yang terkandung dalam kalimat di spanduk yang pernah terpasang tersebut akan mengundang dua opini warga Solo pada khususnya dan warga luar Solo pada umumnya. Warga Solo tentu sudah mengetahui maksud kata-kata di spanduk tersebut.

Tentu kala itu persepsi berbeda muncul dari warga luar Solo yang hanya melintasi jalan tersebut dan tak sengaja membaca spanduk itu. Ketika melihat dan membaca kalimat di spanduk bernuansa komplain tersebut, ada dua kemungkinan pemikiran pembacanya – pemikiran baik dan pemikiran tentang Pemerintah Kota Solo.

Pertama, warga berpikir positif bahwa pemerintah kota peduli terhadap kenyamanan pejalan kaki yang telah lama hilang karena area khusus pejalan kaki digunakan untuk berjualan oleh para PKL. Kedua, warga akan berpikir negatif bahwa pemerintah kota tidak peduli dengan nasib dan kelangsungan hidup para PKL.

Peristiwa penggusuran ini bukanlah kali pertama terjadi di sepanjang jalan di belakang UNS. Sebenarnya penggusuran pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada 2009. Kala itu para PKL diminta pindah dan diberi kesempatan berjualan di pasar di belakang Kantor Kecamatan Jebres yang memang sengaja disiapkan oleh pemerintah kota.

Sama halnya dengan tahun ini, Pemerintah Kota Solo juga menyediakan tempat sebagai solusi atas kebijakan penggusuran para PKL, antara lain di Pasar Panggungrejo dan Pasar Pucang Sawit. Penggusuran dan relokasi PKL pada 2009 sebaiknya dijadikan pelajaran bagi para PKL maupun pelaku usaha lain, minimal mengetahui, mulai belajar memetakan, mengelola, hingga mengatasi risiko yang akan terjadi suatu saat nanti.

Salah satu risiko terberat yang dihadapi oleh PKL adalah penggusuran, namun jika sudah siap menemrika risiko tersebut tentu tidak akan lagi merasa berat ketika benar-benar digusur karena telah memahami dan mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko tersebut.

Sebagai warga negara yang baik tentu akan selalu mendukung dan ikut menyukseskan program pemerintah, termasuk kegiatan yang dinilai akan merugikan diri sendiri, yaitu penggusuran dan relokasi PKL. Kebijakan Pemerintah Kota Solo yang jelas merugikan PKL memang tidak dapat dicegah lagi.

Teknologi Digital

Hal ini karena sudah menjadi keputusan yang tentu melalui pertimbangan yang banyak dan berulang-ulang. Oleh karena itu, jalan satu-satunya menghadapi kejadian pahit ini hanyalah dengan mengikuti arahan Pemerintah Kota Solo: pindah. Mau tetap bertahan pun tiada guna, apalagi hanya berdiam diri meratapi nasib sementara ada keluarga yang harus dan tetap diperjuangkan.

Salah satu ketakutan terbesar PKL adalah kehilangan pelanggan, namun pada era global dan digital saat ini ketakutan tersebut tidak seberat pada masa lalu. Para pelaku usaha yang menjadi ”korban” kebijakan pemerintah kota dapat memaksimalkan kecanggihan teknologi terkini guna menemukan teknik pemasaran yang ekonomis, efektif, dan efisien.

Hanya berbekal smartphone di genggaman tangan, pemasaran bisa dengan mudah dilakukan. Seturut perkembangan teknologi, hal yang paling mudah dilakukan oleh PKL untuk menarik kembali para pelanggan agar tetap belanja di kios atau lapak mereka adalah dengan memaksimalkan penggunaan media sosial dan market place.

Menggunakan pemasaran berbasis teknologi informasi tersebut jelas membutuhkan kuota data Internet. Bagi sebagian orang, kuota masih terbilang mahal. Jika ini benar, solusinya dapat menggunakan fasilitas jaringan wireless fidelity atau wifi. Pemerintah Kota Solo dapat menfasilitasi dan memaksimalkan fungsi wifi bagi PKL yang bersedia pindah ke tempat relokasi yang telah disediakan.

Jika ada kendala personal, wifi dapat diperoleh dari kampus UNS yang notabene penyedia wifi dengan status public access sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Kalau memang masih terdapat kesulitan lagi, ini menjadi peluang bagi para akademisi untuk melakukan pendampingan sebagai wujud pemenuhan tri darma perguruan tinggi.

Jadi, sinergi antarkalangan masyarakat memang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan, yaitu kawasan jadi bersih dan area khusus pejalan kaki kembali pada fungsinya serta PKL tetap berjaya di tempat yang baru. Pada masa transisi–pindah dari tempat lama ke tempat baru--ada kemungkinan terjadi penurunan jumlah pelanggan, kecuali pelanggan yang benar-benar mementingkan kualitas dan silaturahmi antara pembeli dan penjual yang terjalin sejak lama.

Kadang-kadang loyalitas konsumen tidak perlu diragukan. Di mana pun penjual pindah, toko, kios, atau lapak tersebut akan selalu dicari. Penurunan jumlah pelanggan atau pembeli memang cukup mengkhawatirkan, namun kekhawatiran tersebut dapat segera diantisipasi dengan gencar beriklan secara manual maupun digital.

Kini memang masa teknologi digital, tetapi cara manual sebaiknya tetap dilakukan. Cara manual bisa dilakukan dengan memasang tulisan alamat baru di tempat lama, menyebarkan brosur, hingga sosialisasi mouth to mouth.

Kalau pemasaran dengan pendekatan manual dan digital dilakukan semua, tinggal menunggu hasilnya. Hasil dari usaha-usaha yang telah dilakukan tentu tidak terlepas dari ”tangan” Tuhan. Yang terpenting adalah berusaha maksimal, biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya.

Tokopedia